Khofifah Berdialog Dengan Petani Garam Di Babat Jerawat Pakal

oleh
Khofifah berdialog dengan Petani Garam di Babat Jerawat Pakal

SURABAYA, PETISI.COCalon Gubenur Jawa Timur Nomer urut 1 Khofifah Indar Parawansa, membuka dan meresmikan Posko kemenangnya di Kampung Duku Buran, Kelurahan Babat Jerawat, Kecamatan Pakal Surabaya, Senin (2/4/2018).

Posko relawan pasangan nomor urut 1 Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak, yang dikordinatori oleh H. Sururi telah diresmikan dan dibuka. Setelah acara peresmian posko tersebut, acara dilanjutkan berdialog dengan para petani garam yang berada di Duku Buran RW 1, Kel. Babat Jerawat, Kec. Pakal Surabaya.

Para warga masyarakat Duku Buran dan juga para petani garam sangat antusias menyambut kedatangan paslon (pasangan calon) Gubenur Jawa Timur nomer urut satu tersebut. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya warga yang ikut berdialog dengan menyampaikan uneg – uneg.

Kordinator Petani Garam H. Abdul Kholik menyampaikan, kronologis atau perjalanan proses produksi hingga ke tengkulak. Pada tahun – tahun sebelumnya, harga garam yang ditetapkan pemerintah adalah untuk kw 1 yaitu 700, terus kw 2 – 600, dan kw 3 – 500, kalau garam kw 1 itu dari pabrik bukan dari petani.

“Pada waktu harga standart 500 turun – turun, lah pas pada puncak panen raya harga turun mencapai 250 – 300/ kg, itupun sudah harus di atas trek bu, padahal ada biaya dari tambak ke lokasi pangkalan, ada biaya transportasi yaitu 50 ribu per ton, karungnya itu 40 ribu/ ton, yang masukkan kedalam karung 20 ribu/ ton, naik ke atas truk 20 ribu/ ton, jadi total untuk operasionalnya 130 ribu per ton. Sedangkan harga pada waktu puncak panen 250 – 300 ribu/ ton dikurangi biaya operasional 130 sisanya habis di jalan bu,” ucapnya.

Sementara Khofifah Indar Parawansa, saat dikonfirmasi, menyampaikan, bahwa sudah bertemu dengan petani garam di Pakal, dan mengkorfirmasi dengan menyampaikan, perihal harga garam, import garam, dan bagaimana perlindungan terhadap petani garam.

Sebelumnya, saya sudah mendengar hal yang serupa atas nama asosiasi petani garam di pulau Madura, yang mereka harapkan adalah ada HET (Harga Eceran Tertinggi) yang minimal 1000, jadi BEP nya itu bisa didapat. Kalau bisa di atas 1000 maka mereka sudah mendapatkan provit, selain itu mereka juga berharap akan ada perlindungan harga garam.

“Seperti di tahun 2017 pemerintah menetapkan harga 1500, itu berarti mereka bisa untung kalau di atas 1000. Tapi pernah harga garam ini sampai 300, bahkan juga pernah di bawahnya, itu berarti mereka tidak akan pernah mendapatkan provit karena cos untuk operasional ndak nutut,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Khofifah Indar Parawansa, harapannya, import garam ini harus dibatasi pada import garam industri, seringkali dalam garam industri itu merembes ke garam konsumsi. Hal – hal seperti ini memang harus dilakukan dan ditelaah lebih detail lagi tentang kebutuhan garam kita ini sebenarnya berapa, untuk kebutuhan garam konsumsi berapa, dan garam import berapa.

“Jangan sampai garam import itu datang pada saat panen raya garam, jadi kan harga garam lokal bisa anjlok,” tegasnya.

Kemudian, memang beberapa kali kunjungan ke lapangan selalu kita komunikasikan langsung, kepada pengambil keputusan utama, diantaranya, mem WA pak Mendag dan Bu Susi, mungkin beliau lagi meeting. Tapi alhamdulillah bisa sambung dengan pak Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan beliau menyampaikan bahwa keputusan Presiden harga garam di atas 1000, supaya petani garam sejahtera.

“Dan yang kedua untuk penguatan plasma, karena plasma ini menjadi penting, karena petani – petani garam ini tidak semua petani besar, tapi tetap bisa survive, kemudian harga perkilo di atas 1000 itu akan menjadi proteksi bagi petani garam sekaligus pintu masuk penyejahteraan petani garam,” kata Luhut

Bapak Luhut juga menyampaikan, kepada kita bahwa sebetulnya, Presiden itu menekankan untuk segera swasembada garam produksi, pada tahun 2020 diharapkan kita tidak akan lagi import garam industri, kalau tidak lagi import garam industri kemudian garam konsumsi ini akan terproteksi dengan sendirinya.

“Nah pola – pola yang lebih sistem dan strategis ini memang harus terus disinergikan apalagi suplier garam nasional kan dari Jawa Timur. Bisa dibayangkan kalau ada import garam turunnya di Tanjung Perak, maka ambruklah harga garam petani. Apalagi datangnya pas panen raya garam, jadi harapannya mereka ada garis minimal 1000 dan ada HET,” pungkas Khofifah Indar Parawansa, calon Gubenur Jawa Timur nomer urut 1. (bah)