Ini Kata Bupati Dedi Mulyadi Soal Memburuknya Toleransi Beragama Akhir-akhir Ini

  • Rabu, 8 Februari 2017 | 19:51
Ini Kata Bupati Dedi Mulyadi Soal Memburuknya Toleransi Beragama Akhir-akhir Ini
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dalam diskusi publik bertema Aksi 212 dan Kuda Troya Demokrasi, di kawasan Cikini Jakarta Pusat

JAKARTA, PETISI.CO – Negeri ini dinilai durhaka kepada para pendiri bangsa, menyusul memburuknya toleransi beragama akhir-akhir ini. Penilaian itu disampaikan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dalam diskusi publik bertema Aksi 212 dan Kuda Troya Demokrasi, di kawasan Cikini Jakarta Pusat,Rabu (8/2/2017) siang.

Menurut Dedi, kalangan intoleran justru menganggap agama dan kebudayaan bangsa sendiri sebagai kaum pendatang dan agama baru.

“Padahal mereka adalah keyakinan asli nusantara. Makanya saya bilang negeri ini sudah durhaka,” ujar sosok yang lebih suka disebut penggiat pluralisme.

Dedi menyebut, pluralisme yang kini terancam di beberapa daerah terjadi bukan hanya antar agama, namun perbedaan madzhab. Perbedaan itu sering menjadikan konflik internal. Karena itulah Dedi terdorong menerbitkan surat edaran di Purwakarta perihal kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Hal senada juga disampaikan pengamat politik, Boni Hargens yang menyebut jika kelompok-kelompok intoleran seperti Front Pembela Islam justru bersikap tidak menghargai perbedaan yang umumnya dilakukan orang Islam. Padahal, kaum Islam pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia justru meletakkan perbedaan sebagai kekayaan bangsa Indonesia yang mesti di akui, di hormati, di jaga dan di junjung bersama-sama.

“Umat islam yang berjuang membentuk bangsa ini adalah Islam yang toleran, memahami perbedaan yang menjadi kekayaan negara kita. Sedangkan Riziek justru menentang perbedaan itu, menentang  prinsip Islam yang inklusif, maka dalam konteks ini saya katakan Rizieq bukanlah Islam,” papar Boni.

Boni menyebut, Riziek mengalami kesulitan memilah Islam dan garis keras. Ancaman toleransi beragama dalam kurun waktu terakhir ini adalah persoalan garis keras dan bukan persoalan Islam.

“Jangan menyatukan Islam dengan garis keras, karena musuh kita adalah garis keras yang tidak menghargai perbedaan di negara kita,” tegasnya.

Dirinya  berharap, nasib bangsa ini jangan ditentukan untuk pilkada semata. Karena itulah Indonesia butuh pemimpin yang betul-betul nasionalis.

“Ada Risma di Surabaya, Ganjar di Jawa Tengah dan Kang Dedi di Purwakarta untuk menjaga keberlangsungan Negeri ini,” kata Boni mengakhiri diskusinya. (sdk)

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional