Pakde Karwo, Engkau Pemenangnya …

  • Rabu, 7 Februari 2018 | 08:52
Pakde Karwo, Engkau Pemenangnya …

Oleh : Roudlon Fauzani*

Senin depan, 12 Februari 2018 akan menjadi hari bersejarah bagi Gus Ipul dan Khofifah. Paling tidak, hari itu KPU Jatim secara resmi menetapkan keduanya sebagai pasangan calon gubernur.

Ini adalah kali ketiga Gus Ipul dan Khofifah bertarung dalam pilgub Jatim. Tapi pertarungan kali ini akan beda, karena Gus Ipul tak lagi bersama Pakde Karwo, bahkan Pakde berada di gerbong  Khofifah menyusul sikap politik Demokrat yang lebih milih mengusung Ketua Umum Muslimat NU.

Bagi Pakde Karwo, ini sebenarnya momentum bersejarah untuk menjadi pemenang sejati, karena siapa pun yang menang nanti, Pakde bisa mengklaim sebagai orangnya.

Sudah bukan rahasia lagi, Gus Ipul merupakan wakil setianya selama dua periode, bahkan pada Pilgub 2013 lalu, Gus Ipul sengaja disiapkan Pakde Karwo sebagai calon gubernur 2018.

Di sisi lain, Pakde Karwo selaku Ketua DPD Partai Demokrat Jatim juga mengusung Khofifah. Itu bisa dijadikan dalih politik untuk mengklaim keduanya.

Memang, banyak pihak yang menyebut fakta politik ini sebagai bentuk pecah kongsi antara Gus Ipul-Pakde dan rujuknya Pakde dengan Khofifah. Tapi bila dilihat lagi, sebenarnya tidak juga.

Bagi Pakde, kondisi seperti ini bisa menjadi berkah sekaligus juga musibah, bila tidak dikelola dengan baik. Berkahnya, Pakde bisa bermain dua kaki dan jadi pemenang siapapun yang nanti menang.

Musibahnya, posisi Pakde rentan jadi ‘musuh’ politik bila tidak pintar-pintar bersikap dan ‘ngemong’.

Dan sudah bukan rahasia lagi politik di Indonesia, kalau sudah jadi musuh akan terus dicari-cari kesalahannya bila kalah hingga berujung penjara. Eks Bupati Sidoarjo Win Hendrarso misalnya, sudah merasakan pengabnya jeruji besi setelah pecah kongsi dengan Bupati Sidoarjo Saiful Illah, juga mantan pejabat lainnya.

Itulah fakta politik di tanah air, sehingga membuat banyak orang ‘ngeri’ terjun ke dunia politik. Yang terlanjur terjun seperti sudah terperangkap dalam lingkaran setan (setanic circle), sehingga jarang yang bisa keluar secara husnul khotimah.

Jadi, Pakde perlu juga menghitung itu. Apalagi, bila dilihat peluang Gus Ipul dan Khofifah masih fifty-fifty sampai saat ini. Memang, banyak pihak punya analisa politik terkait peluang keduanya dengan perspektif berbeda-beda.

Lepas dari berbagai analisa itu, ada fakta menarik, perolehan Gus Ipul bersama Pakde Karwo dari dua pilgub, ternyata punya trend naik. Sementara, perolehan Khofifah justru menurun.

Data KPU Jatim pada pilgub 2008, Gus Ipul bersama Pakde meraup 7.729.944 suara dan pada pilgub 2013 naik dapat 8.195.816 suara. Sementara, Khofifah pada pilgub 2008 memperoleh 7.669.721 suara dan pada pilgub 2013 lalu turun jadi 6.525.015 suara.

Pilgub 2018 memang berbeda. Partai pendukung juga beda. Khofifah yang dulu hanya didukung partai kecil-lecil saja bisa meraup suara sebanyak itu, bahkan pada pilgub 2008 ‘nyaris’ menang meski akhirnya kalah.

Kini, Khofifah didukung partai-partai besar seperti Demokrat, Golkar, bahkan PAN yang punya potensi membawa suara warga Muhammadiyah pun mendukungnya. Itu jadi poin plus bagi Khofifah karema kedua calon sama-sama NU.

Cuma persoalannya, apakah keberadaan partai dan sosok tokoh seperti Pakde Karwo otomatis membawa suara untuk Khofifah. Bisa ya, juga bisa tidak!
Karena itu, Pakde Karwo perlu jeli melihat peta ini, sehingga bisa bersikap bijak, tentunya untuk penyelematan ‘nasib’ pasca jadi gubernur Jatim.

Salah sedikit saja, bisa berakibat fatal. Untuk itu, bersikap sebagai bapak Jawa Timur, merupakan pilihan bijak. Apalagi, nama Pakde Karwo sudah cukup harum dan sudah layak untuk menjadi bapak Jawa Timur.

Engkau juga tercatat sebagai orang pertama yang berhasil mendobrak mitos sebelumnya yang menyebut jabatan gubernur hanya bisa diduduki oleh politisi. Dan teryata engkau telah membuktikan itu.

Setelah jadi Kepala Dispenda dan jadi Sekdaprov Jatim, lalu ingin maju gubernur, banyak yang mencibir, apalagi harus menghadapi wakil gubernur Jatim yang Ketua Golkar Jatim saat itu Soenarjo.

Terlebih lagi, hasil survei saat itu, tingkat elektabilitas Soenarjo paling tinggi, lebih dari 40 persen.

Engkau juga telah membuktikan PNS murni tidak kalah dengan politisi. Saat hendak diduetkan dengan Gus Ipul pada Pilgub 2008, banyak juga yang merasa kasihan. Apalagi, Gus Ipul saat itu dikenal sebagai politisi ‘lihai’, yang dikenal punya keahlian ‘menikung’ dalam tikungan. Masuk PDIP dan jadi anggota DPR-RI, Gus Ipul bisa pindah ke PKB dan mendapat posisi strategis menjadi Sekjen DPP PKB, terus jadi Menteri PDT di era SBY.

Ternyata, Pakde Karwo tidak kalah dengan Gus Ipul, meski hanya seorang PNS murni. Malah, Gus Ipul seperti bertekuk lutut, terus setia mendampingi Pakde Karwo sampai dua periode. Sikap setia Gus Ipul juga sekaligus membersihkan namanya sebagai politisi ahli tikungan.

Jihad politik Pakde Karwo menginspirasi pejabat-pejabat lain yang murni berkarir di PNS untuk maju sebagai calon kepala daerah. Kini, telah banyak peiabat berkarir PNS murni jadi kepala daerah, seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Bupati Lamongan Fadeli.

Ya, sudahlah Pakde Karwo! Engkau telah menorehkan banyak catatan manis dan jadi inspirasi banyak anak bangsa. Engkau juga telah membuktikan diri sebagai pasangan kepala daerah mesra bersama Gus Ipul dalam memimpin Jatim, di saat yang sama justeru banyak pasangan kepala daerah ‘bertengkar’ di tengah jalan.

Dengan peta politik saat ini, engkau adalah pemenangnya. Tetap bisa baik dengan Gus Ipul, juga bisa rujuk dengan Khofifah setelah dua kali bertarung di pilgub Jatim. Ini namanya husnul khotimah buat engkau Pakde. Ya,sudahlah! (#)

*penulis adalah wartawan senior  dan pengamat sosial

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional