Geliat Pemuda Desa Sidomulyo Mengangkat Potensi Desa

oleh
Wisatawan foto bersama di Kolbuk, sebuah wisata mata air alam di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo

JEMBER, PETISI.CO – Pemuda di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, kini mulai bergeliat membangun potensi di desanya. Sebagai awal, mereka berencana mewujudkan desa wisata dengan mempromosikan ‘kolbuk’, yakni sebuah sumber air alami yang muncul di area pepohonan di Dusun Curah Damar desa setempat.

“Di desa kami ada dua mata air, yang oleh masyarakat disini disebut kolbuk. Rencananya, kedua tempat tersebut akan kami kembangkan sebagai destinasi wisata, yaitu Wisata Kolbuk dan Gumitir Zoo.”

Kalimat itu dikatakan oleh Ketua Gerakan Pemuda Sidomulyo (GPS), Kamiludin, usai mendeklarasikan GPS di area kolbuk, Sabtu (3/5/2017). Deklarasi ini sekaligus menandai kebangkitan pemuda dalam mengembangkan potensi di desa setempat.

“Sebenarnya di desa kami ada banyak potensi yang bisa dikembangkan, seperti kopi robusta, susu kambing etawa, dan wisata alam. Tetapi kami akan mulai kembangkan satu-persatu. Mulai dari langkah pertama dan hal-hal kecil yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Sidomulyo sendiri, terletak di kaki Gunung Gumitir. Desa ini merupakan kawasan paling timur Kabupaten Jember yang berbatasan dengan Banyuwangi. Jika ditempuh dari pusat kota Jember, Sidomulyo berjarak sekitar 40 kilometer.

Untuk mencapai di lokasi kolbuk, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan pinus di pintu masuk desa, sungai alam yang berair bening, serta suasana sejuk khas pedesaan. Meskipun akses masuk ke desa masih terkendala infrastrur jalan yang perlu ditingkatkan.

Menurut Kepala Desa Sidomulyo, Toha, sumber air alam itu ada sejak zaman kerajaan. Karena berdasarkan legenda yang hidup di desanya, kolbuk ini pernah menjadi persinggahan Layang Seto dan Layang Kumitir, dua anak Logender, seorang Patih Kerajaan Majapahit kala dipimpin Ratu Kencono Wungu.

Tak ada penjelasan lebih lanjut, kenapa kedua anak Logender itu singgah di Kolbuk Sidomulyo. Namun Toha berujar, Layang Seto dan Layang Kumitir sempat mandi di mata air itu. Dan kisah inilah yang hidup abadi di masyarakat desa setempat.

“Sehingga warga disini kompak menjaga kolbuk. Sejak dulu, area kolbuk tak pernah ada kayu yang ditebang. Sebab, wargalah yang menjaganya. Andai ada satu saja kayu yang hilang, warga pasti tahu dan akan mencari siapa pelakunya,” tutur Toha.

Kekompakan warga menjaga mata air ini, merupakan kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat. Sebab, selain ada legenda yang melekat, kawasan ini juga menjadi tempat mandi dan sumber air minum bagi warga, serta mengairi sawah petani. Apalagi, ketika musim kemarau tiba. Saat sumur-sumur mulai mengering, mereka mengandalkan kolbuk menjadi sumber air.

Memasuki areal kolbuk, wisatawan disuguhi panorama alam khas desa, sebab mata air itu berada di kawasan hutan mini, dengan kontur seperti bukit seluas 4,5 hektare. Satu-satunya akses jalan menuju kolbuk, adalah jalan tanah yang hanya bisa dilewati motor atau jalan kaki. Di kanan dan kiri jalan setapak itu, hidup tanaman kopi yang tumbuh di bawah pohon mahoni berukuran jumbo. Inilah yang membuat wisatawan bakal betah berlama-lama disini.

Dilokasi ini, ada dua mata air utama yang tak pernah berhenti. Menurut Toha, pada 1960-an, warga membangun bendungan mini berbentuk kolam untuk mengelola satu dari dua sumber air tersebut. Kolam berukuran sekitar 7 x 4 meter dengan kedalaman sekitar 50 centimeter ini, diberi tujuh lubang yang memacarkan air ke bawah, sehingga air yang mengalir itu terus mengalir dari lubang-lubang yang dibangun warga.

Sementara satu sumber air yang lokasinya berjarak sekitar 4 meter dari kolam itu, langsung keluar dari perut bumi. Airnya terus memancar hingga membentuk gelembung-gelembung kecil. Gelembung-gelembung inilah yang menjadi muasal lokasi ini disebut kolbuk, yang berasal dari dialeg Madura, yakni buk-kolbuk(gelembung-gelembung air). Dalam istilah Jawa, kolbuk juga berarti Sendang.

“Kawasan ini seluas 4,5 hektar, dan merupakan lahan yang menjadi aset desa. Kami tentu sangat mendukung dengan yang dilakukan oleh para pemuda desa. Dan rencananya, potensi wisata ini akan kami jadikan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), sebagai payung hukum mengelola potensi wisata tersebut,” kata Toha.

Dalam deklarasi ini, pemuda desa juga mengundang Anggota DPR RI, Ayub Khan. Politisi Partai Demokrat tersebut dihadirkan guna mendukung gerakan pemuda untuk mengembangkan potensi di desanya. Menurut Kamiludin, membangun jejaring perlu dilakukan, sebab mereka tak mungkin berbuat sendiri dalam memajukan tanah kelahirannya.

“Tadi saya sudah melihat langsung bagaimana potensi desa dan pemudanya. Tentu saya sangat mengapresiasi dan akan mendukung dengan jalan membangun sinergi dengan DPR RI, pemerintah daerah maupun Kementerian,” ujar Ayub Khan, menyambut semangat pemuda di Desa Sidomulyo.

Sebagai awal, Ayub menyatakan, akan melakukan sinergi melalui komisinya di DPR RI. Saat ini politisi kelahiran Jember tersebut menjabat di Komisi IX yang menjadi mitra kerja Kementerian Kesehatan, Kementerian Ketenagakerjaan, BKKBN, BPOM, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja, BPJS Kesehatan, serta BPJS Ketenagakerjaan.

“Namun kedepan, saya juga akan membantu melakukan sinergi dengan lintas komisi. Targetnya, semangat pemuda di Desa Sidomulyo ini harus disambut baik dan didukung agar terus berkarya membangun desanya,” tukasnya. (yud)