Bupati Jember Sapa Petani dan Santri di Sukowono Jember

oleh -38 Dilihat
oleh
Bupati saat berkunjung di Pesantren Maqnaul Ulum Sukowono Jember

Jember, petisi.co – Dalam acara “Gus’e Menyapa” yang digelar di Pondok Pesantren Magnaul Ulum, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono, Bupati Jember, Muhammad Fawait atau yang akrab disapa Gus Fawait, mengingat kembali perjuangan politiknya yang berangkat dari pesantren dan tekadnya untuk memperjuangkan hak-hak santri di Kabupaten Jember.

“Tidak banyak pesantren yang berani mendeklarasikan dukungan kepada seorang santri yang nekat. Saya katakan nekat, karena saya ini calon bupati muda, dan baru kali ini dalam sejarah Jember, seorang santri asli bisa menjadi bupati,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut Gus Fawait, terpilihnya dirinya sebagai Bupati Jember menjadi momentum penting agar santri mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam pembangunan daerah.

Ia pun memperkenalkan sejumlah kebijakan afirmatif, salah satunya beasiswa khusus santri yang dimulai digulirkan pada tahun 2025.

“Kalau dulu beasiswa hanya untuk kategori hafidz, maka mulai tahun 2025 kita buka beasiswa khusus santri sebagai bentuk rasa syukur karena bupatinya sekarang adalah santri,” tegasnya.

Selain itu, Gus Fawait juga menyoroti perubahan sistem pemberian insentif guru ngaji. Jika sebelumnya dibagikan dengan antrian panjang, kini Pemkab Jember berkolaborasi dengan camat dan kepala desa agar insentif dapat diberikan secara langsung dan terhormat.

“Mulai tahun ini, insentif guru ngaji tidak perlu antri berjam-jam. Kita berikan dengan cara yang lebih terhormat,” ujarnya.

Dalam momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November, Gus Fawait juga mengingatkan peran besar ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Ia menyinggung fatwa Hadradus Syekh KH Hasyim Asy’ari yang menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.

“Banyak kiai dan santri yang gugur mempertahankan kemerdekaan. Maka sudah seharusnya pemerintah hari ini memberi perhatian lebih kepada pesantren dan para santri,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Fawait menekankan pentingnya sektor pertanian bagi kemandirian bangsa. Ia menegaskan, negara yang kuat di masa depan bukan yang menguasai senjata, tapi yang mampu menguasai pangan.

“Presiden Prabowo menaruh perhatian besar pada sektor pertanian. Bahkan tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, harga pupuk subsidi diturunkan. Itu bukti keberpihakan pemerintah,” ungkapnya.

Menurutnya, Jember yang dulunya dikenal sebagai lumbung pangan kini mengalami penurunan produktivitas dan tertinggal dari Lamongan serta Ngawi. Karena itu, pada 2025–2026, Pemkab Jember akan menggelontorkan anggaran pertanian terbesar dalam 40 tahun terakhir, baik dari APBD maupun dari dukungan pemerintah pusat.

“Kami bertekad mengembalikan kejayaan pertanian Jember. Infrastruktur pertanian akan kami bangun kembali agar petani kita sejahtera,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Gus Fawait juga memperkenalkan inovasi pelayanan publik seperti “Wadul Gus’e”, saluran pengaduan langsung antara rakyat dan bupati.

Selain itu, mulai Januari 2026, warga Jember dapat mencetak KTP langsung di kantor kecamatan tanpa harus datang ke Dispendukcapil.

“Kita ingin mendekatkan penguasa dengan rakyatnya. Pemerintah harus hadir melayani, bukan dilayani,” pungkasnya.

Acara pembinaan kelompok tani di Desa Sukorejo ini menjadi bagian dari program Gus’e Menyapa, wadah silaturahmi sekaligus sarana komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. (zen)

No More Posts Available.

No more pages to load.