Peduli HIV-AIDS, Raih Penghargaan

  • Kamis, 1 Desember 2016 | 15:46
Peduli HIV-AIDS, Raih Penghargaan
Menteri Kesehatan bersama pejabat lainnya tekan tombol tanda dimulainya hari AIDS sedunia 2016.

SURABAYA, PETISI.COGubernur Jatim Dr. H. Soekarwo kembali meraih penghargaan tingkat nasional. Penghargaan ini diraih  atas kepeduliannya terhadap HIV-AIDS melalui program dan kebijakan yang dilakukannya. Pakde Karwo sapaan lekatnya menerima Penghargaan Kepala Daerah Peduli Pencegahan dan Pengendalian HIV (P2HIV) dari Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek saat Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia 2016 di Halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (1/12/2016).

Penghargaan ini diberikan atas upaya percepatan pencapaian akses universal layanan tes HIV dan pengobatan antiretroviral (ARV) di semua kabupaten/kota di Jatim. Seluruh kabupaten/kota di Jatim sudah bisa memberikan layanan dan pengobatan HIV AIDS.

Penghargaan juga diberikan kepada Rumah Sakit TNI-AL Dr. Ramelan sebagai Rumah Sakit Peduli P2HIV yang memiliki komitmen dalam memberikan dukungan pada pencapaian akses universal layanan tes HIV dan pengobatan ARV di lingkungan TNI. Penghargaan tersebut diserahkan kepada Kepala RSAL Dr. Ramelan.

Pakde Karwo mengatakan, Pemprov Jatim memberikan perhatian serius pada upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS dengan membuka akses seluas-luasnya pada masyarakat untuk mendapatkan informasi. Tujuannya  guna memberikan pemahaman yang benar tentang upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini, sehingga bisa melindungi diri dari bahaya penularannya.

Dijelaskan, sejak tahun 2015, sebanyak 38 kabupaten/kota di Jatim telah siap dan mampu untuk memberikan pelayanan tes HIV maupun memberikan perawatan, dukungan dan pengobatan HIV-AIDS. Penguatan melalui penyusunan perda baik di tingkat provinsi dan di tingkat kabupaten/kota juga sangat berperan.

“Ini tidak terlepas peran dan upaya dari seluruh bupati/walikota terkait dengan kesiapan kabupaten/kota se-Jatim memberikan pelayanan kepada pasien HIV-AIDS. Selain dalam upaya percepatan penemuaannya, tetapi juga pada jaga mutu layanan dan kesinambungan pengendalian HIV-AIDS di Jatim,” ujarnya.

Berdasarkan data, jumlah orang terinfeksi HIV yang berhasil ditemukan di Jatim hingga periode pelaporan Bulan September 2016 secara kumulatif  sebanyak 36.881 orang.

“Tingginya penemuan tersebut bukan berarti HIV-AIDS di Jatim tidak terkendali. Namun hal itu merupakan bukti keseriusan pemerintah daerah pada upaya percepatan deteksi dini dengan menemukan kasus HIV sebanyak-banyaknya. Penemuan yang tinggi tersebut dilanjutkan dengan membuka akses pengobatan untuk mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, percepatan deteksi dini yang diikuti pengobatan tentunya akan lebih terkendalinya penularan deteksi infeksi HIV-AIDS. Diharapkan segala upaya yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat yang besar dalam membangun generasi dan masyarakat yang sehat.

Sementara itu, Menkes RI Nila F. Moeloek mengatakan, pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, dikarenakan sejak tahun 2005 sampai dengan Desember 2015 telah dilaporkan sebanyak 191.073 orang terinfeksi HIV di Indonesia. Sehingga hal ini perlu menjadi perhatian bagi banyak pihak. “Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan penemuan kasus HIV yang tinggi, bersama dengan Provinsi DKI Jakarta, Papua, Jawa Barat, dan Jawa Tengah,” ujarnya.

Dijelaskan, faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks yang berisiko pada heteroseksual sebanyak 66 persen, pengguna jarum suntik tidak steril pada penasun sebanyak 11 persen, lelaki seks dengan lelaki sebanyak 3 persen, serta penularan dari ibu ke anak sebanyak 3 persen.

Jumlah kasus AIDS yang dilaporkan tertinggi adalah pada ibu rumah tangga sebanyak 10.626 orang, tenaga non profesional / karyawan sebanyak 9.603 orang, wiraswasta sebanyak 9.439 orang, petani/peternak/nelayan sebanyak 3.674 orang, buruh kasar sebanyak 3.191 orang, penjaja seks sebanyak 2.578 orang, PNS sebanyak 1.819 orang, dan anak sekolah/mahasiswa sebanyak 1.764 orang.

Data-data yang didapat tersebut di atas mendasari dalam strategi pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS yaitu dengan pendekatan yang berfokus dalam keluarga dan masyarakat.

Menkes juga menjelaskan pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS harus dilakukan bersama-sama dengan pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilakukan dengan koordinasi, kemitraan, serta partisipasi aktif dari komunitas populasi kunci, populasi sasaran, serta masyarakat umum yang merupakan salah satu pilar dari Layanan HIV-AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual Komprehensif Berkesinambungan atau dikenal sebagai LKB. Ini merupakan strategi utama dalam pengendalian HIV-AIDS dan PIMS. (mas)

bagikan :

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

CLOSE
CLOSE

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional