PETISI.CO
Ketua PGRI Kabupaten Jember Drs H Supriyono SH MM
PENDIDIKAN

Ketua PGRI Jember Apresiasi Kebijakan Bupati Hendy

Mampu Urai Permasalahan Dunia Pendidikan di Kabupaten Jember

JEMBER, PETISI.CO – Saat  Hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, Ketua PGRI Kabupaten Jember Drs H Supriyono SH MM menyampaikan apresiasinya terhadap kebijakan Bupati Jember H Hendy Siswanto, yang dinilainya telah mampu mengurai permasalahan dunia pendidikan yang selama ini terjadi di Kabupaten Jember.

Dalam kesempatan peringatan Hari Pendidikan Nasional,  menurut Spriyono, melalui rekaman videonya,  PGRI Jember menyampaikan terima kasih kepada Bupati Jember, yang telah memberikan SK GTT dan PTT, kurang lebih 3400 SK, pada bulan Maret 2021, melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Jember.

Dampak dari kebijakan tersebut, menurut Supriyono, kekurangan guru di Kabupaten Jember yang selama ini menjadi masalah telah terpenuhi, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih stabil.

Guru penerima SK merasa bangga dan punya harapan, dapat mengikuti sertifikasi guru yang selama diimpikan, begitupula dengan kesejahteraan pendidik dan tenaga pendidik telah meningkat, jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

“Dengan keberanian kepemimpinan Jember baru, persoalan pendidikan tentang kekurangan guru di Jember telah terurai, semoga menjadi titik balik dalam menanggulangi carut marut pendidikan yang terjadi di masa lalu,” ungkapnya, Minggu (2/5/2021).

Supriyono juga berharap, semoga kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember dibidang pendidikan, dapat memberikan layanan kepada para  guru PNS, seperti kenaikan pangkat, pengurusan pensiun, pembayaran kenaikan tunjangan, dapat lebih cepat dan tepat.

Baca Juga :  Perkuat Mental Juara Siswa, MAN 1 Lamongan Gelar Pesona

“Mudah – mudahan pelayanan serba digital, segera terwujud, sekolah segera bangkit, untuk mengukur prestasi, untuk Jember wis wayahe, semoga sukses,” pungkasnya.

Sebelumnya Supriyono mengurai sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara, sebagai tonggak Hari Pendidikan Nasioanl, kurang lebih 100 tahun lalu. Beliau adalah pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di era kolonialisme.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia setiap 2 Mei, untuk memperingati kelahiran dan menghormati jasa Ki Hadjar Dewantara.

“Beliau adalah tokoh dan juga pahlawan nasional, beliau mengatakan pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan, beliau menginginkan peserta didik harus menggunakan dasar tertib dan damai, tata tentrem dan keberlangsungan kehidupan batin, kecintaan kepada tanah air menjadi prioritas, Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang,” ungkapnya.

Pendidikan pada dasarnya, menurut Suriyono  memerdekakan kepribadian, pendidikan harus tanpa tekanan dan paksaan, dengan kemerdekaan jiwa dan raga, maka kemerdekaan jiwa anak didik akan berkembang mengikuti kodratnya.

“Memerdekakan setiap jiwa, hanya melalui pendidikan, dengan pendidikan yang benar, kesadaran akan kemerdekaan tumbuh  dan berkembang,” tuturnya.

Semboyan pendidikan nasional “Ing Ngarso Sung Tulodo,Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”  adalah teori kepemimpinan bagi seorang pendidik, yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Baca Juga :  Nesaba Peduli Lingkungan, Ikuti Lomba Melukis Tong Sampah

Ing Ngarsa Sung Tulada, artinyaJika seorang guru atau pendidik pada saat berada posisi di depan, maka guru harus menjadi teladan bagi  murid-muridnya, menjadi contoh dan tauladan yang baik. Kata Supriyono, hari ini sering dilupakan oleh para guru, bahwa dirinya sebagai figur dan contoh.

Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru atau pendidik, jika berada di tengah, diantara murid-murinya, guru harus dapat membangkitkan semangat dan gairah belajar murid-muridnya.

“Guru menjadi pendorong atau motivator, bagi peserta didik untuk meraih impiannya,” ujarnya.

Tut Wuri Handayani, artinya pada saat guru ada dibelakang, pendidik atau guru harus mendorong, dan menyakinkan, serta memberikan dukungan yang penuh atas pencapaian cita – cita bagi seluruh siswanya.

Hari ini, kata Supriyono cara medidik telah maju dan berkembang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetauan dan tehnologi, dari kondisi itu guru dituntut harus  menyesuaikan dengan cara – cara baru dalam mendidik. Guru harus menguasai tehnologi informasi, dapat menggunakan internet dengan efektif, dapat menggunakan media sosial dengan efektif, serta menggunakan media – media baru dalam kemajuan tehnologi informasi.

Baca Juga :  Kegiatan Sekolah PTM Terbatas di Kabupaten Malang Tertunda Akibat PPKM Darurat

“Tehnologi belajar dengan daring menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar lagi,  kita berfikir bahwa Indonesia akan menggunakan tehnologi belajar dengan cara daring, diperkirakan sekitar tahun 2030, tetapi tanpa kita perkirakan, hal itu datang lebih cepat,” ujarnya.

Dengan adanya pandemic covid 19, mau tidak mau, suka tidak suka, para guru harus berproses dengan cara – cara baru dalam interaksi belajar dan mengajar, maka pilihan belajar dengan cara daring adalah cara yang tidak menyenangkan, tetapi wajib dilakukan.

“Alhamdulillah, guru – guru dengan cepat menyesuaikan, dengan tehnologi daring,” tandasnya.

Kondisi guru hari ini, jika dilihat dari statusnya, ada guru pns, guru pns daerah, guru tetap yayasan, guru tidak tetap, baik ditingkat PAUD, SD, SMP, maupun SMK dan SMA.

Dari kondisi sosial ekonomi, ada guru sejahtera dan pra sejahtera. Guru sejahatera ditempati oleh Guru PNS atau PNSD, sementara GTT dan PTT masih dalam kondisi cukup.

“Maka dalam momentum Hari pendidikan Nasioanal, meminta kepada guru untuk selalu meningkatkan kualifiasi dan kompetensi, agar dapat menjawab tantangan jaman, guru jangan berhenti belajar, guru jangan berhenti membaca, guru harus terus dinamis dalam mengikuti persoalan pendidikan yang semakin pelik,” pungkasnya.(mmt)

terkait

In House Training di SMAN 9 Sijunjung

redaksi

Upaya Maksimalisasi DAK 2021 SMP dan SD, Disdik Sumenep Lakukan Bimtek Penerima

redaksi

FIA Unitomo Teken PKS dengan Pascasarjana Unisma

redaksi