Surabaya, petisi.co – Diwarnai aksi Walk Out (WO) Pengurus Cabang (Pengcab) dan Perguruan, Johanes Koento akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) FORKI Jawa Timur (Jatim) periode 2026-2030 dalam Musprov Forki Jatim di Surabaya, Minggu (19/4/2026).
Sebanyak 16 pengcab dan 9 perguruan karate menarik diri dari arena Musprov, karena tidak puas dengan pimpinan sidang yang menggugurkan calonnya, Purwanto dari penjaringan calon ketua. Mereka beralasan pengurus punya hak untuk mencalonkan sebagai ketua.

“Pencoretan pak Purwanto itu melanggar hak asasi manusia (HAM). Siapapun itu, baik pengurus dan perguruan punya HAM untuk mencalonkan dan dicalonkan. Kalau dipaksakan dicoret, lebih baik saya WO,” kata salah satu perwakilan pengcab Forki.
Langkah WO pengcab ini diikuti rekan-rekannya pendukung Purwanto. Puluhan pengcab Forki yang memilih WO, antara lain Forki Kabupaten Bondowoso, Magetan, Blitar, Bojonegoro dan kab Lamongan.
Mereka keluar dari ruangan, karena kecewa dengan keputusan ketua sidang, Awang yang tak meloloskan jagonya. Bahkan, di antara mereka ada yang berteriak akan mempidanakan hasil Musprov. “Nanti akan saya pidanakan,” teriaknya sambil meninggalkan ruangan.
Berdasarkan hasil rapat pleno, sudah diputuskan jika unsur Ketua, Sekretaris dan Bendahara FORKI Jatim periode sebelumnya dilarang mencalonkan diri, imbas dari penolakan LPJ yang dinilai tidak transparan. Purwanto yang masih nekat mencalonkan diri membuat suasana menjadi ricuh.
Rapat pleno beberapa kali diwarnai ketegangan. Diawali dari penolakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Ketua FORKI lama, Samsul yang hanya lima lembar dan tidak dibagikan ke peserta Musprov. Puncaknya, terjadi saat pembahasan calon ketua umum.
Dalam penjaringan nama calon ketua yang diulang, muncul dua calon yang mengajukan diri, yaitu Johanes Koento dan Purwanto yang sebelumnya menjabat Sekretaris FORKI Jatim.
Pimpnan sidang Awang mencoba bijak menawarkan voting setuju atau tidak nama Purwanto maju sebagai calon ketua umum FORKI Jatim. Namun, kubu Purwanto menolak dan memilih WO. Total ada 16 pengcab dan 9 perguruan yang keluar ruangan.
Gugurnya Purwanto dari penjaringan calon ketua, praktis memuluskan langkah Johanes Koento memimpin FORKI Jatim. Dengan mendapat dukungan 22 pengcab dan 13 perguruan, Kunto terpilih secara aklamasi. Total jumlah suara yang direbutkan sebanyak 65.
“Dalam musyawarah olahraga ada yang meninggalkan arena itu sudah biasa. Silahkan saja jika ada yang memilih walk out. Hasil dari Musprov ini sah dan akan segera kita laporkan ke PB FORKI,” ucap Ketua sidang Awang.
Usai terpilih, Johanes Koento menyampaikan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya untuk memimpin FORKI Jatim. Ke depan, dia berharap FORKI Jatim lebih baik melalui peningkatan prestasi atlet, pelatih dan wasit.
Terhadap pengcab dan perguruan yang WO, Koento berharap ke depan perbedaan pilihan ini bisa terkikis. Dimana-mana perbedaan pasti ada. Sebagai ketua terpilih, dia akan berupaya merangkul, mengajak mereka untuk bersama-sama membangun FORKI yang lebih baik lagi.
“Sekarang kita melihat kepentingan apa yang mau dikejar, perorangan, individu atau organisasii. Harapan saya ayo sama-sama membangun FORKI menjadi lebih baik. Paling tidak ada pertumbuhan, terutama prestasi,” ujar mantan karateka nasional yang disegani ini.
Sebaik apapun organisasi, lanju Kunto, ujungnya adalah prestasi. Maka program ke depan, adalah mengkolaborasi progam peningkatan kualitas pelatih dan wasit juri. Dari sisi organisasi kita akan transparan dan profesional dengan kepengurusan baru yang lebih fresh.
“Selain itu kita juga akan gandeng berbagai pihak seperti UNESA dan lain-lain. Kita harus mengikuti perkembangan, seperti memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan prestasi atlet,” paparnya. (bm)







