Petisi
Kasat Reskrim Polres Jember, AKP Yadwavina Jumbo.
HUKUM

Keluarga Penganiayaan di Bawah Umur Keluhkan Penanganannya  

JEMBER, PETISI.COBerawal dari Slamet Hariyadi (48) warga Dusun Karangrejo, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember melaporkan perkara penganiayaan terhadap anaknya, Sabtu( 9/11/2019) dengan bukti lapor LP/797/XI/2019/JATIM/RES JEMBER.

Mula kejadian, hari Jumat ( 8/11/2019) sekira pukul 23.30 WIB, M. Angga Leonardi (17) ketika sedang berkendara di Jalan Raya Puger-Gumukmas Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, telah dianiaya oleh seorang laki-laki yang tidak dikenal.

Dengan cara melempar batu yang mengenai kepala hingga mengakibatkan luka memar dan tidak sadarkan diri. Selanjutnya korban dibawa ke RSUD dr. Soebandi Jember. Atas kejadian tersebut keluarga korban merasa sangat dirugikan.

Cipto salah seorang anggota keluarga korban, Jumat  (15/11/2019) kepada awak media menyampaikan, saat ini Angga sudah pulang dari rumah sakit dalam kondisi normal. “Namun, ketika dibawa pulang Angga mengeluhkan masih merasakan sakit di kepala,” kata Cipto.

Korban penganiayaan.

“Kami sebagai keluarga juga merasa kecewa karena saat proses penyidikan kami merasa ditekan oleh penyidik dalam upaya mediasi terhadap keluarga tersangka. Kami tidak meminta ganti rugi tetapi bagaimana tersangka dan keluarganya dapat mempertanggungjawabkan sesuai hukum yang berlaku,” tambah Cipto.

Kasat Reskrim Polres Jember. AKP Yadwavina Jumbo saat ditemui di ruang kerjanya menerangkan, pelemparan batu yang terjadi di Jalur Lintas Selatan (JLS) baik pelaku maupun korbannya masih anak-anak.

“Kedua tersangka ABH saat ini sudah diamankan dan sedang proses diversi karena sesuai peraturan perundang undangan sistem peradilan anak wajib melakukan diversi,” jelasnya.

Lebih lanjut Jumbo mengatakan, saat ini sedang melakukan komunikasi antara keluarganya juga dengan perangkat desa. Secara proseduralnya bila diversi ini gagal dilakukan di sini, maka akan dilanjutkan diversi di penuntutan.

Ini kita masih utamakan diversi tahap awal, apabila ada penyelesaian dari kedua belah pihak yang pada intinya tetap pada tujuan terbaik untuk anak. Saat ini, kita juga telah koordinasi dengan Dinas Sosial ( Dinsos) untuk pelayanan pendampingan. Nanti, dari Bapas juga akan didampingi, nanti dilakukan diversi.

“Apabila diversi tetap gagal, maka akan tetap melakukan proses sebagaimana perintah undang-undang melakukan diversi tahap selanjutnya sampai dengan sidang,” paparnya.

Terkait penyidik yang menghubungi orang tua Angga via telephone, Jumbo menjelaskan itu adalah tugas penyidik.

“Sedangkan telephone merupakan kewajiban polisi untuk melakukan diversi dengan  harus mengundang kedua belah pihak, bila keluarga korban tidak bersedia hadir, berarti polisi menganggap gagal. Kata Jumbo, Diversi bukan upaya paksa,” pungkasnya. (eva)

terkait

“Bukan Walikota yang Diperiksa KPK, tapi Tahanan di Lapas”

redaksi

Kejaksaan Akan Usut Bansos Sapi Dinas Peternakan Pemprov Jatim di Bondowoso

redaksi

Bupati Sidoarjo dan Pengembang Apartemen Sipoa Grup Digugat

redaksi