PETISI.CO
Sambil menunggang kuda, Khofifah menikmati udara sejuk di hamparan lautan pasir Gunung Bromo.
PERISTIWA

Gubernur Jatim Ajak Wisatawan Kunjungi Wulan Kepitu Gunung Bromo

PROBOLINGGO, PETISI.CO – Perayaan Wulan Kepitu, atau bulan suci bagi masyarakat Masyarakat Tengger, penghuni sekitar Gunung Bromo, layak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing. Saat Wulan Kepitu, udara di kaldera Gunung Bromo atau di sekitar lautan pasir, 100 persen bersih, karena tidak ada kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Wulan Kepitu berakhir pada 24 Februari mendatang.

“Selama Wulan Kepitu, di Gunung Bromo tidak ada asap kendaraan bermotor. Yang ada hanya asap yang keluar dari Gunung Bromo,” kata Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa di kawasan wisata Gunung Bromo Kabupaten Probolinggo, Sabtu (15/2/2020).

Karena itu, Khofifah mengajak wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke kaldera Gunung Bromo saat Wulan Kepitu.

Khofifah menyerahkan bantuan rompi dan drop box container sampah kepada tokoh masyarakat dan adat di wilayah Gunung Bromo.

“Jangan lupa berkunjung ke Bromo saat Wulan Kepitu. Rasakan udara bersih dan sejuk sambil berwisata di Kaldera Gunung Bromo,” ucapnya. Di Sabtu pagi itu, Khofifah mengajak sekitar 20 pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jatim untuk turun ke lautan pasir Gunung Bromo dengan menaiki kuda. Khofifah menikmati betul kenyamanan suasana Wulan Kepitu, karena tidak ada satupun kendaraan yang melintas di lautan pasir Gunung Bromo.

Sebelumnya, Khofifah juga menggelar pertemuan dengan Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari, dan tokoh masyarakat adat Suku Tengger untuk membahas rencana percepatan pembangunan wilayah Bromo Tengger Semeru yang tertuang dalam Perpres 80 tahun 2019.

Selama pelaksanaan Wulan Kepitu, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga melaksanakan Car Free Month (CFM) atau bulan bebas kendaraan. Car free month itu diterapkan untuk kawasan Kaldera Tengger Gunung Bromo pada 24 Januari hingga 24 Februari 2020.

Istilah Wulan Kepitu sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang artinya bulan ketujuh. Wulan Kepitu itu merujuk pada penanggalan atau kalender masyarakat Suku Tengger.

Bagi masyarakat Suku Tengger, Wulan Kepitu merupakan bulan yang suci. Pada bulan itu, sesepuh tokoh masyarakat Tengger akan melakukan puasa yang bertujuan untuk menahan sifat duniawi dan fokus mendekatkan diri pada sang pencipta. (bm)

terkait

Silaturahmi Kamtibmas Kapolres Blitar Bersama Organisasi Mahasiswa Se-Blitar Raya

redaksi

Inilah Penjelasan Boni Hargens

redaksi

Pimpin Apel Perdana, Ini Pesan Kapolres Gresik

redaksi