Era Digital Serba Cepat, DPRD Sidoarjo Minta Dinas Kominfo Lebih Kreatif dan Inovatif

oleh -663 Dilihat
oleh

Sidoarjo, petisi.co – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sidoarjo memberikan dukungan dan apresiasi kepada Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Sidoarjo, atas upayanya mengenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas. Dua kegiatan yang baru saja digelar yakni Workshop Mobile Journalism dan Anugerah Jurnalistik Sidoarjo 2025, menjadi salah satu bukti, peran penting Kominfo dalam mengangkat kearifan lokal.

Kominfo Sidoarjo mengklaim kedua acara yang dikemas dalam bentuk edukasi literasi digital tersebut, berjalan sukses dan mulus. Namun demikian, DPRD melihat masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, agar ke depan, target dari program serupa diharapkan bisa tercapai maksimal.

Ketua DPRD Sidoarjo, H. Abdillah Nasih mengapresiasi program Dinas Kominfo Sidoarjo dalam acara Award Jurnalis Sidoarjo 2025

“Setelah mengikuti dua program acara Kominfo Sidoarjo tersebut, saya mencatat ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Salah satunya keterlibatan aktif masyarakat Sidoarjo yang kurang maksimal, khususnya untuk produk jurnalistik yaitu lomba karya tulis, fotografi dan vlog video competition,” ungkap Ketua DPRD Sidoarjo, H. Abdillah Nasih, Kamis (25/9/2025).

Abdillah Nasih mencatat jumlah peserta yang jauh dari harapan mengindikasikan panitia tidak matang dalam kesiapan acara dan publikasi juga kurang maksimal. Karena itu, ke depan, ia meminta kepada panitia penyelenggara harus lebih mempersiapkan diri, sehingga jumlah peserta dari semua segmen usia bisa tercover dengan baik.

Abdillah Nasih menyerahkan trophy dan hadiah kepada salah satu pemenang Award Jurnalis Sidoarjo 2025

“Sumber data panitia acara Sidoarjo Heritage 2025, diketahui hanya diikuti 78 orang peserta. Sedangkan kegiatan workshop dihadiri sekitar 200 orang saja. Ini menunjukan panita kurang matang dalam mempersiapkan acara. Ke depan panitia dalam hal ini, Kominfo harus lebih meningkatkan persiapannya sehingga jangkauan peserta bisa makin luas mencakup semua usia,” tandasnya.

Politisi senior asal Partai Kebangkitan Bangsa ini meminta Kominfo tidak sekedar melakukan promosi kegiatan dan menggelarnya kemudian selesai sampai disitu. Namun juga diharapkan mampu melihat potensi yang lebih jeli, terutama dalam mengemas acara.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih (3 dari kiri) foto bersama dengan penyelenggara Diskominfo dan para pemenang Award Jurnalis Sidoarjo 2025

“Harapannya program acara yang telah lama dirancang bagus ini jangan digarap asal-asalan. Namun harus didesain sekreatif mungkin, disesuaikan dengan era perubahan kekinian yang serba cepat,” ujarnya.

Abdillah Nasih mengakui produk jurnalistik seperti foto maupun vlog video yang paling aktif mengisi ruang media sosial adalah Gen Z. Maka Kominfo harus segera adaptasi dengan perkembangan kekinian tersebut.

“Contoh jika membuat acara, harus dikemas semenarik dan sekreatif mungkin. Karena foto dan vlog video sifatnya visual dan kita tahu, saat ini layar medsos didominasi anak muda. Maka jika diperlukan buat sekalian program yang unik disesuaikan selera Gen Z,” tuturnya.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih meninjau pameran karya peserta lomba foto Sidoarjo Heritage 2025

Wakil rakyat yang akrab dipanggil dengan sebutan Cak Nasih ini mengingatkan agar Kominfo tidak salah dalam menyusun formula target program. Selain mampu membuat produk jurnalistik konvensional juga diharapkan melakukan terobosan atau inovasi dengan kombinasi jurnalistik gaya anak muda.

“Gen Z, pegiat medsos, blogger hingga youtuber atau biasa disebut sebagai netizen, sudah pasti, kesehariannya tidak lepas dari genggaman HP. Mereka ini rata-rata usia muda, yang menjadi target program dari Kominfo. Supaya sesuai harapan, mereka harus dibekali kemampuan dan pengetahuan yang baik terkait penggunaan alat jurnalistik berupa HP. Sehingga konten yang mereka buat dan unggah di medsos sesuai dengan keinginan dan tujuan Kominfo,” tandasnya.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih (2 dari kiri berkopiah) saat menjadi salah satu pemateri dalam workshop mobile journalism yang digelar Diskominfo Sidoarjo

Sisi lain, Cak Nasih memberikan penekanan pentingnya, dalam penyelenggaraan acara harus dipilih tempat yang bisa mengena masyarakat luas. Ia menyayangkan jika produk jurnalistik yang dipamerkan digelar di tempat yang sempit, tertutup dan hanya bisa diketahui kalangan terbatas.

“Contoh acara Sidoarjo Heritage Writing, Photo, And Vlog/Video Competition, karyanya dipamerkan di ruang pendopo kabupaten. Karena ruangan sempit dan kurang terbuka. Sehingga yang bisa melihat hanya kalangan tertentu. Coba digelar di tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan, pasti yang lihat lebih banyak. Sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa terdistribusi lebih luas,” ujarnya.

Cak Nasih optimis jika pilihan lokasi acara tepat, maka upaya melakukan branding Sidoarjo menuju Smart City akan lebih mudah tercapai. Selain itu, ia mengharapkan Kominfo memiliki strategi promosi yang tepat dalam mengenalkan program lomba dan anugerah jurnalistik kepada masyarakat.

“Menurut saya, program ini sudah bagus, tetapi Eman sekali cara kemas dan promosinya kurang tepat. Semisal bikin lomba foto dan video vlog lagi, alangkah baiknya jika diawali dengan strategi launching di alun-alun sehingga masyarakat bisa mengetahui ada kegiatan tersebut. Mulai dari jadwal dimulainya lomba kapan dan ditutup tanggal berapa,” ucapnya memberi contoh strategi promosi.

Cak Nasih juga mengusulkan pada event mendatang kategori lomba lebih diperbanyak agar peserta yang mendaftar bisa meningkat dibandingkan sebelumnya. Kategori tambahan yang dimaksud antara lain cagar budaya, pariwisata, kesenian, hingga produk hasil alam.

“Hampir semua sekolah dan kampus, saat ini kita tahu, ada ekstrakurikuler fotografi atau videografi. Ini sebetulnya menjadi pangsa pasar bagi peserta lomba. Apalagi jika kategori diperbanyak, otomatis pesertanya juga bertambah,” ujar legislator yang dikenal ramah dan murah senyum ini.

Cak Nasih juga menaruh harapan besar kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Kabupaten Sidoarjo, untuk bisa bekerjasama dengan Kominfo demi mewujudkan cita-cita bersama menuju Smart City. Supaya keinginan itu bisa tercipta, dibutuhkan energi konvergensi informasi yang terpusat dan terpadu.

“Memang harus di akui OPD yang ada di Sidoarjo masih banyak yang mengedepankan ego sektoral atau parsial. Namun demikian, ke depan, saya mengharapkan setiap program dari OPD bisa dikerjasamakan dengan Kominfo dan stakeholder yang ada, sehingga bisa saling mengisi, demi terwujudnya harapan bersama ke arah smart city, ” bebernya.

Selain Kominfo, lanjutnya, peran Bappeda juga tidak kalah penting sebagai play maker dalam membangun kerjasama publikasi dan layanan masyarakat. “Dalam hal ini Kominfo menjadi leading sektor publish bekerjasama Bappeda sebagai play maker. Kominfo menyiapkan instrumen di masing-masing OPD yang kemudian terkoneksi terpusat di satu titik,” kata dia.

Ketua DPRD Sidoarjo ini memastikan adanya keuntungan dari kerjasama dan kekompakan yang baik antar OPD dengan Kominfo. Salah satu diantaranya, mampu menangkal informasi bohong (hoaks) dan serangan pengaruh negatif yang banyak beredar di ruang digital. “Sudah saatnya, OPD-OPD lainnya bersama Kominfo membuat inovasi kerjasama untuk membentengi diri dari membanjirnya informasi bohong dan serangan negatif seperti haters,” tegasnya.

Untuk bisa mewujudkan itu, lanjutnya, Kominfo harus segera menyiapkan suatu instrumen software atau perangkat lunak yang terkoneksi dengan seluruh OPD. Mata rantai komunikasi keseluruhan dari OPD itu, kemudian terhubung menjadi satu dan terpusat di Kominfo.

“Kominfo diharapkan secepatnya membuat inovasi semacam instrumen perangkat lunak yang terkoneksi sentral atau terpusat. Sehingga ketika ada hal negatif cepat dilakukan tindakan meng-eliminir dengan cara yang tepat dan terukur,” urainya.

Cak Nasih mengajak seluruh masyarakat bijak dalam menggunakan HP sehingga tidak mudah terpengaruh ajakan negatif serta tidak turut menyebarkan konten bermuatan pesan bohong. Tanggungjawab ini, dirasa tidak hanya dibebankan di pundak Kominfo, namun juga harus disadari milik bersama.

“Saya melihat Kominfo sudah berikhtiar dengan mengedukasi masyarakat melalui acara workshop kemarin. Masyarakat diarahkan menggunakan HP untuk kegiatan yang positif. Semisal mencari sumber pengetahuan yang belum diketahui. Selama itu, HP digunakan untuk hal baik, tidak masalah. Maka, ini menjadi tanggungjawab bersama, mengawal agar semua informasi tentang Sidoarjo di media sosial tidak dikotori,” ucapnya penuh harap.

Cak Nasih berpesan kepada Kominfo agar cepat melakukan adaptasi dengan membaca arah perubahan era digital yang begitu cepat. Caranya dengan merangkul seluruh netizen untuk diajak berkolaborasi.

“Netizen ini menjadi suatu kekuatan yang luar biasa. Masyarakat tradisional sekarang sudah bertransformasi menjadi netizen di ruang digital. Mereka bisa meluapkan apa saja di medsos. Maka Eman jika kekuatan ini tidak digandeng. Mereka cukup pentingnya perannya dalam memberikan masukan arah perencanaan pembangunan Sidoarjo. Ini tugas dan peran Kominfo sebagai katalisator,” tandasnya.

Ketua DPC PKB Sidoarjo ini juga mengingatkan peran dan fungsi Kominfo sebagai fasilitator diharapkan bisa menyediakan ruang untuk anak muda dalam menjaga dan mengawal ruang digital utamanya medsos agar terbebas dari konten negatif. Interaksi yang terbangun antara Kominfo dengan pegiat digital akan terbentuk sinergi yang mampu menangkal informasi destruktif.

“Sudah saatnya dibuatkan work space bagi netizen usia muda. Apakah di sudut mall atau di area publik. Mereka ini harus dirangkul dan diajak diskusi untuk menyamakan persepsi. Dengan begitu, para pegiat digital ini bisa dibentuk menjadi semacam pasukan penjaga ruang digital,” tegasnya.

Sementara untuk mencegah dan menekan angka kriminalitas, Kominfo diharapkan bisa menjadi kepanjangan lidah dari perangkat penegak hukum. Caranya harus gencar mengedukasi masyarakat melalui konten-konten yang dikemas menarik dan kreatif.

“Sebagai contoh Kominfo bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional atau BNN, terkait pencegahan bahaya narkoba. Pesan yang disampaikan harus dikemas disesuaikan dengan usia sasaran. Misal video untuk anak SMA tentu cara kemasnya beda dengan penyampaian wawasan bagi orang dewasa,” pungkasnya. (luk/adv)

No More Posts Available.

No more pages to load.