Petisi
pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Yayan Sakti Suryandaru
pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Yayan Sakti Suryandaru
PARLEMEN

Pengamat: Pemilu 2019 Rawan Money Politic

SURABAYA, PETISI.CO – Potensi money politic (politik uang) dalam Pemilu 2019 masih sangat tinggi. Masyarakat akan mudah tergiur oleh iming-iming uang untuk memilih calon tertentu yang berlaga di Pemilu Presiden (Pilpres) maupun Pemilu Legislatif (Pileg).

“Itu semua terjadi, karena pemilu tahun ini dilakukan secara serentak, sehingga membuat masyarakat bingung untuk menentukan pilihan,” kata pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Yayan Sakti Suryandaru pada acara Senarai Kontestasi dari Pemilu 2019 hingga Pilwali Surabaya 2020 yang digelar Surabaya Survey Center (SSC) di Surabaya, Rabu (9/1/2019).

Hasil survei hingga sekarang, menurutnya, lima kertas suara yang akan dicoblos oleh pemilih dalam pemilu 2019, membingungkan masyarakat. Apalagi DPD banyak yang tidak dikenal. Lima kertas suara itu, terdiri dari calon presiden-wakil presiden, calon anggota legislatif (caleg) DPR RI, caleg provinsi, caleg kab/kota dan caleg DPD.

Dalam kondisi itu, lanjutnya, akan digunakan oleh para tim sukses masing-masing caleg untuk mendekati masyarakat dengan memberikan serangan fajar. Artinya, kalau caleg bersama tim suksesnya memahami, maka harus mencari cara agar rakyat ingat memorinya pagi menjelang datang ke TPS.

“Orang yang akan membuat masyarakat ingat pada pilihannya itu kan berarti menjelang datang ke TPS,” ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unair ini.

Money politic ini, tambahnya bisa saja terjadi pada pilpres dan pileg. Ada yang bilang pileg itu menggantungkan pada pilpres. Namun, faktanya tidak seperti itu.

“Pada akhirnya yang pasti partai harus menang dan presidential thresholdnya tercapai. Misi masing-masing caleg kan itu, artinya, perintahnya bukan memenangkan dirinya, tapi yang kedua itu harus sukses juga,” tandasnya. (bm)

 

terkait