Gelar Diskusi, Asrama Mahasiswa ‘Dikepung’ Aparat

  • Sabtu, 7 Juli 2018 | 00:20
Gelar Diskusi, Asrama Mahasiswa ‘Dikepung’ Aparat
Suasana di luar asrama mahasiswa, yang dijaga aparat.

SURABAYA, PETISI.CO  – Ratusan aparat gabungan TNI, Polri dan Satpol PP ‘mengepung’ (baca;mendatangi) asrama yang terletak di jalan Kalasan No 10 Surabaya, Jumat (6/7/2018) malam.

Asrama itu, dihuni ratusan mahasiswa dan alumni mahasiswa asal luar pulau Indonesia timur, dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

Aparat terpaksa mendatangi asrama mahasiswa itu sejak pukul 20.00 hingga 22.00 Wib, karena mencurigai ada kegiatan yang terselubung.

Di dalam asrama, mereka menggelar diskusi dan hendak memutar sebuah film  lokal di daerah mereka, di malam hari.

Pantauan petisi.co, suasana tegang terlihat di luar asrama. Camat Tambaksari, Ridwan Mubarun bersama Kapolsek Tambaksari, Kompol Prayitno yang ingin masuk asrama, dihadang puluhan mahasiswa.

Pintu pagar halaman dikunci rapat. Di luar pagar halaman, terjadi dialog antara polisi dengan pengacara dari Kontras Surabaya yang melakukan pendampingan mahasiswa.

Jalan masuk Kalasan ditutup. Kendaraan yang ingin melewati jalan Kalasan dialihkan ke jalan Prambanan.

Sementara di halaman, ada gelaran nonton bareng (nobar) piala dunia yang ditonton mahasiswa asal Indonesia timur itu. Sesekali terdengar teriakan mahasiswa dalam bahasa daerah mereka.

Aparat menduga acara nobar hanya dijadikan kedok belaka. Sebab, sebelum nobar digelar, mahasiswa  tersebut sempat mengadakan diskusi yang menghadirkan nara sumber dari luar.

“Mungkin saja nobar itu hanya sebagai kedok saja. Buktinya, mereka melarang Pak Camat masuk ke dalam asrama. Ini ada apa,” kata salah seorang polisi berpakaian preman.

Kapolsek Tambaksari, Kompol Prayitno mengaku, aparat mendatangi asrama mahasiswa itu , sebagai antisipasi peristiwa di Malang tak terjadi di Surabaya. Sebab, di asrama mahasiswa  itu telah digelar diskusi dan ada rencana memutar film lokal daerah mereka.

“Info yang kami terima, mereka mengumumkan akan memutar film daerah asal mereka lewat media sosial (medsos). Sehingga, kita mendatangi asrama sebagai antisipasi,” ujarnya.

Namun, rencana memutar film tersebut batal dilaksanakan dan diganti dengan nobar Piala Dunia. “Kalau diskusinya tetap berlangsung,” jelasnya.

Pihaknya berharap seluruh mahasiswa  asal Indonesia timur yang tinggal di asrama taat hukum. Mereka harus memiliki identitas yang jelas, termasuk KTP.

“Yang perlu diantisipasi ada orang yang bukan mahasiswa di dalam asrama itu,” tandasnya.(bm)

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional