Kritisi World Ocean Summit, Masyarakat Bali Penolak Reklamasi Turun Kejalan

  • Jumat, 24 Februari 2017 | 18:32
Kritisi World Ocean Summit, Masyarakat Bali Penolak Reklamasi Turun Kejalan
Massa tolak reklamasi Teluk Benoa kembali turun ke jalan.

DENPASAR, PETISI.CO – Ribuan massa tolak reklamasi Teluk Benoa kembali turun ke jalan pada Kamis 23 Februari 2017. Aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa ini dilakukan bertepatan dengan pertemuan internasional World Ocean Summit untuk bertujuan untuk mengkritisi pertemuan tersebut agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan investasi-investasi destuktif yang justru akan merusak laut.

Aksi tersebut melibatkan Pasubayan Desa Adat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa serta ForBALI yang selama ini konsisten memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Massa yang terlibat aksi tersebut datang dari berbagai daerah telah terlihat berkumpul di parkiran timur Lapangan Renon, Denpasar dan setelah itu mereka melakukan Long March pada pukul 14.00 menuju ke kantor Gubernur Bali.

Sepanjang longmarch, massa juga meneriakkan yel-yel perjuangan tolak reklamasi Teluk Benoa.

Wayan Swarsa selaku Koordinator Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang hadir pada aksi mengatakan, “Aksi kali ini bertepatan dengan adanya pertemuan World Ocean Summit yang dihadiri oleh delegasi dari berbagai Negara. Kami adat Bali  ingin menunjukan bahwa kami memiliki komitmen kuat untuk menjaga laut kami dari upaya perusakan melalui investasi–investasi seperti rencana reklamasi Teluk Benoa. Masyarakat adat yang melawan proyek reklamasi Teluk Benoa ini tidak memiliki kepentingan apapun selain mempertahankan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi yang akan merusak lingkungan. Dan perjuangan ini akan terus membesar dan akan tetap melawan hingga pemerintah membatalkan Perpres 51/2014,” ujarnya.

World Ocean Summit yang di gelar di Nusa Dua selama tiga hari dari 22 s/d 24 Pebruari 2017 akan membahas tiga hal pokok, yakni pertama merumuskan kerangka kerja investasi di laut, kedua soal sampah plastik di laut dan yang ketiga soal perikanan berkelanjutan.

Wayan Gendo Suardana, Koordinator ForBALI mengatakan aki penolakan reklamasi Teluk Benoa memang bertujuan untuk mengkritisi World Ocean Summit agar forum tersebut tidak ditunggangi kepentingan-kepentingan yang investasi yang destruktif.

“Aksi ini kami kami gelar untuk tujuan mengkritisi kegiatan world ocean summit agar forum ini benar – benar digunakan untuk menjaga laut, tidak dibelokan dan kemudian menjadi irisan kepentingan bagi pihak swasta, dan aksi ini adalah bagian dari mengawal world ocean summit agar berjalan pada track yang sesungguhnya agar menjaga dan mengamankan laut dari investasi yang destruktif,” ujarnya.

Di dalam perhelatan akbar ini dihadiri oleh CEO atau pihak swasta dan delegasi pemerintahan dari berbagai negara dan bertemu dalam forum ini.

Forum karenya banyaknya pihak yang terlibat, maka sudah pasti akan bertumpukan kepentingan – kepentingan pihak swasta yang membutuhkan investasi di laut dengan pemerintah yang kemudian akan memberikan, mengatur dan meregulasi investasi di laut.

Dalam beberapa pertemuan – pertemuan dunia yang membahas terkait investasi lingkungan hidup sering kali kemudian keputusan – keputusan yang dibuat tidak berpihak kepada lingkungan namun berpihak kepada bisnis – bisnis yang acapkali mendegradasi lingkungan hidup.

“Bisnis tidak boleh menjadi prioritas utama. Kepentingan lingkungan hidup harus menjadi prioritas utama” ujarnya.

“Tidak boleh terjadi alasan – alasan lingkungan hidup seperti istilah revitalisasi yang terjadi di teluk benoa yang digunakan alasan oleh investor untuk mengurug laut, lalu kemudian membuat property. Sebab cara – cara yang dilakukan di Teluk Benoa adalah cara – cara kamuflase yang penuh dengan kebohongan. Kalau ingin mengelola sampah plastik di laut  kelola sampah plastik di laut, bukan seperti investor yang mau mereklamasi Teluk Benoa. Pertemuan dunia World Ocean Summit kali ini kita kritisi agar tidak dibelokan menjadi klaim atau legitimasi agar bisa mereklamasi lautan di Indonesia termasuk di Teluk Benoa,” tegas Gendo.

Gendo juga berharap pertemuan internasional  World Ocean Summit dapat mendengar aspirasi masyarakat Bali dalam menyelamatkan lautnya.

“Bahwa investasi di laut itu benar – benar harus dilakukan dengan cara – cara yang tidak destruktif seperti reklamasi untuk kepentingan bisnis property dan juga tidak ada manipulasi tata kelola sampah dilaut  dengan bahasa revitalisasi. Maka dari itu memang dibutuhkan tata kelola sampah yang sejati bukan membuat solusi semisal dengan cara revitalisasi yang dimaknai dalam prakteknya sebagai reklamasi”, pungkas Gendo.

Aksi kawal ocean summit agar tidak dimanfaakan dan ditunggangi kepentingan swasta untuk industri ekstraktif juga diramaikan musisi penolak reklamasi Teluk Benoa seperti JRX drumer dari Superman Is Dead, Kupit dan Angga Nostrees dan beberapa kawan musisi seperti Copox The Bullhead, yang juga datang dan menghibur massa aksi dengan menyanyikan lagu Mars Bali Tolak Reklamasi. Setelah itu massa kembali menuju parkir timur Renon dan kembali dengan tertib dan damai. (kev)

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional