Paradigma Pahlawan Masa Depan

  • Kamis, 10 November 2016 | 19:10
Paradigma Pahlawan Masa Depan
Dua bandit jalanan yang diamankan.

Oleh :  Willy Innocenti*

Mereka tak ada keinginan untuk dikenang, mereka pun tak ada rencana agar 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan. Mereka hanya ingin, bangsa ini lepas dari penindasan. Inilah wujud ketulusan para Kusuma Bangsa dalam memperjuangkan Indonesia dari belenggu penjajah.

Pahlawan, tak lain juga merupakan orang yang mengorbankan segala-galanya demi tujuan yang besar nan mulia. Tak heran jika kita mengidentikan pahlawan sebagai Patriot Bangsa.

Telah sedikit banyak direkam dalam memori sejarah Indonesia tentang pahlawan, yang kemudian kita peringati dalam satu hari penuh dalam Hari Pahlawan Nasional, 10 Nopember. Peringatan hari yang mulia ini bermula pada aksi heroik yang dilakukan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. Orientasinya adalah pada anti kolonialisme yang ingin merebut kembali kedaulatan bangsa.

Pertempuran ini terjadi di Surabaya yang melibatkan ribuan masyarakat Surabaya melawan pasukan Belanda yang awalnya disulut oleh pengibaran bendera merah putih biru di area Hotel Yamato Surabaya.

Setidaknya telah jatuh ribuan korban jiwa dalam tragedi ini. Peristiwa berdarah ini membuat Ibu Pertiwi mengenang duka dengan lahirnya peringatan Hari Pahlawan Nasional. Namun, apakah cukup jika diperingati saja?

Apa yang kita sebut sebagai pahlawan terkadang terbatasi oleh konsepsi pahlawan masa lalu yang orientasinya memperjuangkan kemerdekaan. Namun, sadarkah kita bahwa pahlawan terkadang juga  lebih dari itu?

Hendaknya, apa yang disebut sebagai pahlawan adalah segala sesuatu yang berasaskan dari nilai kepahlawanan itu sendiri yang tak dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya, bahwa konsepsi pahlawan adalah bukan orangnya tapi semangatnya, bukan fisiknya tapi jiwanya. Dengan penanaman mindset seperti ini, kita akan lebih berapresiasi pada pahlawan yang eksis, bukan hanya pada masa lampau tapi juga masa kini.

Perjuangan yang dilakukan oleh seorang pahlawan tentunya tak semudah yang dibayangkan. Namun bukan alasan kita tak dapat menuai hikmah dari peristiwa heroik masa lampau. Kita dapat belajar dari sejarah dan memetik nilai nilai kepahlawanan yang diajarkan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” – Ir. Soekarno (Indonesian 1st President). Nilai itulah yang kemudian kita internalisasikan di setiap peringatan Hari Pahlawan, dengan harapan akan mampu mengupas tantangan zaman.

Tranformasi era yang telah kita lalui dari masa pra kemerdekaan hingga reformasi, memunculkan masalah yang bertransformasi pula bentuknya. Jika kita menakar pahlawan dari segi perjuangan melawan menjajah, maka kita perlu juga menakar pahlawan masa depan. Formasi pahlawan masa depan akan tercipta bukan dengan sendirinya, namun melalui beberapa langkah yang strategis yang semua bersumber pada aktualisasi kualitas diri.

Peningkatan kualitas diri akan mampu terwujud jika hal ini diperhatikan. Merupakan hal yang mutlak diperlukan, karena kita telah berada pada zaman dimana pahlawan tidak lagi memakai bambu runcing untuk mengatasi penjajah, namun kita telah lahir di era yang syarat akan gejolak akibat implikasi dari modernitas dan sekuleritas.

Melihat kekacauan negeri ini telah mengundang rasa prihatin semua kalangan. Mulai dari tingkat kemiskinan, pendidikan yang tak merata, angka pengangguran yang semakin meningkat, hingga kriminalitas dimana-mana, serta ke-chaos-an bangsa akibat elit dan birokrat Negara.

Permasalahan ini tak lain merupakan permasalah yang kabur bentuknya, tapi nyata keberadaanya. Dengan begini konsepsi pahlawan tak hanya cukup dipandang dari segi lahiriah saja.

Pahlawan akan lahir sesuai zamanya. Agaknya saya sepakat dengan pernyataan itu. Penyataan yang membuka beribu-ribu pintu harapan akan pemecahan kompleksitas kehidupan berbangsa dan bernegara melalui eksistensi pahlawan masa depan.

Kita pun tak bisa menyamakan diri dengan Kartini, Soekarno, Ki Hajar Dewantara dalam membuat jalan di tengah hutan rimba yang ganas. Kita hanya memerlukan sosok kartini baru, soekarno, dan Ki Hajar Dewantoro yang baru dalam mengelola hutan rimba tersebut untuk kemakmuran bersama. Apa yang kita sebut sebagai pahlawan masa depan adalah mereka yang mampu menjaga kedaulatan bangsa dengan menjaga kebhinekaan kita, menciptakan masyarakat yang makmur dengan lapangan pekerjaan yang kita buat, hingga mengharumkan bangsa melalui terobosan dan inovasi baru yang tak terbanyangkan sebelumnya.

Banyak dari kita yang termakan oleh kehidupan duniawi yang semu, hingga melupakan kewajiban dalam menjaga arah dan semangat bangsa. Apa karena kita telah diwarisi bangsa yang merdeka hingga kita lupa menjaganya? Atau hanyalah kemerdakaan merupakan cita-cita akhir kita?

Nilai-nilai patriotisme seorang pahlawan tak akan habis dimakan zaman apabila kita terus mewarisi kepada anak cucu bangsa. Kejujuran, semangat juang, hingga rela berkorban adalah nilai yang mampu kita petik dari pahlawan masa lalu untuk mencetak pahlawan masa depan.

Kita kerap kali terlena dengan hidup yang kental akan hedonisme, pragmatism hingga materialsme. Kecenderungan orientasi pada uang, jabatan dan kesenangan diri, hingga menggerus nilai-nilai diatas, merupakan gambaran pedih diri ini. Tak heran jika korupsi merupakan budaya negeri, dan kolusi menjadi bagian demokrasi.

Refleksi nilai kepahlawanan agaknya perlu kita renungkan dalam menggapai pahlawan masa depan, untuk kemajuan bangsa dan Negara.

Akhir kata, Selamat Hari Pahlawan Nasional. Kita patut mempersiapkan diri untuk menjadi pahlawan masa depan seutuhnya untuk diri dan negeri.

*penulis adalah Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa FISH Unesa serta di Departemen Advokasi DPC Permahi Surabaya.

 

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional