Gagal Pertahankan Posisi Runner Up di Ajang Porprov Jatim 2025, Leadership Ketua KONI Sidoarjo Dipertanyakan

oleh
oleh
Foto sesaat dilantik menjadi ketua KONI Sidoarjo terpilih, Imam Muchri Affandi (hem putih no 2 dari kiri)

Sidoarjo, petisi.co – Nama Ketua Komite Olahraga Indonesia (KONI) Sidoarjo, Imam Muchri Affandi paling banyak disebut sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas kegagalan mempertahankan posisi Runner up di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim IX tahun 2025.

Hal itu terungkap, saat 49 ketua dan perwakilan pengurus Cabang Olahraga (Cabor) Sidoarjo menghadiri hearing atas undangan legislatif di gedung DPRD Sidoarjo, Kamis (10/7/2025). Dalam penyampaian Pendapat di hadapan Komisi D, DPRD Sidoarjo mayoritas ketua Cabor mengeluhkan leadership ketua KONI Sidoarjo.

Komisi D DPRD Sidoarjo menampung keluhan dan masukan dari ketua/pengurus cabor dalam hearing

“Selama Porprov berlangsung di Malang, saya tidak pernah melihat Ketua KONI Imam Muchri datang untuk mendukung para atlet. Padahal, kehadiran pimpinan bisa menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi para atlet yang sedang berjuang,” kata Awan Indrawan, Ketua Umum Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Sidoarjo.

Awan menyebut Cabor karate Sidoarjo, kerap menjadi juara umum, namun kurang mendapat perhatian dari Ketua KONI. Harapannya jika bisa membangun komunikasi dengan ketua KONI, maka upaya pembinaan prestasi karateka terus meningkat, namun upaya yang dilakukan selalu gagal.

“Saya sampai curhat ke Pak Doso (Doso Wardoyo, Ketua Umum Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia/Porserosi Sidoarjo) dan teman-teman cabor lain. Terkait kesulitan komunikasi dengan Pak Imam Muchri, termasuk tata kelola nyaris kami tidak dapatkan. Bagi saya ini pertamakali mengikuti kejuaraan tapi gak tau pimpinan saya mana,” tandas Awan.

Karena itu, ia mencoba mengkritisi sikap acuh ketua KONI Sidoarjo yang cenderung sulit diajak berkomunikasi. Padahal permintaannya sederhana, minimal Imam Muchri bersedia mendengarkan keluh kesah pengurus cabor.

“Ketua KONI sulit dihubungi. Yang kami minta sebetulnya, minimal mendengar keluhan kami. Lha kalau mendengar saja tidak mau, bagaimana bisa mengurus. Kesimpulannya ada istilah The right man on the right place. Kalau tidak paham olahraga Yo takono koncomu (silahkan tanya temanmu) atau belajarlah. Jujur, ini kami semua mengalami kesulitan berkomunikasi,”  keluh Awan.

Keluhan senada juga disampaikan Purwanto, Ketua Pengkab Muaythai Sidoarjo, Ika Adinda dari Cabor Gulat, dan Nita Herliyanti Ketua Cabor Wushu yang bergantian menyampaikan pendapat.

“Untuk sekelas konsumsi saja, para atlet baru dapat dana di hari keempat Porprov. Itupun anggarannya turun tidak sesuai pengajuan, kondisi seperti ini, perhatian KONI kurang dan cenderung tidak peduli terhadap dinamika yang terjadi lapangan. Padahal di lapangan itu dibutuhkan lobi-lobi untuk mempertahankan kemenangan. Ini tidak ada sama sekali suportnya dari KONI,” tegas Nita.

Sementara dari Yusuf Satriono, Ketua Pengkab Cabor Percasi menyayangkan proses pemilihan Ketua KONI Sidoarjo yang sarat politisasi. Sehingga ketua yang terpilih hubungannya menjadi  tidak harmonis dengan cabor.

“Hubungan yang tidak harmonis ini membuat komunikasi antara KONI dengan cabor gagal terbangun. Sebetulnya sudah sejak awal, semua Pengkab Cabor menginginkan pemilihan ketua KONI Sidoarjo secara fair sesuai AD ART dan tidak ada terkondisikan atau titipan dari siapapun,” beber Yusuf.

Ia berpendapat seandainya panitia Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab) pemilihan Ketua KONI dilaksanakan secara demokratis, ada banyak kandidat yang kompeten mengisi posisi jabatan tersebut.

“Sebut saja ada nama Mustain Baladan, Ketua Umum Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sidoarjo, kemudian Imam Jawahir cabor panahan, dan Pak Djoko Supriadi, Ketua Harian PBVSI Sidoarjo. Banyak sekali sebetulnya yang paham dan berpengalaman di bidang olahraga,” tegasnya.

Yusuf dan kawan-kawan cabor lainnya, tidak banyak berharap jika dari hasil evaluasi yang dilakukan Komisi D DPRD Sidoarjo kemudian berujung munculnya rekomendasi pergantian ketua KONI.

“Mungkin mekanisme yang tepat ada di Musorkab Luar Biasa. Sehingga tidak serta merta tanpa dasar menggantikan Ketua KONI. Kebuntuan komunikasi Pengkab Cabor dengan ketua KONI yang sekarang membuat teman-teman sepakat membuat mosi tidak percaya. Seperti yang disampaikan dalam forum sempat mencuat istilah leadershipnya yang kurang sip,” tutupnya.

Seperti diberitakan banyak media sebelumnya, usai dilantik pada 3 Mei 2025, ketua KONI Sidoarjo terpilih Imam Muchri Affandi dalam pidato sambutannya sempat mentargetkan prestasi di ajang Porprov Jatim IX di Malang Raya minimal mempertahankan posisi Runner Up.

“Kami siap bekerja keras, memberi ruang yang luas bagi para atlet di semua cabor agar berkembang dan meraih prestasi. Target kami jelas yakni mempertahankan posisi runner-up, atau bahkan menjadi juara umum,” kata Imam kala itu. (luk)

No More Posts Available.

No more pages to load.