PETISI.CO
Aliansi Organisasi Ekstra Kampus Jember saat mendatangi Polres Jember
HUKUM

Aliansi Organisasi Ekstra Kampus Jember Desak Polisi Amankan RH

JEMBER, PETISI.CO – Aliansi Organisasi Ekstra Kampus Jember mendatangi Polres Jember, Jum’at  (16/04/2021), untuk mensikapi penanganan kasus oknum dosen FISIP UNEJ berinisial RH, yang  telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Unit PPA Satreskrim Polres Jember, atas kasus pencabulan anak di bawah umur, yang tidak lain adalah keponakan pelaku sendiri.

Aliansi yang terdiri dari beberapa organisasi ekstra kampus, seperti DPC GMNI Jember, Immawati Jember, dan Kohati Jember tersebut bermaksud  melayangkan surat pernyataan sikap kepada Kapolres Jember, sekaligus ingin melakukan audiensi guna mempertanyakan kelanjutan proses penindakan pasca ditetapkannya pelaku RH menjadi tersangka pada Selasa (13/04/2021) oleh kepolisian Jember.

“Kami sudah melayangkan surat pernyataan sikap kepada Kapolres Jember, dan kami juga bermaksud untuk menggelar audiensi bersama Kapolres Jember terkait progress penindakan yang sudah dilakukan kepolisian sejauh ini,” kata Sekretaris DPC GMNI Jember Yuyun Nur Robikhah.

Baca Juga :  Kauje Akan Maksimalkan Potensi Alumni Baru Unej

Namun saat didatangi, Kapolres Jember tidak ada di tempat.

“Kapolres tidak ada di kantor, jadi kami hanya melayangkan surat sikap saja dan menjadwalkan ulang audiensinya,” kata Yuyun.

Surat pernyataan sikap yang ditujukan kepada Kapolres Jember tersebut memuat beberapa poin desakan, diantaranya :

  1. Mendesk Polres untuk segera melakukan upaya penangkapan dan penahanan kepada RH, salah satu oknum Dosen FISIP Universitas Jember yang melakukan tindak pidana pencabulan. Atas dasar Pasal 20 ayat (1) KUHAP dan Pasal 21 ayat (1), (2) KUHAP. Demi kelancaran proses penyidikan lebih lanjut serta agar korban dan orang lain merasa aman.
  2. Polres untuk menjalankan fungsinya sebagai polisi, pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 2.
Baca Juga :  KPK Periksa Anggota DPRD Kota Malang di Mapolresta

“Pernyataan sikap ini dibuat sebagai bentuk kepedulian kami terhadap kasus kekerasan seksual yang marak terjadi baik di lingkungan masyarakat maupun kampus” ujar Yuyun.

Menurut Ketua IMMawati Jember Sulik Wahyuni,  pihaknya mendesak kepolisian Jember agar segera melakukan proses penindakan secara tegas sesuai mekanisme hukum yang berlaku  agar kasus ini cepat selesai dan hak-hak korban dapat terpenuhi.

Pihak Polres Jember menjanjikan audiensi dapat dilaksanakan pada Selasa (20/04) bertepatan dengan surat balasan dari Kapolres Jember

“Polres tadi berjanji akan mengakomodir keinginan kami pada Selasa depan, kita tunggu saja respon Polres Jember,” kata Sulik.

Dalam pengawalan kasus, Ketua Kohati Jember Shinta Lestari  menjelaskan, aliansi juga berkordinasi dengan pihak-pihak yang mendampingi  kasus yang menimpa Nada (nama samaran).

Baca Juga :  Rencana ‘Operasi Polda’ Bocor, Maniak Togel se-Jatim Tiarap

“Sebagai organisasi mahasiswa yang concern terhadap isu-isu perempuan terutama kasus kekerasan dan pelecehan seksual, ini sudah menjadi kewajiban kami untuk mengawal dan memperjuangkan hak-hak korban. Kami juga melakukan kordinasi dengan berbagai elemen yang tergabung dalam Koalisi Tolak Kekerasan Seksual dalam pendampingan kasus ini,” kata Shinta.

Aliansi Organisasi Ekstra Kampus Jember juga menyayangkan kasus ini dilakukan oleh oknum yang berlatar belakang dosen UNEJ.

“Ini sangat mencoreng nama baik dunia pendidikan terutama kampus UNEJ, akibat ulah tidak terpuji salah satu oknum dosen FISIP UNEJ,” ujar Shinta.

Selanjutnya juga akan melakukan audiensi  dengan pihak kampus untuk membahas sanksi yang diberlakukan kepada pelaku dosen RH.

“Kedepannya kami juga akan melakukan pertemuan dengan pihak kampus UNEJ untuk mendesak agar dosen tersebut dapat dipecat,” kata Shinta.(mem)

terkait

Jual Ketamine Tanpa Resep, Dokter Irmatati Dituntut 9 Bulan Penjara

redaksi

Dilaporkan Perangkatnya ke Polisi, Kades Aeng Tong-tong: Biar Pengadilan yang Memutuskan

redaksi

Tidak Mau Tidur, Balita Dianiaya Pengasuh

redaksi