Surabaya, petisi.co – Musim kemarau dan minimnya sumber daya air menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah di Jawa Timur (Jatim). Berdasarkan data BPBD Jatim tercatat di tahun 2024 lalu, ada 905 desa di 27 daerah di Jawa Timur (Jatim) mengalami kekeringan.
Dari 27 daerah tersebut, empat kabupaten diantaranya langganan mengalami bencana kekeringan, yaitu Jombang, Blitar, Lumajang, dan Pacitan. Bahkan, keempat daerah itu menetapkan status tanggap darurat kekeringan.
Menanggapi hal itu, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan terus berkomunikasi secara intens dengan BPBD kab/kota. Apakah ada kemungkinan bertambah titik keringnya atau tidak. Apakah sudah ada langkah-langkah yang dilakukan menghadapi kekeringan itu.
“Mungkin langkah yang dilakukan oleh teman-teman kab/kota berupa pengeboran ataupun pembuatan tanggul. Langkah ini bisa menyebabkan titik kekeringan yang sebelumnya banyak bisa menjadi berkurang atau mungkin bisa bertambah, karena tidak ada kegiatan yang dilakukan pemerintah sebelumnya,” jelasnya.
Karenanya, Gatot belum bisa memastikan apakah jumlah wilayah yang mengalami kekeringan itu akan berkurang, atau justru bertambah di tahun 2025 ini. “Nanti setelah kita rakor dengan BPBD kab/kota baru diketahui lokasi kekeringan itu berkurang atau tetap sama,” tandasnya.
Yang pasti, tegasnya, penanganan kekeringan bisa dilakukan sekarang. Penanganan mengacu pada data tahun lalu. Apabila dibutuhkan topping air, pihaknya bisa segera support dropping tersebut. Karenanya, kolaborasi dengan BPBD kab/kota serta lembaga masyarakat perlu dilakukan.
“Sehingga, kalau ada tambahan dari kabupaten ataupun dari lembaga terkait, pastinya akan mengurangi debit air yang kita distribusikan ke keluarga. Anggarannya apakah dari APBD provinsi dengan kab/kota tersebut, kita bicarakan nanti,” paparnya.
Mengenai masih turunnya hujan di bulan Mei yang sebenarnya musim kemarau, Gatot menyebut masih dalam transisi. Hingga kini pihaknya menunggu hasil deteksi dari BMKG. Tapi, pastinya dalam beberapa hari ke depan masih ada beberapa wilayah di Jatim yang potensi turun hujan.
“Selain transisi tersebut, kami juga sudah mempersiapkan langkah-langkah penanganan ringan, seperti mulai mengumpulkan BPBD kab/kota terkait dengan masalah kekeringan tadi,” kata mantan Kepala Biro Kesra Setdaprov Jatim ini. (bm)







