Kisah Seniman Musik di Balik ‘Banyuwangi Ethno Carnival Majestic 2017’

  • Reporter:
  • Senin, 13 November 2017 | 00:26
Kisah Seniman Musik di Balik ‘Banyuwangi Ethno Carnival Majestic 2017’
Seniman Musik ‘Banyuwangi Ethno Carnival Majestic 2017’

BANYUWANGI,  PETISI.CO – Usai sudah pagelaran BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) Sabtu (11/11/2017), dengan digelarnya “Masjestic Ijen”. BEC merupakan salah satu event tahunan yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival.

Selama ini, BEC  memasuki tahun ke tujuh, dari tahun ke tahun, tema yang digunakan selalu berbeda beda. Sejak dimulainya BEC di Banyuwangi digelar pada tahun 2011, BEC membawakan beberapa tema yang berhasil mengangkat kearifan lokal yang dimiliki Banyuwangi.

Dimulai dari BEC 1 mengangkat tema Gandrung, Damarwulan, Kuntulan, BEC  2 re-Barong, BEC 3 Kebo-keboan, BEC 4 The Mistic Dance Of Seblang, BEC 5 Kemantin Using, BEC 6 The Legend of Sritanjung – Sidopekso, dan BEC 7 ini mengangkat tema Majestic of Ijen.

Event ini tergolong sukses dalam menyelenggarakan BEC, dan semua mempunyai kesan tersediri bagi para seniman musik yang mengiringi para peserta BEC.

Semua itu dirasakan oleh para seniman musik yang membidangi sebagai seksi tarik suara yang ikut andil dalam pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival itu. Dia  adalah Pieter Yulivianou dan Fenty Corry Aquino.

Dia tergolong orang yang beruntung menjadi salah satu bagian yang dapat mengisi acara dengan kemampuan tarik suaranya. Tidak mudah untuk menjadi seseorang pengisi acara di BEC pada tahun ke tahun. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan acara supaya sukses, semua itu sudah dipersiapkan oleh ke dua orang tersebut yang akrab dipanggil Pieter dan Neno itu.

Tentunyanya, sebelum hari H pelaksanaan BEC jauh jauh hari telah dipersiapkan, mulai seleksi pemilihan para musisi/panjak, mengaransement music, memilih lagu sekaligus latihan dan selanjutnya recording musik.

Selama tiga bulan lamanya, dirinya menekuni agar sukses dalam event BEC itu. Berkat kerja keras dari seniman music yang diaransement langsung oleh Nanang Ariyanto, akhirnya membuahkan beberapa lagu untuk mengiringi para peserta BEC..

Beberapa lagu tersebuat yakni kategori lagu daerah antara lain; Lagu Petek-petek suku, Uki uki, Banyuwangi, dan Banyuwangi. Untuk kategori umum antara lain; Jamrud Katulistiwa, Lestari Alamku dan Burung Camar. Untuk kategore lagu barat antara lain; sky full of star.

Dari semua musik yang telah diaransement ulang itu dikemas dengan genre etnik modern yang tak lepas dari ciri khas dari musik Banyuwangi, yaitu kendang kempul.

Saat ditemui oleh beberapa awak media, Pieter dan Neno mengaku bangga dan tidak menyangka dapat mengisi acara BEC. Dari tahun ketahun, membuat dirinya mempunyai pengalaman menarik yang berbeda-beda dalam komposisi musik dalam memperpadukan tema BEC yang selalu berubah setiap tahunnya.

Kesulitan bermusik dan menyanyikan lagu dirasakan Pieter saat dirinya masih baru-baru ditunjuk mengisi acara BEC pada tahun 2012. Seiring berjalannya waktu pada BEC yang ke tujuh ini, dirasakan sangat enjoy, namun semua itu berkat para musisi musisi yang mengiringinya.

Saat mereka mengisi acara BEC, yang membuat dirinya menarik yaitu saat pagelaran BEC yang ke enam dengan membawakan tema “The Legend Of Sritanjung – Sidopekso”. “Dari semua panitia, peserta, dan musisi melakukan proses ritual di Sumur Sritanjung yang berada di dalam wilayah pendopo Saba Swagata Blambangan, agar memperoleh keselamatan dalam mensukseskan BEC ke enam itu,”  ujar Pieter

Pieter dan Neno pernah bertemu sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar dan hobinya sama sama bernyanyi.

Sejak kecil Neno bahkan sudah memiliki beberapa album lagu, diantaranya lagu Bang Cilang Cilung, Janur Melengkung, Boso Using.

Yang membuat lebih bangga ialah Neno yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga itu didunia tarik suara dirinya sudah direstui oleh sang suami, hingga dirinya mengisi dari panggung ke panggung.

Berkat kepopulerannya di dunia musik, Pieter dan Neno sudah bernyanyi berduet dengan artis Banyuwangi, seperti Vita Alvia, Suliyana, Reny Farida, Catur Arum, Lilis Darawangi, dan artis lokal lainnya.

Pieter dan Neno berharap pada para masyarakat Banyuwangi, agar semuanya tidak meninggalkan kecintaan terhadap musik Kendang Kempul Banyuwangi yang hari-hari ini mulai terpendam dimakan zaman dan kalah dengan musik dari luar Banyuwangi. (roh)

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional