Petisi
OPINI

Sudah Saatnya Malang Punya Perguruan Tinggi Jurnalistik

Oleh: Yunanto*

Pengurus PWI Cabang Malang menggelar pertemuan wartawan lintas generasi se-Malang Raya. Acara itu berlangsung di resto Ocean Garden,  Jl. Trunojoyo,  Minggu (10/2/2019) siang hingga sore.

Ada banyak hikmah bisa dipetik dari acara yang kemasannya menyatu dengan momentum Hari Pers Nasionsl 2019 itu. Galibnya, tidak sekadar temu kangen, cipika-cikipi, lantas larut dalam belanga nostalgia antar-jurnalis  ‘balung tuwo(sepuh).

Sambil bercengkerama dengan sesama jurnalis  balung tuwo, memori saya terus merekam peristiwa yang berjalan siang hingga sore itu.

Saya catat ada satu hikmah yang patut saya angkat lewat artikel ini. Hikmah dimaksud adalah menguatnya kembali gagasan menghadirkan perguruan tinggi jurnalistik di Malang.

Nol Kilometer

Dipahami dan diyakini, memang sudah saatnya Malang (dalam konotasi Malang Raya), memiliki perguruan tinggi jurnalistik. Meski, konon kelak bakal ada “perampingan”  kuantitas perguruan tinggi swasta (PTS) di Malang. Beberapa PTS, sekali lagi konon, akan digabung menjadi satu institusi. Entah kapan “konon” tersebut mewujud.

Hal lain, patut pula menyimak riwayat berdirinya perguruan tinggi jurnalistik di Jakarta dan Surabaya. Paling tidak, bisa “membakar” obsesi untuk berbuat serupa. “Ruh”-nya:  Jakarta dan Surabaya bisa, mengapa Malang tidak?

Semua implementasi obsesi mesti diawali dari titik “nol kilometer”. Jakarta misalnya, lima tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, melahirkan institusi pendidikan khusus kewartawanan. Akademi Wartawan, namanya.

Proses belajar-mengajar secara tertulis, menyerupai Universitas Terbuka. Setahun kemudian, 1951, barulah dimulai kuliah di dalam ruang kelas. Itulah pendidikan tinggi kewartawanan yang pertama di Indonesia.

Orang semakin heran. Akademi Wartawan di Jakarta itu didirikan oleh sosok wartawan yang “dilahirkan” (otodidak, bukan hasil pendidikan formal jurnalistik), yaitu Parada Harahap. Bersama sejumlah tokoh wartawan kala itu, antara lain Djamaludin Adinegoro dan M. Tabrani  (keduanya alumni jurnalistik Jerman), Akademi Wartawan terus tumbuh.

Dua tahun kemudian, akademi  tersebut berubah menjadi Perguruan Tinggi Jurnalistik, 5 Desember 1953.

Perguruan tinggi tersebut terus tumbuh, berkembang. Diabsahkan lewat Surat Keputusan Menteri P dan K kala itu, 1976, nama perguruan tinggi yang didirikan Parada Harap dan kawan-kawan itu berubah menjadi Sekolah Tinggi Publisistik (STP).

Dalam perjalanannya, gedung kampus STP masih ‘nebeng-nebeng’ (sewa-kontrak), antara lain di gedung SMA Canisius, Cikini dan di gedung STT Jl. Proklamasi 27, Jakarta Pusat. Kuliah sore – malam. STP baru memiliki gedung kampus sendiri tahun 1979/1980. Cukup luas, di pinggiran Jakarta, Jl. Lenteng Agung, Pasar Minggu arah ke Depok.

Surabaya pun demikian. Merintis lewat Akademi Wartawan Surabaya (AWS). Lantas berkembang dan meningkat menjadi  STIKOSA AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya), 1984. PTS tersebut berkibar hingga kini.

Seperti halnya STP di Jakarta, STIKOSA AWS di Surabaya pun telah banyak melahirkan jurnalis berkualitas prima. Mereka bisa eksis di berbagai media massa (visual, audia dan audio visual). Noordin Djihad salah satu alumninya yang masih eksis sebagai jurnalis, di Malang.

Sebagian dari jurnalis _balung tuwo_ di Malang Raya, saat “temu kangen” di Resto Ocean Garden, Minggu (10/2/2019).

Ada fakta pula, banyak wartawan berkualitas prima yang tidak berlatar belakang disiplin ilmu kewartawanan atau publisistik praktika (jurnalistik). Mereka seperti Parada Harahap, otodidak. Sebagian dari mereka bahkan eksis hingga kini. Karya-karya jurnalistiknya pun berkualitas bagus. Saya salut pada mereka dan bangga.

SDM Ada

Obsesi menghadirkan perguruan tinggi jurnalistik di Malang, sesungguhnya telah lama. Soal mengapa belum kunjung lahir, itulah yang perlu dibahas lagi. Bersama dan lebih serius, tentu.

Ditilik dari perspektif kuantitas SDM, Malang punya “stok” pengajar jurnalistik lumayan. Baik yang masih aktif sebagai jurnalis, maupun yang sudah purna dan/atau alih profesi. Tak sedikit yang berpendidikan formal hingga magister dan doktoral. Bahkan, guru besar pun ada.

Sebut saja, antara lain Prof. Dr. Henry Supriyanto, mantan wartawan Harian Pagi _Suara Indonesia_ di Malang, merangkap koresponden Harian Sore _Sinar Harapan_. Profesor Henry, alumni IKIP Malang (sekarang UM), memang “lahir” sebagai pendidik, dosen. Namun ia juga jurnalis yang produktif, pada masanya.

Ada lagi dua mantan wartawan Malang yang sekarang aktif sebagai dosen FISIP Universitas Brawijaya. Mereka adalah Ahmad Muzzaki (doktoral) dan Mondry (magister). Doktor Muzzaki sempat eksis sebagai jurnslis di beberapa media cetak, antara lain di Harian Memorandum dan di Harian Sore Surabaya Post. Sedangkan Mondry, alumni Universitas Brawijaya, dikenal sebagai jurnalis produktif di Harian Pagi Suara Indonesia, sejak 1982.

Cukup panjang bila menuliskan nama-nama mereka yang layak diposisikan sebagai calon pengajar. Sebagian di antaranya juga masih jurnalis aktif. Ada pula yang mengajar di institusi pendidikan setingkat D1-D2 dan di lembaga kursus. Sebut saja, antara lain Drs Suyitno, pensiunan jurnalis RRI Malang.

Sinergi dengan bergai pihak (institusi) tentu perlu dibangun. Para kandidat deklarator perguruan tinggi jurnalistik di Malang pastilah punya jaringan (relasi) luas dan kuat. Maklum, mereka jurnalis dan mantan junalis dengan “jam terbang” puluhan tahun. Tak patut diragukan kecakapannya.

Satu fakta lain, di kepengurusan PWI Cabang Malang, ada Doktor Nucholis Sunuyeko, MSi yang juga insan pendidik. Rektor IKIP “Budi Utomo” (IBU) di Malang itu, dalam kapsitas sebagai Penasihat PWI Cabang Malang,  bukan hal mustahil bisa “digaet” untuk turut serta membidani lahirnya PTS jurnalistik di Malang. Tentu, tidak dihajatkan sebagai kompetitor IBU.

Pembicaraan ihwal silabus, konten kurikulum, tenaga pengajar hingga perizinan mendirikan PTS jurnalistik, menjadi topik  “obrolan gayeng” di resto Ocean Garden_sore itu. Perbincangan berakhir dengan harapan, kelak Malang punya PTS jurnalistik.

Sekarang, di pundak jajaran pengurus PWI Cabang Malang yang “dikomandani”_Ariful Huda sebagai ketua, harapan tersebut diletakkan.

Kalangan jurnalis balung tuwo sudah pasti mendukung. Bahkan siap “ikut berkeringat”. Tidak sekadar Tutwuri Handayani. ()

* Penulis adalah wartawan Harian Sore Surabaya Post 1982 – 2002, alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta.

terkait