Menengok Pesarehan Raden Sawunggaling saat HUT Surabaya

  • Senin, 5 Juni 2017 | 18:49
Menengok Pesarehan Raden Sawunggaling saat HUT Surabaya
Cungkup makam R Sawunggaling dari dalam.

Tak Ada Pejabat yang Ziarah

SURABAYA, PETISI.CO – Kota Surabaya pada 31 Mei beberapa hari lalu genap berusia 724 tahun. Sejumlah acara diagendakan untuk memeriahkan HUT Kota Pahlawan ini.

Namun, kemeriahan peringatan  hari Jadi Kota Surabaya tersebut tidak sampai merambah di perkampungan Lidah Wetan Gang 3. Dimana kampung yang berada di Kelurahan Lidah Wetan Kecamatan Lakarsantri ini terdapat pesarehan atau makam tempat bersemayam jasad leluhur warga Surabaya, yakni Raden Sawunggaling alias Joko Berek.

Di lokasi makam putra Adipati Suroboyo, Jayengrono III dengan istri Raden Ayu Dewi Sangkra itu, disaat hiruk pikuk kegiatan peringatan HUT Kota Surabaya tahun ini, terasa adem ayem . Tidak ada agenda kegiatan apapun di makam Raden Sawunggaling, termasuk ziarah oleh para pejabat Pemkot Surabaya.

“Tidak ada acara apa apa,” ucap  Mat Tawin (70) tokoh warga Lidah Wetan menjawab pertanyaan petisi.co sehubungan peringatan HUT Surabaya di lokasi pesarehan Raden Sawunggaling, Minggu (4/6/2017) di rumahnya.

Cungkup makam R Sawunggaling dilihat dari luar

Kakek yang tinggal di kampung Lidah Wetan Gg 2 ini, lebih lanjut mengatakan, selama ini setiap HUT Kota Surabaya di pesarehan Raden Sawunggaling tidak pernah ada agenda kegiatan yang berhubungan dengan Hari Jadi Kota Surabaya. Pemkot  tidak pernah mengadakan agenda acara apapun di makam leluhur Sawunggaling disaat peringatan hari jadi kota ini.

“Selama ini tidak pernah ada agenda kegiatan Ulang Tahun Surabaya di makam Mbah Sawungggaling. Warga mempunyai agenda acara sendiri setiap tahun yaitu gelar budaya Sawunggaling,” jelas Mat Tawin yang menjadi Ketua Tim 9 yang tugasnya membantu mengurus pesarehan Raden Sawunggaling.

Kegiatan gelar budaya Sawunggaling tersebut, masih jelas Mat Tawin, merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Selo (bulan Jawa.Red) hari Jumat Legi. Kegiatannya berupa gelar pawai budaya yang diikuti oleh warga Lidah Wetan dan sekitarnya.

Pawai budaya  ini diadakan hari Minggu pagi sebelum Jumat Legi. Kegiatan selanjutnya berupa istighotsah pada hari Rabu Wage berlangsung malam hari di pendopo pesarehan. Pada hari Kamis Kliwon malam Jumat Legi digelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Dan acara terakhir pengajian umum pada hari Jumat Legi malam Sabtu Pahing.

Pagi itu sekitar pukul 10.00 hari Minggu (4/6/2017) petisi.co menengok pesarehan Raden Sawunggaling. Makam leluhur warga Surabaya yang terletak  persis belakang Masjid Al Kubro ini  masih terlihat sepi, tidak ada satu pun orang terlihat. Tampak tidak ada tanda tanda kegiatan yang sudah atau sebelum digelar  sehubungan HUT Kota Surabaya.

Namun sekitar 10 menit kemudian datang seseorang dan langsung membuka pintu cungkup makam Raden Sawunggaling. “Monggo silahkan pak kalo mau masuk,” ucapnya kepada petisi.co. Pria bertubuh agak gemuk ini bernama Imaduri warga setempat yang tiap hari membantu menjaga makam Sawunggaling. “ Di sini tidak ada kegiatan apa-apa sehubungan ulang tahun Surabaya,” jawabnya.

Pesarehan Raden  Sawunggaling, menurutnya, tiap hari selalu ada peziarah yang datang, baik dari dalam kota Surabaya maupun luar kota.  Paling ramai peziarah setiap malam Jumat Legi. Pagi itu juga datang satu rombongan peziarah naik mobil  dari Pasuruan. (suwoto)

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

CLOSE
CLOSE

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional