Jember, petisi.co – Mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (UNEJ) berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan setelah lolos dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2024. Tim yang terdiri dari Erika Dwiersa Cahyaningdias selaku ketua kelompok, Nathaniela Paramita, Kholifa Dinda Nurayuni, Latifah Nur Sa’aadah, dan Salma Fauziah Azzahra dibimbing dosen, Rena Yunita Rahman, S.P., M.Si.
Sebagaimana yang diketahui, P2MW merupakan program yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengembangkan usaha mahasiswa yang telah memiliki usaha melalui bantuan dana pengembangan dan pembinaan. Program ini juga melibatkan pendampingan serta pelatihan (coaching) usaha kepada mahasiswa peserta P2MW.

Berdasarkan Surat Keputusan No. 2739/E2/KM.01.01/2024, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember tersebut berhasil lolos dan meraih pendanaan P2MW bidang manufaktur dan terapan. Adapun judul proposal penelitian tim ini adalah “Raeksana Sabun Eco Friendly dari Bahan Alami Untuk Kesehatan Kulit dan Mendukung SDG’s”.
Buah Lerak Sebagai Bahan Utama Sabun Alami
Erika Dwiersa selaku ketua kelompok mengungkapkan bahwa ide bisnis sabun alami ini berawal dari ketertarikan dengan buah yang dapat menghasilkan busa alami yaitu buah lerak atau lebih sering dikenal masyarakat dengan sebutan klerek. Sebagian kecil masyarakat masih memanfaatkan buah ini untuk mencuci kain batik. Beberapa inovasi yang sudah banyak berkembang adalah olahan lerak sebagai detergen, sabun cuci piring, hingga bahan pembersih lantai.
“Lerak ini buah unik yang bisa menghasilkan busa alami dan sudah terpercaya jadi bahan pembersih, dulu masih banyak yang menggunakan untuk cuci batik. Penasaran juga awalnya apakah bisa jika dijadikan sabun mandi, jadi kami coba cari referensi penelitian dan uji lab lerak,” kata Erika.
Pembuatan sabun alami ini juga didasari dari melihat pangsa pasar ‘Back to Nature’ yang tengah marak akhir-akhir ini. Terutama produk sabun alami yang kian naik daun dan banyak dicari oleh pembeli yang sudah beralih dari sabun komersial.
“Masalah kesehatan lingkungan dan kesehatan tubuh menjadi isu utama dalam pengembangan produk kami. Melihat maraknya produk sabun konvensional yang menggunakan senyawa kimia serta pewangi tambahan, ini dapat menyebabkan pencemaran pada lingkungan hingga berakibat pada iritasi kulit. Karena itu, pemanfaatan lerak sebagai sabun menjadi solusi yang tepat pada isu ini,” imbuhnya.
Pelaksanaan pada capaian ini tentu tidak lepas dari dukungan dosen pendamping dan pihak P2MW. Tidak hanya arahan, para anggota mahasiswa juga mendapatkan ilmu serta pengalaman baru melalui kegiatan pelatihan yang telah diselenggarakan. Melalui upaya tersebut, diharapkan para mahasiswa tidak hanya memperoleh capaian dalam mengembangkan produk saja melainkan ikut berkontribusi untuk meningkatkan ekonomi daerah.
Langkah awal yang dilakukan Erika dan tim setelah mendapat ide ini yaitu berdiskusi dengan dosen pembimbing. Beliau sangat mendukung inovasi produk ini, menurut dosen pembimbing yaitu Ibu Rena Yunita Rahman, S.P., M.Si. lerak mengandung saponin alami yang mampu menghasilkan busa dan memiliki sifat antibakteri. Namun, beliau mengingatkan bahwa tim harus memperhatikan aspek keamanan dan kualitas produk, dikarenakan sabun alami ini akan bersentuhan langsung dengan kulit pengguna.
Setelah mendapat masukan dari dosen, Erika dan tim mulai mencari informasi lebih lanjut tentang cara pembuatan sabun dari buah lerak.
“Tim kami mempelajari dahulu proses ekstraksi saponin dari buah lerak, proses pencampuran bahan alami, hingga teknik yang tepat untuk mencetak sabun dalam proses ini, kami berusaha memastikan semua bahan yang digunakan tetap alami dan tidak menimbulkan efek samping pada kulit,” kata Erika.
Lalu Erika dan tim melanjutkan dengan langkah uji laboratorium untuk memastikan bahwa produk yang telah dibuat memiliki pH yang sesuai dengan kulit dan efektif dalam membersihkan dan hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa produk tersebut aman dan siap untuk dipasarkan.
“Kami merasa lebih percaya diri untuk memperkenalkan sabun alami ini ke masyarakat melalui bazar dan melalui media sosial setelah melakukan uji laboratorium,” kata Erika.
Pihak Erika mengatakan bahwa selama pelaksanaan pengembangan produk terdapat kendala, yaitu produk sabun harus berada pada masa curing terlebih dahulu sebelum dilakukan packing. Proses curing merupakan waktu tunggu yang diperlukan agar air pada larutan menguap sehingga sabun akan mengeras dan padat, menghasilkan kestabilan pH, serta aman untuk digunakan.
“Kendalanya salah satunya pada proses curing sabun karena harus menunggu waktu cukup lama sekitar 2-4 minggu supaya sabun benar-benar keras dan aman. Jadinya, berdampak ke pemasaran. Tidak bisa langsung dipasarkan setelah sabun dibuat,” kata Erika.
Erika dan tim berusaha untuk memastikan bahwa produk sabun mandi alami yang diproduksi aman untuk digunakan dan membuat strategi dalam pembuatan produk agar kegiatan pemasaran tetap dilakukan. Pihaknya berkeinginan bahwa produk yang mereka buat dapat memberikan edukasi kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan lingkungan yang lebih lestari. (*)
*penulis adalah tim Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember





