Kelompok Tani Caping Kota Panen Melon di Wonocolo

oleh -138 Dilihat
oleh
Panen melon hasil urban farming di Kecamatan Wonocolo, Surabaya

SURABAYA, PETISI.CO – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), terus memberikan pendampingan dan pemberdayaan kepada kelompok tani (Poktan) di perkotaan. Saat ini, lebih dari 290 Poktan di Surabaya aktif melakukan praktik urban farming.

Salah satu pendampingan yang dilakukan DKPP Surabaya adalah kepada Kelompok Tani Caping Kota di Kelurahan Jemurwonosari, Kecamatan Wonocolo. Poktan ini, yang fokus pada budidaya melon, berhasil melakukan panen ketiga pada Selasa, 16 Juli 2024.

Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan bahwa pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan warga setempat.

“Harapan kami tidak hanya menambah pendapatan warga, tetapi juga menjadikan mereka pionir yang bisa menginspirasi kelompok tani lainnya,” ujar Antiek saat menghadiri panen melon di Jalan Jemursari II 33A.

Urban farming yang dilakukan oleh Poktan Caping Kota memanfaatkan lahan fasilitas umum (Fasum) yang sebelumnya merupakan Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) milik pengembang dan kemudian diserahkan kepada Pemkot Surabaya. “Kami membantu pembangunan green house ini,” tambahnya.

Antiek mengapresiasi keberhasilan Poktan Caping Kota dalam budidaya melon. Menurutnya, kesuksesan ini juga menarik perhatian stakeholder untuk memberikan dukungan. “Kita juga melihat produk olahan makanan dari hasil budidaya urban farming ini,” ujarnya.

Pendampingan yang diberikan DKPP Surabaya disesuaikan dengan klasifikasi kelompok tani, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) RI No 67 Tahun 2016. Pembinaan Poktan dilakukan berdasarkan kategori mulai dari Kelas Pemula, Kelas Lanjut, Kelas Madya, hingga Kelas Utama.

“Setiap tahun kami melakukan evaluasi dan memberikan sertifikat kepada kelompok tani yang naik kelas,” jelas Antiek.

Camat Wonocolo Kota Surabaya, Muslich Hariadi, menyatakan bahwa di wilayahnya terdapat lima kelompok tani dengan spesialisasi masing-masing. Contohnya, Poktan Caping Kota fokus pada budidaya melon melalui green house, sedangkan Poktan Minasari mengkhususkan pada budidaya pisang cavendish, pepaya california, dan ikan lele.

“Budidaya melon oleh Poktan Caping Kota merupakan yang terbaru di wilayah kami, dan hasilnya bagus,” kata Muslich. Ia menambahkan bahwa kelompok tani tersebut berencana untuk meningkatkan kuantitas bibit melon yang akan dibudidayakan.

“Saat ini kami memanen 325 melon dengan rata-rata berat 1-1,5 kilogram. Ke depan, kami berencana menambah hingga 456 melon yang diharapkan dapat membantu mengentaskan kemiskinan,” tambahnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jemurwonosari, Choirul Anam, menjelaskan bahwa budidaya melon oleh Poktan Caping Kota telah dilakukan sejak setahun lalu. “Ini adalah panen ketiga kami, dan hasil panen sebelumnya selalu habis terjual di kalangan warga,” ungkapnya.

Choirul menjelaskan bahwa pilihan budidaya melon didasari oleh kemudahan budidaya dan nilai ekonomis yang tinggi. “Kami ingin Jemurwonosari menjadi ikon Kampung Melon karena nilai ekonomisnya lebih tinggi dibandingkan sayuran,” pungkasnya. (dvd)