Minggu pagi udara Kemayoran begitu cerah, setelah semalam hujan disertai petir. Bangun tidur agak siang kupikir biarlah agak santai, toh hari libur.
Kulihat hape masih nempel ke kabel charger. Kulihat baterei sudah terisi penuh dan kubuka, ternyata ada missed call dari Tudiono, adikku yang saat ini sedang bertugas sebagai Konsul Jenderal RI di Cape Town, Afrika Selatan.
Aku telpon balik pake Whatapps meski tahu di Cape Town pasti masih tengah malam, mengingat selisih enam jam dengan waktu di Jakarta, khawatir ada berita penting.
“Assalamualaikum, semalam nelpon Tud.”
“Hiyo Mas Geng. Opo kabar sampean,” dia jawab.
“Alhamdulillah, baik dan sehat,” jawabku.
Seperti biasanya, Tudiono selalu memberi perhatian padaku dan saudara saudara kami. Meski sudah ada grup WA yang kami beri judul Keluarga Barokah, namun tidak jarang dia nelpon langsung atau melakukan video call demi mendengar suara dan melihat wajah secara langsung.
Kami enam orang bersaudara. Setelah Mas Yon (sulung), aku nomor 2, Tudiono nomor 3, Nur Alimah (cewek) nomor 4, lantas Agung Yudiono nomor 5, dan Slamet Yuono bontot.
“Minggu depan aku dines ke Indonesia Mas Geng, terutama ke Jakarta dan Surabaya untuk menyiapkan penyelenggaraan Pasar Rakyat di Cape Town sekitar bulan Oktober depan,” jelasnya.
“Dalam rangka itu aku akan ketemu pimpinan sejumlah perusahaan dan grup musik. Dan melakukan kunjungan ke Surabaya untuk ketemu Pj. Gubernur Jatim, pimpinan Kadin dan sejumlah universitas di Jatim,” imbuhnya.
“Wah muantap Tud, bisa membangun kembali jembatan ekonomi dan sosial budaya antara Jatim dan Cape Town, yang sudah terputus beberapa abad lalu sejak warga nusantara diusung oleh penjajah ke sana,” komentarku.
“Bisa menerawang ke masa lalu, seperti kita mengenang manisnya masa kecil di Malang, tempat kita dilahirkan,” tambahku.
“Wah bener Mas Geng. Aku wis mulai nulis kenangan-kenangan manis masa kecil kita. Nanti saya share ke grup WA Barokah kalau sudah lengkap.”
“Peristiwa apa saja yang sangat terkenang oleh sampean, tolong nanti juga dishare,” pintanya.
“Okey, siip Tud. Banyak sekali kenangan masa kecil, khususnya permainan-permainan seperti engklek, jumpritan, dan umbulan. Namun sebagai cerita awal, aku pingin share asyiknya permainan masa kecil kita pada sekitar tahun 1970 hingga awal 1980, yaitu berburu capung. Kamu ingat masa kita bermain ular karet, ingat juga kita dan teman teman mengumpulkan bungkil kelapa sawit, atau asyiknya kita bermain adu klungsu asem jawa.”
Masa kecil di Kampung Mbebekan, Malang
Banyak kesamaan kisah perjalanan hidup Tudiono dan aku. Kami sama-sama lahir di Kampung Mbebekan Malang.
Sekolah SD, SMP dan SMA kami satu kompleks. Kami juga sama sama masuk Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) meski tahun masuk dan lulusnya berbeda.
Laksana keajaiban Tuhan, kami pun masuk diterima dan bekerja di Kementerian Luar Negeri RI dengan tahun masuk yang berbeda.

Sekolah kami waktu itu di SD Negeri Purwodadi yang sekarang telah berganti nama menjadi SDN Pisang Candi I untuk pagi hari dan SD Pisang Candi II untuk sore hari.
Tudi kecil masuk di SD Pisang Candi II, aku di Pisang Candi I. Sekolah itu beralamat di jalan Simpang Raya Langsep, sekitar 500 m dari rumah kami di jalan Kelapa Sawit yang dulu disebut daerah Mbebekan.
Ciri khas kampung Mbebekan waktu itu adalah adanya kandang peternakan babi milik Yuk Cek, seorang WNI keturunan Tiongkok.
Disamping sekolah kami terdapat gedung bioskop Galunggung milik Pak Djajoesman. Istirahat sekolah banyak murid melihat gambar-gambar film yang akan diputar digedung itu.
Sepanjang Jl Simpang Raya Langsep sampai Jl Kelapa Sawit belum ada jalan berlapis aspal. Sepanjang jalan itu masih berupa tanah dan batu-batu urug yang dipasang secara manual.
Demikian juga listrik, tiang listrik baru dipasang di beberapa titik jalan.
Sekitar tahun 1970-an dibangunlah sebuah pabrik tegel di pinggir Jalan Raya Langsep di persimpangan Jl Simpang Raya Langsep dengan Jl Kelapa Sawit, dekat kandang babi tersebut.
Kawasan yang tadinya sawah dan tegalan/ladang tempat kami bermain menghabiskan waktu masa kecil itu pun mulai ditempati oleh pabrik tegel.
Banyak permainan anak-anak yang sangat menarik pada masa kecil kami kehilangan lahan. Beberapa di antaranya adalah berburu capung dan bermain ular karet yang kami buat sendiri dari karet timba sumur yang terbuat dari potongan ban bekas mobil, kami beri warna garis-garis putih, sehingga menyerupai ular phiton.
Selain teman bermain, sebagian teman-teman sebaya kami juga merupakan teman jualan kacang bersama di bioskop Kelud di Jl Kawi Malang waktu itu. Mereka termasuk di antaranya Suwaji (sampai menjadi teman SMP) Samto, Riyadi, Agus, Gandhi, Sunaryo yang biasa dipanggil ‘O’o’, Siswanto, Eko, Tiono, Nono, Suud, Hari, Misdin dan Hadi Pak Jamak.
Sedangkan teman-teman main yang tidak turut jualan kacang termasuk Ersan, Pule.
Kami bocah-bocah kecil dan belum faham arti cita-cita, namun sehari hari selalu ceria. Sembari jualan kacang yang menghasilkan uang jajan, kami juga menjadi hafal nama-nama bintang film dari berbagai Negara, seperti Jepang, Tiongkok/Hongkong, India dan bintang film Indonesia sendiri.
Bioskop menjadi sarana cari uang sekaligus sarana hiburan yang special, mengingat belum banyak orang memiliki tivi.
Satu kampung hanya satu atau dua orang tetangga yang mempunyai televisi, itu pun masih televisi hitam putih dengan energi listrik dari aki (accumulator) yang harus dicharge tiap dua atau tiga hari sekali.(bersambung)






