Dosen dan Mahasiswa Unitomo-Untag Dampingi Batik Namiroh Tingkatkan Kualitas Produk

oleh -451 Dilihat
oleh
Serah terima mesin robot perancang motif batik kepada Mitra IRT Batik Namiroh Sidoarjo disaksikan Kepala LPPM Unitomo Prof. Dr. Nur Sayidah, SE, M.Si.Ak

Sidoarjo, petisi.co – Inovasi teknologi kini merambah dunia batik. Tim dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya bersama Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya memperkenalkan mesin robot motif batik portabel kepada Industri Rumah Tangga (IRT) Batik Namiroh, Sidoarjo. Inovasi ini diyakini mampu meningkatkan produksi hingga 40 persen sekaligus memperkaya variasi motif.

Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang berlangsung sejak 9 Juni hingga 17 September 2025 ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat – DPPM Kemdiktisaintek dengan tema “PKM Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Berbasis Green Economy di Kampung Batik Kabupaten Sidoarjo.”

Pelatihan pembuatan packaging untuk produk IRT Batik Namiroh Sidoarjo

Tim pelaksana terdiri dari tiga dosen: Dr. Yoosita Aulia, SE., MM., Ak. (ketua tim, Prodi Akuntansi Unitomo), Dr. Dian Ferriswara, SE., MM. (Prodi Administrasi Niaga Unitomo), serta Maula Nafi, ST., MT. (Prodi Teknik Mesin Untag). Mereka juga melibatkan tiga mahasiswa Unitomo, yakni Emylia Mukmillah, Adista Ratih Cahyani Ramadhan, dan Rizqi Lailatul Hasanah.

Ketua tim, Yoosita Aulia, mengungkapkan kondisi produksi Batik Namiroh masih serba terbatas. Produk didominasi batik sintetis, ruang kerja sempit dan kumuh, hingga penataan galeri yang kurang representatif. “Proses produksi banyak dilakukan di teras rumah, bahkan proses penghalusan kain masih memakai palu kayu,” jelasnya.

Dian Ferriswara menambahkan, keterbatasan pengemasan juga menurunkan nilai jual. “Selama ini kain batik hanya dilipat dan diikat per lima potong. Branding jadi lemah, harganya pun murah,” ujarnya. Ia juga menyoroti lemahnya pencatatan keuangan dan minimnya jumlah pengrajin aktif.

Untuk menjawab tantangan itu, tim menghadirkan mesin robot motif batik berukuran 60 x 100 sentimeter. Alat ini dapat menyelesaikan pola hanya dalam tiga jam, jauh lebih cepat dibanding cara manual yang bisa memakan waktu hingga tiga minggu. “Mesin ini membantu mempercepat produksi, menghemat bahan, sekaligus memungkinkan pembuatan motif baru, termasuk logo instansi,” kata Yoosita.

Selain memberikan pelatihan, tim juga menghibahkan satu unit mesin kepada mitra. Maula Nafi menegaskan, teknologi ini bukan untuk menggantikan sepenuhnya proses manual, melainkan melengkapinya. “Batik tetap dijaga nilai historisnya, tapi kini pengrajin bisa berproduksi lebih cepat dan variatif,” jelasnya.

Dengan adanya inovasi ini, Batik Namiroh diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memberdayakan pengrajin muda, serta menjaga kelestarian batik melalui pendekatan teknologi ramah lingkungan. (cah)

No More Posts Available.

No more pages to load.