Masyarakat Perbatasan Sumbar, Riau, Jambi Protes Kenaikan Tarif Listrik

  • Kamis, 29 Juni 2017 | 18:21
Masyarakat Perbatasan Sumbar, Riau, Jambi Protes Kenaikan Tarif Listrik
Masyarakat perbatasan protes kenaikan tarif listrik

SIJUNJUNG, PETISI.CO – Kenaikan tagihan listrik dua bulan terakhir sangat dikeluhkan sebagian besar masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah.

Seperti  yang dirasakan Subandi  (53), warga Kamang Makmur Timpeh 4 Nagari Kamang Kecamatan Kamang Baru Kabupaten Sijunjung kepada petisi.co, Kamis ( 29/6/2017).

“Kenaikan tagihan listrik dua bulan terakhir sangat memberatkan saya dan warga. Tidak biasanya saya membayar listrik untuk satu bulan kebutuhan rumah tangga saya, paling tinggi Rp 160 ribu dan sekarang tagihannya sampai Rp 290 ribu. Kenaikannya hampir 100%, jadi saya terkejut dengan tagihan ini, karena saya belum pernah mendengar kalau PLN menaikkan tarif dasarnya,” keluhnya.

Hal serupa dikeluhkan Sutopo (51), warga Timpeh 4 Pasar Negari Kamang yang sehari-hari berkedai (warkop).

“Saya sangat keberatan  untuk membayar tagihan listrik sekarang ini, hasil penjualan warung kopi hanya cukup untuk membeli beras, ketika terjadi kenaikan pembayaran listrik tanpa pemberitahuan, uang yang seharusnya saya gunakan untuk membeli beras untuk kebutuhan keluarga terpaksa saya gunakan membayar tagihan listrik. Jadi beban kebutuhan semakin bertambah, sedang penghasilan  belum ada kenaikan,” ujarnya.

Ekky (27) warga Sanggau Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau menyampaikan,  seharusnya pemerintah mengkaji betul kalau mau mencabut subsidi listrik untuk daya 900 watt. Karena secara umum masyarakat menggunakan daya sebesar itu. Pemerintah pusat juga perlu tahu, bahwa mata pencaharian masyarakat bergantung pada perkebunan karet dan sawit yang pada bulan terakhir ini harganya merosot.

“Akibatnya, kenaikan tarif listrik sangat memberatkan masyarakat,” protesnya.

Keluhan ini memang sering dengarkan  dalam masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, seperti pemilik warung kopi dan warung-warung di pinggir jalan.

Mereka mengeluh disampaikan kepada petisi.co, dengan harapan pemerintah pusat mau mendengar penderitaan rakyat kecil di pedesaan.  Selama ini yang ban yak mengeluh adalah kedai-kedai kopi  di wilayah perbatasan Sumbar, Riau, Jambi.(gus)

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

CLOSE
CLOSE

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional