ITS Kembangkan Sistem Monitoring Tanah Pertanian Berbasis IoT

oleh -937 Dilihat
oleh
Tim pengabdi bersama alat monitoring tanah berbasis Internet of Things yang telah dibuat

Surabaya, petisi.co – Mendukung percepatan digitalisasi sektor pertanian melalui program pengabdian masyarakat, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)  menghadirkan solusi monitoring tanah dan hama berbasis Internet of Things (IoT). Program bertujuan meningkatkan efisiensi pemupukan ini diterapkan di Desa Ngimbang, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal Rejeki sebagai mitra utama.

Ketua tim pengabdi ITS, Prof Dr Katherin Indriawati ST MT  menjelaskan program ini fokus pada pengembangan sistem dan alat bantu pengambilan keputusan bagi petani. Sistem tersebut dirancang untuk membantu petani memantau kesuburan tanah, kelembapan, keasaman, dan unsur hara utama (Nitrogen, Pospor, dan Kalium) secara real time melalui smartphone.

“Selama ini petani masih mengandalkan kebiasaan turun-temurun untuk menentukan pemupukan. Dengan adanya sistem ini, keputusan dapat diambil berdasarkan data aktual di lapangan,” ujar dosen Departemen Teknik Fisika tersebut, Selasa (23/12/2025).

Katherin menambahkan pelaksanaan program ini diawali dengan pra-kunjungan ke Desa Ngimbang untuk memetakan kondisi lahan sawah yang akan dijadikan lokasi monitoring. Tim pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Teknik Fisika melakukan pengamatan terhadap karakteristik fisik tanah, praktik pemupukan yang biasa dilakukan petani, serta kondisi hama di lahan sawah.

“Hasil observasi awal menunjukkan petani menghadapi kesulitan dalam menentukan dosis pupuk yang tepat karena keterbatasan data kondisi tanah, serta petani merasa keberadaan hama dapat menurunkan produktivitas hasil panen,” ujarnya.

Berdasarkan temuan tersebut, imbuhnya, tim merancang dan membuat alat monitoring berbasis IoT yang memadukan sensor tanah, sensor lingkungan, dan modul pengiriman data jarak jauh serta perangkat untuk mengusir hama burung pada sawah. Perangkat ini diuji langsung di lahan sawah mitra untuk memastikan keandalan dan akurasi pembacaan datanya.

“Setelah dinyatakan layak, alat diserahkan kepada petani disertai pelatihan teknis mengenai cara penggunaan dan perawatannya,” ucap Katherin.

Selama kegiatan berlangsung, lanjutnya, tim mahasiswa KKN memberikan pendampingan intensif kepada anggota Gapoktan Manunggal Rejeki. Untuk mendukung kemandirian keberlanjutan program, dilakukan sesi penyuluhan dan pelatihan teknis agar para petani dapat mengoperasikan dan memanfaatkan sistem IoT yang telah dipasang.

“Petani juga dibekali buku panduan operasional berisi langkah-langkah pengoperasian, kalibrasi, dan pengecekan berkala,” kata dia.

Hasil implementasi menunjukkan dampak positif yang signifikan. Kini, petani dapat memantau kondisi lahan tanpa harus datang langsung ke sawah. Hal ini memberikan kemudahan yang sangat membantu, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau akses. Petani juga dapat menentukan dosis dan waktu pemupukan secara lebih presisi berdasarkan data terkini dari sensor.

“Selain itu, sistem memberikan peringatan dini terkait kondisi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, seperti kelembapan atau munculnya hama. Dampak ini menjadikan proses pengelolaan lahan lebih efisien, hemat waktu, dan lebih terukur,” terangnya.

Mahasiswa KKN berharap teknologi tepat guna ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Ngimbang. Mereka juga optimis penerapan IoT dalam sektor pertanian dapat menjadi langkah awal menuju model pertanian digital yang lebih modern dan berdaya saing. Melalui peningkatan produktivitas agrikultur berbasis teknologi, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2 Tanpa Kelaparan, poin ke-8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta poin ke-9 Industri Inovasi dan Infrastruktur.  (luk)

No More Posts Available.

No more pages to load.