Hj. Nina Soekarwo, Ibunya Warga Jawa Timur

  • Reporter:
  • Kamis, 21 Desember 2017 | 19:39
Hj. Nina Soekarwo, Ibunya Warga Jawa Timur

Catatan Hari Ibu 22 Desember*

Dalam rangkaian Puncak Peringatan HKSN 2017 di Lapangan Makodam V Brawujaya, 20 Desember kemarin, Ketua TP PKK Provinsi Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi menerima penghargaan tanda kehormatan Satya Lencana Kebhaktian Sosial.

Pemberian penghargaan ini mengacu pada Surat Keputusan Presiden RI No. 126/TK/Tahun 2017 dan diserahkan oleh Menteri Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Puan Maharani yang didampingi Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Gubernur Soekarwo.

Penghargaan tersebut dianugerahkan kepada tokoh atau warga negara Indonesia yang telah sangat berjasa dan berbakti kepada bangsa dan negara.

Penghargaan yang diterima Budhe Karwo di atas hanyalah salah satu penghargaan dari sekian banyak penghargaan yang diterima Budhe selama mendampingi Gubernur Jatim  Soekarwo.

Bukanlah waktu yang singkat bagi Ny Hj Dra Nina Soekarwo, MSi mendampingi suami menjadi Gubernur Jatim selama hampir dua periode.

Banyak kisah yang bisa dijadikan pelajaran berikut inspirasi bagi siapa saja yang mau belajar dari sosok yang biasa dipanggil Budhe Karwo  ini. Bukan saja bagi mereka yang kebetulan menjadi istri kepala daerah, atau istri pejabat di pemerintahan, tetapi sesungguhnya juga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja perempuan di Jawa Timur yang ingin belajar dari Budhe Karwo.

Termasuk bagi perempuan-perempuan biasa yang memilih berkarier di sektor domestik alias menjadi seorang ibu rumah tangga.

Memandang seorang Nina Soekarwo tentu tidak hanya dipandang sebagai seorang perempuan dengan bertumpuk jabatan penting di berbagai bidang baik sosial, ekonomi, pendidikan dan sektor sektor lain.

Nina Soekarwo adalah seorang perempuan yang menjadi ibu dan istri dalam payung kehidupan keluarga. Dengan demikian, sejatinya banyak juga pelajaran yang bisa dipetik dari cara Budhe karwo menata dan mengelola kehidupan tumah tangga.

Berkaca pada Budhe Karwo, maka sungguh tidak ada alasan lagi bagi seorang perempuan untuk meninggalkan peran seorang ibu hanya dengan berdalih sibuk dengan kegiatan di luar rumah.

Budhe Karwo sudah menunjukkan bahwa meskipun punya kesibukan dan aktivitas yang luar biasa diluar rumah, namun tetaplah ketika memasuki kehidupan rumah tangga akan menjadi seorang ibu bagi putra-putrinya dan menjadi istri yang hangat bagi sang suami.

Hj. Nina Soekarwo, MSi menerima penghargaan tanda kehormatan Satya Lencana Kebhaktian Sosial.

Menjadi Pendamping Suami

Sejatinya, menilai sosok Nina Soekarwo di lingkungan pemerintahan tidak bisa kalau hanya dimulai ketika menjadi istri Gubernur sepuluh tahun yang lalu.

Namun harus harus juga dibaca peran-perannya selama mendampingi sang suami saat meniti karier di Pemprov Jatim sehingga akhirnya menjadi seorang Gubernur Jatim.

Tidak berlebihan kiranya kalau ungkapan seorang laki-laki yang hebat, pasti karena ada seorang yang hebat disampingnya. Namun ungkapan itu rasanya juga tidak cukup untuk melukiskan peran penting seorang Nina Soekarwo.

Mengapa? Karena Nina Soekarwo bukan hanya menjadi seorang perempuan yang berada di balik layar untuk menjadi spirit dan inspirasi bagi sang suami dalam berkarya.

Namun, Nina Soekarwo adalah juga seorang yang berani tampil di atas panggung untuk memperkuat apa yang dilakukan oleh seoarang suami.

Jadi peran istri bukan hanya menjadi seorang pendamping yang setia menemani dan mendorong sang suami menunaikan tugasnya secara baik.

Tetapi Nina Soekwaro juga menjadi mitra pemerintah dengan berbagai inovasi dan program yang disusun melalui lembaga yang dipimpinnya untuk ikut serta mendukung dan melengkapi tugas suami sebagai kepala daerah.

Banyak program-program yang lahir dan sekaligus dikerjakan Nina Soekarwo dalam rangka mendukung program pembangunan Jawa Timur.

Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK, misalnya, banyak program-program PKK yang dikonsepsikan untuk ikut serta menyelesaika persoalan pembangunan di Jawa Timur. Contohnya adalah konsep Taman Posyandu holistik integratif yang dikampanyekan Budhe Karwo.

Melalui lembaga TP PKK, Budhe Karwo menunjukkan citra diri seorang perempuan yang bukan hanya lihai dalam mendorong dan memovitasi suami. Tetapi juga sekaligus menjadi pemain utama dalam berperan serta dalam mengatasi persoalan pembangunan.

Seperti bagaimana menekan angka angka kematian ibu dan bayi (AKI dan AKB),  menggerakkan kader PKK untuk mendampingi Ibu hamil miskin dan resiko tinggi, ikut memberi perhatian sekaligus mendorong terhadap pengarusutamaan gender (PUG).

Juga sebagai  motivator paliatip terhadap penderita kanker stadium lanjut, hingga memiliki kepedulianyang tingggi tinggi terhadap lansia dan sebagainya.

Singkatnya prestasinya bidang kemanusiaan sangat banyak dan  komitmen Budhe  sangat tinggi dalam hal membantu orang miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS).

Nah berangkat dari itulah kemudian sebuah tim independen  mengusulkan Bude Karwo untuk mendapatkan anugerah satya lencana kebaktian sosial.

Bahwa diluar prestasi itu, Budhe juga masih memiliki energi yang besar untuk menggarap sektor yang strategis dalam pembangunan di Jatim, misalnya  ikut mencerdaskan warga Jawa Timur dalam program gemar membaca.

Bahkan atas dedikasi Bude Karwo dalam meningkatkan aktivitas gemar membaca, Bude pernah mendapat penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka 2014 dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.

Diterimanya penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka oleh Bude Karwo tak lepas dari kegigihannya membangun berbagai terobosan yang luar biasa dalam usaha mencerdaskan anak bangsa, khususnya di bidang perpustakaan.

Peran tidak kalah menterengnya juga disematkan Bude Karwo untuk ikut menggerakan sektor ekonomi.

Dalam industri kreatif misalnya, Bude Karwo memperoleh apresiasi, dengan diberikan penghargaan Bintang Puspayoga karena keberhasilan pengembangan berbagai sisi melalui lembaga binaan Dekranasda Jatim, yaitu melakukan pembinaan terhadap batik Gedog Tuban, baik dari ketersediaan bahan baku, motif, dan ciri khasnya yang unik sampai proses pembuatannya.

Di era pasar bebas ASEAN, Gedog Tuban bisa menjadi tumpuan harapan keberlangsungan kain-kain tradisional Indonesia yang tengah menghadapi gempuran.

Dengan kata lain, bangkitnya industri ini juga bermakna harapan agar para pengrajin UKM di Jatim untuk lebih meningkatkan produktivitasnya di masa mendatang.

Dan sungguh tidak cukup lagi kalau harus dituliskan lagi apa yang telah diraih Budhe Karwo selama ini.

Pesan terpentingnya adalah, bahwa Budhe Karwo sebagai ibunya masyarakat Jatim sesungguhnya telah memberikan contoh berikut inspirasi bagi perempuan-perempuan khususnya di  Jawa Timur.

Bukan saja memberi tauladan, bagaimana seorang perempuan bisa berkarya dan berinovasi melalui berbagai wadah dan lembaga yang ada, tetapi Budhe Karwo juga ikut membukakan layar besar bagi perempuan-perempuan di  Jatim untuk bisa berperan di pembangunan Jatim.

Kegigihannya dalam mendorong pengarusutamaan gender membuktikan komitmennya dalam mendorong perempuan untuk tampil di depan panggung.

Kepeduliannya dalam membangkitkan koperasi-koperasi wanita di Jatim juga semakin menegaskan betapa perempuan di  Jawa Timur bisa berperan signifikan dalam pembangunan.

Semoga di momentum Hari Ibu ini, kita para perempuan semakin menyadari betapa banyak yang bisa kerjakan dan abdikan dalam ikut serta berperan dalam pembangunan. Selamat Hari Ibu!

*ditulis oleh biro humas dan protokol pemprov. jatim

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional