MOJOKERTO, PETISI.CO – Berharap kesejateraan dan keselamatan, sebanyak 2500 warga mengikuti acara Sedekah Bumi (ruwat desa) di Desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.
Kepala Desa Mojodadi Agus Suprayitno ketika ditemui di lokasi menjelaskan, acara tersebut adalah agenda rutin yang diadakan tiap tahun dan bertujuan sebagai simbul rasa syukur penduduk desa atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
“Dari sejarah Desa Mojodadi sendiri memang terdapat sumur tua di tiap dusun yakni Dusun Kedungwaru, Bakalan dan Kalimati, dari awal dibuat, air dari ke tiga sumur inilah sebagai perantara nikmat Allah SWT yang diturunkan untuk masyarakat desa sekaligus memberikan kemakmuran berupa sumber air,” ungkapnya.
Dari sinilah prosesi acara ruwat desa yang diadakan di balai Dusun Kedungwaru digelar. Selanjutnya oleh pihak panitia di adakan agenda siraman. Prosesi siraman sendiri berlangsung pukul 09.00, di awali dengan sebanyak tiga bidadari membawa air yang di ambil dari lokasi tiga sumur yang terdapat di desa tersebut.
Selanjutnya keseluruhan air dituang ke dalam sebuah getong dengan di campur bunga setaman. Air inilah yang di pakai untuk memandikan pemimpin desa oleh perwakilan sesepuh tiga dusun.
Diharapkan kedepan, pemimpin desa dapat memimpin desanya dengan adil dan bijaksana serta bersih dari sifat yang tidak baik. Terpisah, Kapolsek Kemlagi AKP. Subianto dalam sambutanya mengatakan, Kades Mojodadi adalah figur pemimpin yang disukai masyarakat. Buktinya dalam acara ini Kades mampu membuat acara yang meriah dan banyak warga yang datang.
Untuk himbauan Kamtibmas pihaknya selalu menekankan tentang bahaya narkoba dan selalu meningkatkan keamanan lingkungan.
“Jangan diperbolehkan tetangga kita, teman kita untuk menjadi pengedar narkoba, semua harus ikut merangi,” tegasnya.
Mengenai pelayanan, Desa Mojodadi harus bisa menyukseskan progran sertifikat masal (prona), pembangunan Infrastruktur dan keamanan lingkungan. “Meski begitu semua harus tetap terkontrol, khususnya kepada semua pemimpin di Kecamatan Kemlagi kami harapkan terus melalukan evaluasi, kami tidak mau, dalam menjalankan pemerintahan mengenai penggunaan anggaran ada yang sampai terlibat kasus hukum,” ungkapnya.
Seperti diinformasikan, acara ruwatan ini dilaksankan selama dua hari. Dari acara kirap tumpeng tiga dusun keliling desa, prosesi siraman hingga pertunjukan wayang kulit dengan lakon Lahirnya Wisang Geni dan keesokan harinya acara ditutup dengan pertunjukan Orkes Melayu.(sof)





