Fight Club In The Jungle Semarakkan The Seven Lakes 2025

oleh -474 Dilihat
oleh
Fight club in the jungle menjadi satu rangkaian kegiatan dalam The Seven Lakes Festival Probolinggo Paradise 2025

Probolinggo, petisi.coFight club in the jungle menjadi satu rangkaian kegiatan dalam The Seven Lakes Festival Probolinggo Paradise 2025, dengan mengambil lokasi kegiatan di area hutan pinus Pesanggrahan Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo gelaran tersebut terlaksana dengan spektakuler.

Gelaran pertarungan yang mengusung konsep outdoor ini langsung mendapat sambutan luas dari masyarakat. Sejak pagi warga dari berbagai kecamatan berdatangan untuk menyaksikan pertarungan di arena terbuka yang menawarkan suasana berbeda di tengah rimbunnya hutan pinus.

Bupati Probolinggo, Mohammad Haris menegaskan tradisi pertarungan bebas yang digelar pada momentum tertentu telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat. Kegiatan ini tidak dimaknai sebagai ajang adu kekuatan semata, tetapi wadah mempererat persaudaraan.

“Dulu guru kami mempunyai tagline ‘di atas lawan dan di bawah kawan, artinya persoalan harus selesai dengan saling memaafkan dari situlah tradisi pertarungan ini bermula sebagai forum silaturahmi,” kata Mohammad Haris.

Bupati Haris menambahkan arena pertarungan seperti ini menjadi ruang aman untuk menyalurkan adrenalin para pemuda sehingga terhindar dari aksi negatif di jalanan. “Kalau merasa jagoan jangan tawuran di jalan, datang ke sini kita siapkan ring, wasit dan aturannya ini tempatnya bukan di jalanan,”ujarnya.

Lebih jauh Bupati Haris menyampaikan keinginannya agar tradisi ini terus berkembang secara modern dan bahkan menjadi ikon sport tourism Kabupaten Probolinggo. Bahkan kalau bisa pertarungan di atas bukit ini kita masukkan rekor MURI karena mungkin saja menjadi pertarungan tertinggi di dunia.”Pertandingan ini bukan tentang menang atau kalah tapi tentang membangun persaudaraan dan kebersamaan, semoga menjadi awal yang baik bagi kita semua,”ungkapnya.

Sementara Ketua Pengkab MMA Probolinggo Jeffrey Djintoro menegaskan bahwa pemilihan lokasi ini sekaligus menghadirkan pengalaman berbeda bagi para petarung dan penonton. “Arena di tengah pepohonan memberikan suasana yang lebih natural dan menantang, sejalan dengan tema festival yang mengangkat sport tourism berbasis alam,” pungkasnya. (adv/reb)