Oleh: Thoriq Haidar Al Roychan Ghozali*
Ada ungkapan populer bahwa Kota Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Namun jika melihat berbagai persoalan publik yang menumpuk di Gresik hari ini, mungkin kita akan bertanya-tanya: apakah Gresik diciptakan ketika Tuhan sedang galau?
Ungkapan populer diatas mungkin sangat relevan dengan menggambarkan kota yang indah, nyaman, dan menyenangkan untuk ditinggali. Namun jika ungkapan itu dipinjam untuk melihat realitas di Kabupaten Gresik hari ini, mungkin kita perlu sedikit mengubahnya. Sebab di kota yang dipenuhi cerobong industri ini, senyum terasa samar.
Gresik justru menghadirkan sebuah paradoks pembangunan, menjadi surga bagi pertumbuhan industri tetapi acap kali terasa seperti neraka kecil bagi sebagian warganya.
Di atas kertas, Gresik adalah success story industrialisasi daerah. Kawasan industri terus berkembang, investasi terus berdatangan, dan aktivitas ekonomi berjalan hampir tak pernah berhenti. Maka tak berlebihan jika dikatakan kota ini disebut sebagai salah satu pusat industri penting Jawa Timur.
Data pemerintah daerah pun menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 1.500 perusahaan yang beroperasi di Gresik, mulai dari industri kecil hingga perusahaan besar. Namun ironinya, kemegahan industri itu tidak selalu tercermin pada kualitas hidup masyarakatnya.
Permasalahan publik yang ada di Gresik terasa seperti daftar penjang yang terus berulang dari tahun ke tahun. Jalan rusak menjadi pemandangan biasa di berbagai titik, terutama di jalur yang dilalui kendaraan industri berat.
Polusi udara menjadi keluhan warga yang tinggal di sekitar kawasan pabrik. Banjir musiman di sisi selatan kota pun seperti tamu tahunan yang tidak pernah benar-benar diundang. Di sisi lain, persoalan sosial ekonomi seperti pengangguran dan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas dikerjakan oleh pemerintah daerah.
Paradoks itu semakin terasa ketika kita membaca data statistik. Berdasarkan catata Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024 tingkat kemiskinan di Gresik masih berada di angka sekitar 10,32%, dengan jumlah penduduk miskin mencapat lebih dari 142.000 orang.
Jika melihat dari data BPS angka kemiskinan di Gresik memang cenderung menurun sejak tahun 2020 hingga 2023, tetapi fakta ini tidak bisa dipungkiri bahwa angka kemiskinan di Gresik masih tergolong tinggi jika dibandingkan pula dengan kondisi ekonomi yang terjadi di Gresik.
Lapangan kerja pun semakin luas dengan semakin besarnya jumlah angka pelaku industri, tetapi dalam hal kesejahteraan masyarakat masih belum bisa dirasakan dampaknya.
Data dari BPS pun mencatat, tingkat pengangguran terbuka di Gresik pada tahun 2024 mencapai sekitar 6,45%. Angka ini mencerminkan puluhan ribu orang yang belum terserap dalam dunia kerja, meskipun kota ini dipenuhi oleh aktivitas industri.
Fakta lain juga menunjukkan bahwa para penganggur didominasi oleh penduduk yang berusia 15-24 tahun, yang dapat diartikan rata-rata generasi z dan milenial dengan sebagian besar berasal dari lulusan SMA. Padahal secara demografi, Gresik memiliki potensi besar yang menurut data statistik bahwa sekitar 1,31 juta jiwa dengan lebih dari 66% penduduk termasuk pada golongan usia produktif.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan yang cukup mendasar, jika industri begitu banyak, mengapa tidak otomatis menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar?
Jawabannya mungkin tidak sederhana, industrialisasi memang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi tidak selalu menjamin distribusi manfaat yang merata.
Banyak industri membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu yang tidak selalu dimiliki oleh masyarakat lokal. Akibatnya, kesempatan kerja sering kali justru lebih banyak diisi oleh teaga kerja dari luar daerah.
Sementara itu, masyarakat lokal harus menghadapi dampak eksternal dari aktivitas industri tersebut. Debu, emisi pabrik, kecelakaan akibat jalan berlubang yang disebabkan volume kendaraan berat pabrik yang melintas, hingga kepadatan lalu lintas.
Pembangunan ekonomi yang seharusnya membawa kesejahteraan justru menjadi terasa seperti beban lingkungan bagi warga yang tinggal di sekitarnya.
Terkait permasalahan jalan rusak, lubang dan deforasi pada permukaan jalan sangat membahayakan pengguna jalan, bahkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Pada tanggal 2 April 2024, Gresik pernah mengalami peristiwa kecelakaan yang mengakibatkan 4 nyawa melayang dalam 12 jam terakhir. Kecelakaan ini akibat dari jalan rusak dan padatnya kendaraan truk di jalan-jalan kota.
Mungkin secara teoritis Gresik memiliki potensi yang sangat banyak, baik itu bonus demografi atau letak geografis. Namun potensi itu hanya akan menjadi angka di atas kertas jika tidak diikuti dengan kebijakan pembangunan yang benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sinilah persoalan tata kelola pembangunan menjadi krusial. Industrialisasi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai keberhasilan menarik investasi, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut meningkatkan kualita hidup masyarakat. Infrastruktur publik yang layak, lingkungan yang sehat, serta kesempatan kerja yang inklusif seharusnya menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah.
Tanpa itu semua, indutri hanya akan berdiri seperti pulau-pulau kemakmuran di tengah lautan persoalan sosial. Cerobong pabrik mungkin terus mengeluarkan asap sebagai pertanda produksi terus berjalan, tetapi di bawahnya masih banyak warga yang berjuang dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah Gresik mampu menjadi kota industri besar. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apakah Gresik juga mampu menjadi kota yang layak ditinggali oleh warganya sendiri?
Sebab sebuah kota tidak hanya diukur dari seberapa banyak pabrik berdiri di dalamnya, tetapi dari seberapa nyaman manusia dapat hidup di dalamnya. Jika tidak, maka Gresik akan terus dikenang sebagai kota yang sangat ramah bagi investor dan cerobong pabrik, tetapi tidak selalu cukup ramah bagi manusia yang hidup di dalamnya.(#)
*)penulis merupakan warga lokal Gresik yang cinta dengan kotanya







