Petisi
OPINI

Demagog Punya Selera

Oleh : Yunanto*

Sosok demagog bisa pria bisa wanita. Ia punya “selera aneh” dalam konotasi negatif. Menebar kebohongan, menabur fitnah, menyemai kebencian, mengadu domba, menyuburkan konflik dan agitasi, merupakan sebagian kepiawaian demagog.

Nyaris di setiap negara ada demagog. Keberadaannya telah berabad-abad silam. Jauh sebelum zaman Yunani Kuno sampai sekarang. Kiblat demagog selalu kepentingan; dan “Tuhannya” adalah kekuasaan. Demagong yang tersohor, antara lain Adolf Hitler (Jerman) dan Benito Mussolini (Rusia).

Istilah demagog berasal dari bahasa Yunani, demos dan agogos. Demos berarti rakyat. Agogos berarti pemimpin yang berperilaku negatif, atau pemimpin yang menyesatkan demi kepentingan pribadi/kelompoknya.

Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), demagog dimaknai sebagai penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan.

Lantaran dalam terminologi demagog terkandung makna “pemimpin”, maka ia lazimnya adalah sosok figur publik, punya massa pengikut, punya kekuatan finansial dan jaringan pendukung.

Tak pelak lagi, sosok demagong punya kekuatan menggerakkan massa (rakyat) dengan target meraih kekuasaan. Hal luar biasa lainnya, ia punya daya mengeksploitasi prasangka, menghasut, memanfaatkan ketidaktahuan massa, memicu kebencian plus menumbuhkan amarah massa (rakyat).

Semakin jelas, demagog adalah agitator-penipu yang seolah-olah memperjuangkan rakyat, padahal sesungguhnya demi kekuasaan untuk dirinya. Demagog biasanya menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih, tapi kalau sudah terpilih tidak peduli lagi pada rakyat.

Bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatasnamakan rakyat untuk mengeruk keuntungan pribadi (Mahfud MD, Majalah GATRA, 2007).

         * * * * *

Teknik Demagogis

Dosen Program Pascasarjana Filsafat UI, Haryatmoko, menyebut ada  tiga mekanisme teknik demagogis. Pertama, tenik kambing hitam. Segala masalah dicarikan kambing hitamnya sedemikian rupa, sehingga timbul kebencian terhadap kelompok tertentu (yang dibidik). Kebencian itu terus ditumbuhkan, dipelihara, bahkan diperdahsyat intensitasnya.

Kedua, teknik argumen ad hominem dengan modus menyerang pribadi seseorang (lawan politik) dengan penuh rasa kebencian.

Ketiga, teknik skematisasi dengan modus menyederhanakan gagasan atau pemikiran agar memiliki efektivitas sosial sampai menjadi opini dan keyakinan untuk memunculkan wacana kebencian pada pihak tertentu (Haryatmoko, “Etika Politik dan Kekuasaan”, KOMPAS, 2003).

Dari beberapa sumber dan referensi, antara lain dari “Demagogue Wikipedia – AR”, penulis mencatat ada 11 (sebelas) teknik atau metode demagogik yang lazim dilancarkan para demagog di berbagai negara.

Pertama, mengkambinghitamkan lawan. Ini “jurus dasar” dari teknik demagogik.

Kedua, teknik fearmongering atau scaremongering, yaitu  menyebarkan desas-desus yang menakutkan dan berlebihan secara sengaja untuk membangkitkan rasa ketakutan publik tentang sesuatu masalah.

Ketiga, teknik berbohong. Teknik ini dilancarkan sebagai aksi lanjutan atas kritiknya kepada pihak lawan agar muncul efek emosi. Saat satu kebohongan gagal, demagog segera pindah ke kebohongan yang lain.

Keempat, teknik orasi yang menggugah hati audien. Demagog dalam teknik ini menampilkan pribadi yang berkharisma dengan kemampuan orasi bagai singa podium, orator mumpuni. Adolf Hitler contohnya.

Kelima, teknik menuduh lawan terlalu lemah dan tidak punya loyalitas pada negara. Dalam teknik ini para demagog lazimnya meneriakkan sosok pemimpin harus keras dan tegas. Berbelas kasihan tanda kelemahan.

Keenam, teknik menjanjikan sesuatu yang mustahil. Target dari teknik ini membangkitkan efek emosional massa, tanpa didukung rasionalitas data.

Ketujuh, teknik kekerasan dan intimidasi fisik. Lewat teknik ini demagog mendorong pendukungnya untuk mengintimidasi lawan. Targetnya memperkuat kesetiaan pendukung dan memperlemah penentang.

Kedelapan, teknik penghinaan dan ejekan pribadi. Teknik menghina lawan ini adalah cara sederhana dengan modus memberikan julukan tertentu pada lawan secara berulang-ulang. Targetnya mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting menjadi canda-tawa, gurauan.

Kesembilan, teknik perilaku vulgar dan keterlaluan di luar norma-etika. Dalam teknik ini demagog melancarkan penghinaan pada lawan sedemikian “dahsyat” untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak akan bisa dipermalukan atau diintimidasi lawan.

Kesepuluh, teknik penyederhanaan masalah secara berlebihan. Dalam teknik ini demagog melanjutkan teknik kambing hitam secara lebih “kencang” dengan cara meremehkan atau menyepelekan masalah sulit dan serius yang sedang dihadapi publik atau rakyat.

Kesebelas, teknik menyerang media massa. Teknik ini dilancarkan saat informasi di media massa dianggap berpotensi menggerogoti “mantra demagogis” yang telah tertanam di benak para pengikut/pendukung demagog. Modusnya, mengecam media massa yang gencar mengritik dirinya dengan menyebut media massa dimaksud sebagai antek pihak tertentu.

          * * * * *

Hak Publik

Setelah mengetahui “siapa” dan “bagaimana” demagog beraksi, penulis sudah pasti tidak akan memastikan ada demagog di NKRI tercinta dan siapa saja mereka.  Terlebih pada tahun politik sekarang.

Penulis tahu diri. Barang siapa mendalilkan, dia wajib membuktikan. Begitu aksioma hukumnya. Namun demikian, penulis berpandangan publik perlu tahu ihwal  demagog dan teknik-teknik demagogis tersebut.

Pengetahuan itu berguna bagi publik untuk mendeteksi apakah suatu “aksi tertentu” yang dilakukan seseorang pemimpin atau figur publik masuk kategori produk demagog atau bukan.

Lewat pengetahuan tersebut publik punya hak menganalisis dan menyimpulkan secara jernih dan arif, jika ada atau terasa ada “aksi demagogis”. Pada gilirannya publik bisa diharapkan tidak “termakan” aksi demagog.

Akhirnya, publik pun bereaksi atau bertindak rasional. Tidak terpancing melakukan hal negatif, terlebih lagi berperilaku anarkhis. Semoga.☆☆

*)Penulis adalah jurnalis (1982-2014); alumni Sekolah Tinggi Publisistik –  Jakarta; berdomisili di Pakisaji, Kabupaten Malang.

terkait