Surabaya, petisi.co – Komedian sekaligus pendakwah HM Cheng Hoo Djadi Galajapo kembali menorehkan karya lewat peluncuran buku ke-8 miliknya yang berjudul “60 Fatwa Imam Besar Pelawak Indonesia”. Acara peluncuran berlangsung meriah di RM Pecel Bu Kus, Jl. Barata Jaya XX Surabaya, pada Jumat (7/3). Buku ini menjadi istimewa karena sekaligus menandai ulang tahun ke-60 Djadi Galajapo. Hadir dalam acara tersebut wartawan senior yang juga penyair, Amang Mawardi dan Toto Sonata.
Dikemas dengan desain menarik dan dicetak semi-lux setebal 80 halaman, buku ini diterbitkan oleh Penerbit Meja Tamu Sidoarjo. Sesuai dengan usianya yang genap enam dekade, buku ini berisi 60 ungkapan atau pepatah khas sang penulis yang sarat dengan pesan keagamaan dan kehidupan. Menariknya, setiap nasihat dikemas dengan sentuhan humor yang menjadi ciri khas Djadi.
Dalam buku ini, kata ‘Fatwa’ yang digunakan dalam judul ternyata merupakan akronim dari “wafat dengan tertawa”. Menurut Djadi, harapannya adalah agar setiap orang bisa kembali ke rumah Tuhan dengan bahagia dan penuh cinta.
“Semoga fatwa bisa menjadikan kita wafat dengan tertawa. Pulang dengan gembira ke rumah kita bersama, rumah kasih sayang yang penuh dengan cinta,” ujar Djadi dengan senyum khasnya.
Selain itu, buku ini juga dipenuhi akronim-akronim unik yang menjadi salah satu ciri khas Djadi saat tampil di panggung. Salah satunya adalah Fatwa 2: “Islam terpecah menjadi 73 golongan, yang masuk surga adalah golongan ISLAM KTP (Indah, Sabar, Lembut, Adil, Mendamaikan, Komitmen terhadap Pancasila).”
Begitu juga dengan Fatwa 48 yang menggambarkan karakter arek Suroboyo dengan akronim JANCUKAN (Jujur, Adil, Nasionalis, Cerdas, Ulet, Kreatif, Anti-maksiat, Nurut aturan). Melalui buku ini, Djadi ingin menyampaikan pesan bahwa humor dan dakwah bisa berjalan beriringan.
Ketua Umum Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI), Jarwo Kwat, turut memberikan apresiasi dalam pengantar buku ini. Ia menilai bahwa buku ini bukan hanya menghibur, tetapi juga memberikan wawasan dan refleksi hidup dari sudut pandang seorang pelawak.
Djadi Galajapo, yang memiliki nama asli Sudjadi, lahir di Cerme, Gresik, dan telah berkecimpung di dunia lawak sejak tahun 1980 saat masih duduk di bangku SMP. Setelah menyelesaikan pendidikannya di IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa), ia sempat mengajar di SMP dan SMA sebelum akhirnya fokus berkarir sebagai komedian. Namanya semakin dikenal setelah membentuk grup lawak Galajapo bersama Lutfie dan Priyo Aljabar, yang terbentuk usai menjuarai lomba lawak harian Jawa Pos tahun 1980.
Meski kedua rekannya telah berpulang, Djadi tetap mempertahankan nama Galajapo di belakang namanya sebagai bentuk penghormatan. Kini, di usianya yang ke-60, Djadi terus berkarya dan menginspirasi, membawa tawa yang bermakna bagi banyak orang. (cah)





