Ironi, Dari Tidur di Kandang Sapi Hingga di Gubuk Kecil

oleh -100 Dilihat
oleh

Nasib Masa Tua, Mantan Mucikari

PONOROGO, PETISI.CO – Soinem (65) warga yang tinggal di RT 009 , RW 03, Dusun Sidowayah, Desa Sidoarjo, Kecanatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, yang kurang lebih 1,5 tahun lalu tidak merasakan tidur layaknya orang – orang normal dan rumah layak huni. Ia memilih tidur di kandang sapi. Pasalnya ia tidak punya anak dan suaminya sudah meninggal sejak 13 tahun yang lalu.

Danurhadi saat menyerahkan bantuan kepada Soinem

Dan baru sekitar dua minggu ini Soinem dipindahkan tempat tidurnya dari kandang sapi. Semula rumah dibagi dua ruang dan hanya disekat apa adanya. Sebelah sebagai tempat sapi dan sebelah tempat tidur janda yang menderita patah tangan dan kakinya tersebut.

Rumah berdinding bambu dengan luas 3 × 2 meter dan berlantai tanah itu, Soinem tinggal sendirian. Di sebelah timurnya kandang sapi yang bekas digunakan tempat tinggal sebelumnya. Rumah ini memiliki satu ruang yang berisi satu kursi dan satu rak isi pakaian dan yang juga sangat sederhana dan satu ranjang berkasur lusuh.

Gubuk baru, yang kini ditempati Soinem

Di rumah kecil yang dibangun berdampingan dengan kandang sapi dan kolam kotoran sapi tersebut Soinem tidur, makan dan bahkan menerima tamu.

“Kulo rumiyin tilem wonten griyone adek ipar kulo, terus akhire kulo manggen wonten kandang sapi sebelah ditempati sapi dan sebelah kidul kulo damel tempat tinggal, gubuk niki didamelne anaknya ipar kulo,” jujur Soinem dengan polos.

Untuk tidur, ia menggunakan dipan dengan kasur kusam. Di atas tempat tidur itu, terdapat tumpukan pakaian lusuh miliknya. Kamar tidur dan tempat tamu jadi satu hanya ada satu kursi .

Meski tak laik huni, Soinem nyaman meninggali gubuk kecil yang baru dua minggu dibangun oleh keponakanya. Meski sehari-harinya harus menghirup bau kotoran sapi. Tak membuatnya merasa risih, sebab janda tanpa anak ini sebelumnya juga sudah hampir dua tahun di kandang sapi.

Meski tinggal di rumah yang tak laik huni dan dan berdinding terpal itu, sehari -harinya Tukiran (40) yang tak lain keponakannya itu yang selalu mengantarkan makanan ke gubuk tempat Soinem.

“Saya sudah meminta agar Bu Soinem tinggal di rumah kami, tapi tapi Ibu saya tidak di ijini, saya yang ambilkan air juga untuk mandi,” keluh Tukiran.

“Saya bangun gubuk ukuran 2 x 3 meter ini sendiri karena dulu Bu Soinem tidur di kandang sapi saya ini lalu saya gak tahan melihat kondisinya dan mampu saya hanya buatkan gubuk ala kadarnya ini,” imbuh Tukiran.

Ketua RT 10/ RW 03, Gito mengaku sangat prihatin melihat Soinem yang tinggal di wilayah RT sebelahnya itu. Menurut Gito, Soinem tidak pernah dapat bantuan layaknya warga asli Sidoarjo.

“Karena admistrasinya yang bukan asli warga desa sini ini mas mungkin tidak dapat bantuan, ia juga tidak punya jamkesmas maupun BPJS. Padahal ia harus perawatan karena tangan dan kakinya patah hingga cacat gini, juga kondisinya yang gemetaran entah sakit apa,” jelas Gito.

Danuhardi warga Badegan yang merupakan ketua lembaga peduli Buruh Migran dan keluarganya yakni JKPS Cahaya itu sangat prihatin melihat kondisi Soinem.

“Siapapun dia ,warga mana dia karena sudah berada di sini seharusnya harus diperlakukan layakanya warga yang membutuhkan bantuan. Jangan hanya alasan surat menyurat dokumen kependudukan jadi acuan, karena sumber bantuan banyak, kami juga akan mencarikan donatur tetap bagi Bu Soinem bila pemerintah nanti diam,” janji Danuhardi sembari memberikan bantuan ala kadarnya kemarin.

Kepala Bappeda Kabupaten Ponorogo, Sumarno berjanji akan kordinasikan dengan Kepala Dinas Sosial Ponorogo. Pasalnya program Feminisme dari Bappeda untuk para janda miskin untuk tahun ini tidak ada.

“Mas tolong kalau ada info seperti ini, tolong di kasih datanya,” kata Ketua Bappeda.

“Untuk program Feminisme tahun ini tidak ada mas, dan banyak program di Dinsos nanti saya kordinasikan dan komunikasikan dengan Pak Sumani Kadis Sosial,” pungkas Sumarno.

Soinem kepada petisi.co, mengakui dulunya pernah berprofesi sebagai mucikari di sebuah lokalisasi Kedung Banteng Sukorejo Ponorogo. Ia sejak tahun 1982 jadi mucikari di Wisma Kembar.

“Benar mas kulo riyin mbok mbokane (germo) Wisma Kembar sejak tahun 1982 sampai komplek ditutup pemerintah 3 tahun lalu,” jujur Soinem.

Dengan tubuh dan bibir gemetaran Soinem nampak mengenang masa -masa muda dapat uang dari ke enam anak buahnya.

“Dulu memang mas tiap hari pegang duit, saya punya 6 anak buah (wanita penghibur) tapi setelah ditutup semua sirna begitu juga anak buah saya entah dimana sekarang,” ungkap Soinem.

Waktu digusur atau ditutup katanya dapat uang Rp 20 juta dari pemerintah namun kenyataannya ia hanya terima Rp 4,5 juta dan sekarang uang itu habis. Soinem tidak bisa kerja, tangan dan kakinya patah tulang, jalan saja gak bisa.

Soinem membenarkan bahwa ia punya anak asuh, yang diasuh sejak bayi dan disekolahkan sampai tamat di SMA Bakti dan juga baru lulus belum lama sekarang bekerja di Solo.

“Namun jarang ke sini, saya juga kangen sama anak asuh saya yang sudah saya anggap anak sendiri namanya Sugeng Widodo. Pernah ke sini sekali tapi ini lama. Semoga sugeng lancar kerjanya banyak rejekinya,” doa Soinem kepada anak yang diasuh sejak bayi baru lahir.

Soinem juga mengaku saat dimintai keterangan terkait surat kependudukan dia mengaku ada KTP Kedung Banteng tapi sudah mati.

“Memang saya asli Muneng Balong tapi sana sudah tidak ada, saya selama tinggal di komplek juga punya KTP Kedung Banteng tapi sudah mati, dan di sini numpang ipar saya, tapi saya gak boleh tinggal di rumahnya. Untung keponakan saya baik ke saya, saya dibuatkan gubuk ini agar pindah dari kandang sapinya,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo, Sumani kepada media menjelaskan pihaknya belum mendapatkan laporan adanya warga tersebut di atas. Dan pihaknya akan segera lakukan cek ke lokasi.

“Kita cek kebenarannya karena di Desa Krebet ada mitra binaan yaitu rumah kasih sayang,” tegasnya. (mal)