Jatim Diundang Presentasi di Den Haag dan Austria

oleh
Gubernur Jatim Soekarwo menghadiri Sidang Paripurna Lanjutan Jawaban Eksekutif

Berkat Jalinmatra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan

 SURABAYA, PETISI.COInovasi program Jalinmatra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK) yang digagas Pemprov Jatim berbuah hasil manis di tingkat internasional.

Atas inovasi tersebut, Pemprov diundang untuk melakukan presentasi dalam event International Poverty Program di Den Haag dan Austria. Rencananya, Sekdaprov Jatim yang akan mempresentasikan program tersebut.

“Den Haag dan Austria meminta Pemprov Jatim untuk mempresentasikan program Jalinmatra Penanggulangan Kemiskinan yang berbasis pengarustamaan gender. Mereka menilai Jatim memiliki keberpihakan sangat luar biasa terhadap gender,”  ujar Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo saat menyampaikan Jawaban Esekutif atas Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Jawa Timur Akhir Tahun Anggaran 2016  Jatim, di Gedung DPRD Jatim Jl. Indrapura Surabaya, Jumat (28/4/2017).

Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim mengatakan, ada sesuatu hal yang genuine atau baru di Jatim yakni kemiskinan diurus di bidang pengarustamaan gender melalui program Jalinmatra PFK. Program ini untuk menyelesaikan kemiskinan karena ada wanita single parent yang harus diurus pemerintah agar tidak jatuh sangat miskin. Pada tahun 2017, sasaran Jalinmatra PFK adalah sebanyak 23.880 Kepala Rumah Tangga Perempuan/KRTP di 785 Desa pada 29 kabupaten.

Lebih lanjut disampaikannya, di tingkat PBB hanya dibutuhkan pengakuan terhadap pengarustamaan gender. Namun, Jatim ingin berbuat lebih untuk ikut mengurus single parent atau janda agar tidak jatuh miskin.

“Prinsipnya kita bantu kelompok wanita single parent, karena bisa mempengaruhi kualitas pendidikan dan kesehatan anak. Jangan sampai mereka jatuh ke very poor. Kalau bisa mover ke near poor. Inilah yang dianggap genuine oleh internasional,” imbuhnya.

Penurunan Kemiskinan Jatim Hasil dari Program yang Komprehensif

Pada kesempatan itu, Pakde Karwo menjelaskan, penurunan tingkat kemiskinan Jatim adalah hasil dari kinerja program-program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif, serta didukung dengan kondisi makro ekonomi yang stabil.

Dampaknya bisa dilihat pada tahun 2016, tingkat kemiskinan Jatim sebesar 11,85 persen atau menurun sebesar 0,43 poin dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 12,28 persen.

Dikatakan, program-program penanggulangan kemiskinan Jatim dikelompokkan ke dalam empat klaster yaitu pertama, Kelompok Program Bantuan Sosial Terpadu Berbasis Keluarga dengan kegiatan Bantuan Operasional Sekolah Madrasah Diniyah (Bosmadin), Bantuan Keuangan Siswa Miskin/BKSM, dan Pembiayaan Kesehatan Untuk Masyarakat Miskin.

Klaster kedua yakni Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dengan kegiatan Jalinmatra Bantuan Rumah Tangga Sangat Miskin, Jalinmatra Penanggulangan Kerentanan Kemiskinan, Jalinmatra Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan (PFK), dan Anti Poverty Program.

Klaster ketiga yakni Kelompok Program Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Kecil dan Mikro, dengan kegiatan Koperasi Wanita dan koperasi Pondok Pesantren. Sedangkan Klaster keempat yaitu Kelompok Program Murah Pro Rakyat, dengan kegiatan Rumah Tidak Layak Huni dan Rumah Susun Sederhana Sewa. (cah/gd)