DASH 2025 Perkuat Edukasi Anti-Bullying di Sekolah Surabaya

oleh -830 Dilihat
oleh
Sosialisasi Program DASH di salah satu sekolah negeri di Surabaya

Surabaya, petisi.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Surabaya terus memperkuat edukasi remaja melalui program Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH) 2025. Program ini dirancang untuk membekali generasi muda menghadapi tantangan era digital, terutama bullying dan pengaruh negatif media sosial.

Sosialisasi terbaru digelar di SMP dan SMA Dharma Wanita Persatuan (Dhani) Surabaya, Kamis (20/11/2025). Materi dibawakan dari dua sudut pandang, yaitu psikologi dan hukum, untuk menegaskan bahwa bullying bukan sekadar perilaku negatif, tetapi pelanggaran yang berdampak serius.

Penasihat DWP Surabaya, Rini Indriyani, menjelaskan bahwa remaja adalah kelompok paling rentan karena sedang mencari jati diri. Mereka mudah terpengaruh pergaulan, tekanan sosial, dan paparan konten digital yang tidak sehat.

Melalui DASH, edukasi dibawa langsung ke sekolah—mulai SD, SMP, MI, MTs, hingga pesantren. Materi yang diberikan mencakup pencegahan bullying, penguatan konsep diri, penggunaan internet sehat, bahaya zat adiktif, hingga cara menghadapi masalah sehari-hari.

“Pembinaan anak tidak bisa dilakukan satu pihak. Ketika sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah berjalan bersama, anak-anak tumbuh lebih kuat dan percaya diri,” ujar Rini.

Ia mengapresiasi pemahaman siswa Dhani yang sudah mengenali bentuk perundungan, termasuk kesetaraan gender, cyberbullying, dan verbal abuse. Namun ia tetap mengingatkan bahwa bullying dapat memicu dampak berat jika dibiarkan.

“Korban bisa berubah menjadi pelaku. Jika tidak ditangani, perundungan dapat mengarah pada tindakan kriminal,” tegasnya.

Rini menilai pendekatan persuasif adalah cara paling efektif. Nilai dan motivasi yang diberikan berulang akan tertanam dalam pola pikir anak, membentuk karakter yang lebih sehat. Ia juga membagikan kisah seorang siswa korban perundungan yang akhirnya pulih berkat dukungan orang tua dan guru.

“Cerita ini mengingatkan kita bahwa peran orang tua dan guru sebagai tempat curhat yang nyaman sangat penting,” katanya.

Ketua Yayasan SMP–SMA Dhani, Dameria Triana Ambuwaru, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemkot Surabaya. Ia menegaskan bahwa yayasan terus bekerja sama dengan Dispendik dan DP3APPKB untuk memperkuat nilai budi pekerti dan pelajaran agama dalam kurikulum.

Dameria juga menyoroti minimnya waktu pendampingan anak akibat kesibukan orang tua. Karena itu, Yayasan Dhani akan menggelar Kelas Parenting pada 2 Desember 2025, mengundang narasumber yang kompeten.

“Kami ingin orang tua dan guru menjadi teman curhat yang nyaman agar bullying dapat dicegah sejak dini,” ujarnya.

Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh, menegaskan bahwa program ini bertujuan memastikan Sekolah Ramah Anak terwujud secara nyata. Guru diminta menciptakan suasana yang aman, menyenangkan, dan mendukung perkembangan anak.

Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) akan diperkuat sebagai garda depan. Guru BK di SMP dan guru kelas 4–5 SD akan menjadi pendamping utama siswa. Fokusnya bukan hanya pencegahan kekerasan fisik atau seksual, tetapi juga membangun ruang aman bagi anak untuk bercerita.

“Kami memaksimalkan fungsi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Guru harus peka terhadap perubahan emosi anak, seperti murung atau menarik diri. Deteksi cepat akan mencegah masalah menjadi serius,” jelas Yusuf.

Ia mengingatkan bahwa era digital menjadi pemicu besar lahirnya perilaku meniru tanpa memahami dampaknya. Karena itu, penguatan toleransi, empati, dan interaksi sosial yang sehat menjadi prioritas utama. Konselor sebaya juga akan dibentuk sebagai pilihan saluran curhat yang ramah.

“Bullying berawal dari kurangnya toleransi. Jika guru tidak sigap, kasus bisa berlarut dan merusak mental anak. Kuncinya adalah deteksi cepat dan penyelesaian dini,” pungkasnya. (dvd)

No More Posts Available.

No more pages to load.