Gunung Argopuro, Legenda Hidup dan Penuh Peninggalan Peradaban Manusia

oleh
Cak Setiyo

JEMBER, PETISI.CO – Gunung Argopuro, yang menjadi bagian deretan pegunungan Ijang  (Ijang Gebergte), merupakan titik batas pertemuan dari 4 kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo, mempunyai legenda yang hidup di dalamnya, serta penuh dengan peninggalan dari peradaban manusia.

Dibuktikan di wilayah sekitar Gunung Argopuro banyak ditemukan berbagai peninggalan yang berasal dari masa prasejarah dan klasik. Seperti diceritakan DR. RDM Verbeek dalam buku Oudheden Van Java : Lijst Der Voornaamste Overblijfselen uit den Hindoetijd op Java met Eene Oudheidkundige Kaart yang ditebitkan tahun 1891, yang berjudul “646 Goenoeng Argapoera”.  Demikian disampaikan S. Setiyo Hadi pengelola Museum Boemi Poeger dan Rumah Sejarah saat ditemui Petisi di rumahnya Minggu malam (14/5/2017).

Menurut cak Setiyo, panggilan sehari-sehari S. Setiyo Hadi dalam bukunya Verbeek menceritakan, di puncak Gunung Argopuro yang ketinggiannya mencapai 3.040 meter dari atas laut, ditemukan berbagai peninggalan berupa bangunan kotak dan berundak, serta barang antik lain.

Dengan temuan-temuan itu, Verbeek memperkirakan bahwa peninggalan tersebut merupakan tempat ibadah bagi penganut Hindu.

“Verbeek mengidentifikasi berbagai peninggalan di sekitar Gunung Argopoero tersebut merupakan peninggalan Hindu Jawa,” ungkap Cak Setiyo.

Peninggalan berupa bangunan di sekitar Gunung Argopura lanjut cak Setiyo, berupa ruangan persegi dengan pintu masuk berupa lubang kecil yang sisa-sisanya masih terlihat. Mempunyai dinding yang tingginya antara 2 meter sampai 3 meter dan di balik dalam dinding bangunan ditemukan beberapa umpak batu.

“Dinding dan umpak batu tersebut terbuat dari serpihan batu andesit yang runcing.  Verbeek menggambarkan bahwa struktur bangunan berbentuk teras, terletak agak mengarah ke selatan,” jelas Cak Setiyo.

Hal tersebut juga diceritakan Zolinger, peneliti Eropa pada tahun 1846, jauh sebelum Verbeek sampai di Gunung Argopuro. Dalam tulisannya yang berjudul “Op Tagalan Argapoera lage terrassen met opgestapelde steenen omzoomd, en een hol” dalam  Bijdragen Kennis Gebergte Systemen Oost Java: Tijdschrijft van Nederland Indie 1846 Zolinger menulis laporannya, bahwasanya di sekitar areal Argopuro terdapat teras batu yang bertumpuk.

“Bukan hanya itu, Zollinger juga menjelaskan di sekitar Gunung Argopuro terdapat dinding segi empat serta ditemukan guci/pot yang berlapiskan glasir kebiruan. Informasi yang diperoleh Zollinger berdasarkan legenda masyarakat sekitar Gunung Argopuro bahwa guci atau pot itu berasal dari Cina yang datang ke Gunung Argopuro sebelum mereka terlibat dalam  perang (awal Majapahit berdiri),” Terang Cak Setiyo.(yudi)