Surabaya, petisi.co – Debat Publik Pilgub Jatim 2024 masih menyisakan kontroversi. Apalagi saat Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Paslon nomor 2 Emil Elestianto Dardak menyebut nama aplikasi Majadigi (Majapahit Digital).
Salah satu momen hangat tatkala, Emil mengaku saat ini Pemprov Jatim telah memiliki satu aplikasi yang mengintegrasikan semua layanan di Pemprov Jatim hanya dengan membuka satu portal aplikasi Majadigi.
“Majapahit Digital adalah integrasi semua layanan digital ke dalam satu app, satu portal, single sign on,” kata Emil dalam debat kedua yang digelar KPU Jatim di Grand City, Surabaya, Minggu (4/11/2024).
Pernyataan Emil itu, sebagai balasan dari serangan debat yang dilontarkan Cawagub nomor urut 1, Lukmanul Khakim yang mengatakan Pemerintah Jatim boros menggunakan aplikasi. “Jangan salah, selama ini ada 423 aplikasi di Jatim,” kata Lukman.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Luluk-Lukman, Sholichul Umam mengaku mengerti dengan aplikasi Majadigi. Ia pun menilai Emil membodohi publik perihal Majadigi itu.
Dalam debat kedua, saya melihat pernyataan Emil soal Majadigi seolah-olah tercipta pada saat Khofifah-Emil memimpin Jatim, padahal tidak. Aplikasi Majadigi lahir di era kepemimpinan Pj Gubenur Jatim Adhy Karyono,” tegasnya dalam dalam siaran persnya, Rabu (7/11).
Aplikasi yang dibanggakan Emil itu, lanjutnya, baru saja diluncurkan pada 22 Oktober 2024 lalu, dan belum genap 1 bulan. Artinya delapan bulan setelah Khofifah-Emil turun dari kursi pemerintah Jatim.
“Pak Emil dalam pilgub Jatim begitu membanggakan Majadigi, seakan-akan aplikasi itu lahir di era kepemimpinan Khofifah-Emil. Periode kepemimpinan Khofifah-Emil sudah habis Februari lalu, sedangkan Majadigi baru diluncurkan bulan kemarin, belum genap 20 hari,” ungkapnya.
Wakil Sekretaris PKB Jatim ini menilai sangat masuk akal jika Lukman tidak mengetahui tentang aplikasi Majadigi. Pasalnya, Majadigi masih seumur jagung dan belum tersosialisasi dengan masif dan menyeluruh ke publik Jatim.
“Jangan salahkan orang lain jika tidak tau keberadaan Majadigi. Lah sosialisasi Majadigi masih belum masif kok. Coba masifkan dulu, siarkan ke mana-mana kalau di Jatim ini sudah ada Majadigi,” jelasnya.
Lebih dari itu, saat pihaknya mengecek aplikasi Majadigi. Disebutkan, fitur di aplikasi Majadigi masih banyak yang kosong. Sehingga publik diyakininya akan kecewa karena tidak banyak informasi yang bisa didapat di Majadigi.
“Masih banyak yang kosong di Majadigi. Saya yakin saat ini kalau download Majadigi publik pasti kecewa. Buktinya saya sendiri, kalau tidak percaya buktikan download Majadigi,” paparnya.
Sebelumnya, salah satu momen panas debat Pilgub Jatim season 2 terpotret tatkala Cawagub nomor urut 1 Lukmanul Khakim mengatakan bahwa pemerintahan Jatim masih banyak yang perlu dievaluasi dan dikoreksi.
Dalam segi pelayanan digital saja, Lukman mengatakan Pemprov Jatim masih terlalu boros karena menggunakan sekurangnya 423 aplikasi. Pihaknya mengkritisi banyaknya aplikasi itu, sehingga dinilai kurang efisien dalam memberikan pelayanan masyarakat berbasis digital.
Lukman mengusung perubahan dalam pemborosan penggunaan aplikasi tersebut. Pihaknya tidak akan membuat masyarakat bingung dalam mengakses informasi pemerintahan di Jatim. Oleh karenanya ia ingin merampingkan itu dengan membuat satu aplikasi yang mengintegrasika seluruh informasi dan pelayanan pemerintahan Jatim.
“Kami ingin sederhanakan. Tinggal cukup satu aplikasi saja untuk melayani seluruh masyarakat Jatim. Tinggal satu klik semuanya beres,” kata dia.
Karena itu, dia ingin agar ke depan birokrasi digital ini berjalan dengan baik yang dari satu sistem aplikasi ini.
“Semua kedinasan ada di situ, pendidikan ada di situ, kesehatan, UMKM dan seterusnya, semuanya ada di situ,” ujarnya.
Sebagai petahana, Cawagub nomor urut 2 Emil Dardak tidak terima dengan komentar pedas Lukman. Suami Arumi Bashim ini pun mengatakan Lukman telat akan informasi yang ada di Jatim, khususnya terkait aplikasi pemerintah Jatim. “Mas Lukman, telat Mas Lukman,” kata Emil. (bm)





