Petisi
OPINI

Fenomena, Tradisi dan Memaknai Pergantian Tahun

Oleh : Elsa Annisa Jannah*

Selama bumi masih terus berputar, maka pergantian tahun itu akan tetap terjadi. Tidak bisa dipungkiri, karena yang demikian itu adalah fenomena alamiah atau menjadi hukum alam.

Begitu pula halnya dengan tahun 2018 ini. Prosesi pergantian tahun kali ini tidak lagi menunggu bulan, tetapi hanya menunggu beberapa hari untuk menyaksikan pergantian tahun ini. Pergantian tahun merupakan peristiwa biasa yang seperti halnya pergantian siang dengan malam.

Pergantian tahun kali ini akan disambut meriah oleh umat manusia di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Perayaan pergantian tahun identik dengan kemeriahan pesta kembang api, suara mercon, dan berbagai kegiatan semarak lainnya di berbagai belahan penjuru dunia.

Hal serupa tidak hanya terjadi di luar negeri saja, kemeriahan yang sama juga terjadi di berbagai kota yang ada di Indonesia.

Masyarakat tampak begitu antusias dalam menyambut perayaan pergantian tahun 2018, baik anak-anak, remaja atau orang muda, maupun orang dewasa. Perayaan tahun baru seakan menjadi hari besar internasional  yang ditunggu-tunggu oleh masyrakat di seluruh belahan dunia.

Tidak sedikit orang yang mengambil cuti kerja hanya untuk merayakan pergantian akhir tahun baru bersama keluarganya. Bahkan ada juga yang rela menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk menyemarakkan perayaan tahun baru bersama teman atau keluarga.

Hal itu memang terlihat manusiawi atau wajar, karena momen perayaan pergantian tahun ini hanya dilakukan satu tahun sekali. Jadi, tidak heran jika ada orang yang rela mengeluarkan banyak uangnnya demi mendapatkan kesenangan atau kepuasan batin dalam momen perayaan tahun baru ini.

Selain itu, momen pergantian tahun juga dijadikan acuan bagi beberapa orang untuk membuka lembaran baru dan semangat baru dalam menjalankan aktifitasnya di awal tahun baru. Pergantian tahun semata tidak hanya pergantian atau pertambahan angka saja, namun bagi setiap orang mempunyai makna atau arti tersendiri.

Namun, tidak semua masyarakat Indonesia bisa ikut memeriahkan perayaan pergantian tahun ini. Ada kota yang dilarang memeriahkan pergantian tahun ini, yaitu Banda Aceh. Pemerintah Aceh melarang keras masyarakatnya untuk ikut memeriahkan pergantian tahun tersebut. Hal ini dikarenakan Aceh yang terkenal dengan kota “Serambi Makkah” dan berpegang teguh oleh ajaran Islam.

Dalam suatu perayaan pasti terdapat makna tersendiri. Perayaan pergantian tahun sepertinya sudah menjadi tradisi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sehingga tidak heran jika momen pergantian tahun ini dieluh-eluhkan oleh masyarakat, terutama di kalangan remaja.

Namun, perlu digaris bawahi,  bahwa perayaan pergantian tahun jangan dianggap atau diartikan sebagai malam perayaan besar. Banyak hal lain yang dapat kita lakukan untuk ikut memeriahkan pergantian tahun.

Tidak selalu dengan kemeriahan pesta kembang api, suara mercon, dan kegiatan semarak lainnya. Selama ini banyak orang yang beranggapan, bahwa perayaan tahun baru merupakan perayaan besar, itu pemikiran yang salah.

Penyambutan tahun baru tidak harus kita rayakan dengan berfoya-foya, dengan pesta kembang api, dan lain sebagainya. Namun, dengan kita membaca Al-Quran bersama keluarga atau teman, bersedekah dengan anak yatim, serta membuat acara syukuran kecil-kecilan, itu juga merupakan cara kita untuk menyambut pergantian tahun.

Hal terpenting yang harus diluruskan dalam penyambutan tahun baru yaitu, cara kita memaknai pergantian tahun ini. Pada pergantian tahun ini, gunakanlah untuk merenungi kekurangan, kesalahan, serta kegagalan-kegagalan di tahun sebelumnya, agar kita bisa lebih baik ke depannya.

Jika kita merasa butuh masukan dari teman, kita juga bisa bermain tukar kritik dengan teman kita. Dari situlah nanti kita akan tahu kekurangan-kekurangan kita, sehingga kita bisa memperbaikinya di tahun baru ini.

Di tahun baru ini, kita bisa menyusun terget dan harapan-harapan baru untuk mencapai masa depan. Kita juga bisa mempersiapkan diri kita untuk menghadapi tantangan-tangan baru yang akan datang menguji kita. Itulah makna tahun baru yang harus ditanamkan dalam diri masing-masing pribadi individu. Bukan malah memaknainya dengan cara berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang saja.

Maka, tak perlu besedih atau berkecil hati jika anda tidak bisa merayakan tahun baru dengan berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang, serta dengan kemeriahan pesta kembang api. Masih ada cara lain untuk menyambut pergantian tahun ini, seperti membaca Al-Quran bersama keluarga, bersedekah dengan anak yatim, dan membuat syukuran kecil-kecilan bersama keluarga dan kerabat.

Menurut saya, itu lebih berfaedah daripada harus berfoya-foya. Cobalah kita menganbil hikmah dan membambandingkan sisi potif dan negatif dari perayaan pergantian tahun.

Sesungguhnya, ketika anda berpikir dewasa dan bersikap bijak dalam menyambut pergantian tahun, maka andalah yang paling beruntung dibandingkan dengan orang yang menyambut pergantian tahun dengan hiburan-hiburan yang tidak jelas, menghambur-hamburkan uang, dan pesta kembang api sampai larut malam hanya untuk memenuhi kesenangan, serta kepuasan batin mereka saja.

Jadi, pandai-pandailah dalam menyikapi atau menyambut pergantian tahun. Sambutlah pergantian tahun dengan hal-hal yang positif dan berfaedah atau bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain. Berikanlah dampak baik kepada orang di sekeliling kamu dalam menyambut pergantian tahun ini. Selamat Tahun Baru 2019

*)penulis adalah mahasiswa S1 Jurusan Fisioterapi Fakultas Kesehatan Universitas Muhamadiyah Malang

 

terkait