FKMJ Peringati Hari Kesaktian Pancasila di Pendopo Agung Jombang

oleh

JOMBANG, PETISI.CO – Mengingat kembali peristiwa kelam tanggal 30 September 1965 yang menggugurkan Pahlawan Revolusi Indonesia sangatlah perlu untuk lakukan peringatan.

Aksi brutal yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu sangat melukai hati rakyat Indonesia.

Dengan adanya isu dewan jenderal PKI melakukan aksi penculikan dan pembunuhan para jenderal yang tidak berdosa.

Para pahlawan Revolusi yang gugur adalah Ahmad Yani, Donald Isaac Pandjaitan, Katamso Darmokusumo, MT Haryono,Suprapto, S Parman, Sutoyo Siswomiharjo, R Sugiyono Mangunwiyoto, Karel Satsuit Tubun, Pierre Tendean ajudan Ahmad Yani.

Untuk mengenang dan mengingat kembali peristiwa kelam tersebut, Forum Komunikasi Masyarakat Jombang (FKMJ) menyelenggarakan acara  peringatan Hari Kesaktian Pancasila di pendopo Agung Kabupaten Jombang, Selasa (02/10/2018).

Acara yang dihadiri oleh Wakil Bupati Jombang Sumrambah juga dari PCNU, Pengurus Muhamadiyah LDII, ANSOR, Banser, umat Kristen, umat Hindu Budha serta aliran kepercayaan ini dimulai jam 19.00 wib dengan ditampilkan seni tari dari berbagai wilayah Indonesia.

Dalam sambutannya, Ketua FKMJ Kabupaten Jombang KH. Isrofil Amar menyampaikan, “Saya berterima kasih kepada Pemkab Jombang yang telah memfasilitasi FKMJ, sehingga acara peringatan hari kesaktian Pancasila bisa terlaksana,” ujarnya.

Kata KH Isrofil Anwar, negara melalui Tap MPRS nomor XXV/MPRS tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, Pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan paham ajaran komunis/Marxisme Leninisme yang berlaku sejak 5 Juli 1966.

“Kalau sekarang masih ada kelompok atau pihak pihak yang ingin merongrong Pancasila, maka pemerintah harus tegas menindaknya,” ujarnya tegas.

Selaras dengan KH. Isrofil Amar, Wakil Bupati Jombang Sumrambah mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang dilaksanakan FKMJ ini merupakan kegiatan yang patut diapresiasi, karena yang hadir disini ada yang kulitnya hitam sawo matang ada yang matanya sipit ada dari Jawa, Bali, Batak dari Melayu dari Sulawesi dan dari Papua.

“Inilah bentuk kebhinnekaan kita,” ujarnya.

Kedepan, bangsa kita masih akan menghadapi penjajah, tapi tidak seperti penjajah Belanda atau Jepang.  “Akan tetapi penjajahan Neo Liberalisme, yaitu menjajah lewat ekonomi kita,” ungkap Wakil Bupati. (prw/her/cho)

No More Posts Available.

No more pages to load.