Lansia Dan Anak – Anak Paud Babat Jerawat Demo

oleh
Puluhan Lansia beserta anak - anak Paud Melati, yang berada di Kampung Mulyorejo Baru, RT 5/ RW 6, Kel. Babat Jerawat, Kec. Pakal, menggelar demo

SURABAYA, PETISI.COPuluhan Lansia beserta anak – anak Paud Melati, yang berada di Kampung Mulyorejo Baru, RT 5/ RW 6, Kel. Babat Jerawat, Kec. Pakal, menggelar demo. Mereka menuntut agar gedung Balai RW 6 tempat mereka beraktivitas, yang diduga digembok oleh salah satu warga setempat untuk segera dibuka kembali, Kamis (29/3/2018).

Menurut sumber di lapangan, bangunan Balai RW yang sudah berdiri sekitar 20 tahunan tersebut, berdiri di atas tanah milik Pemerintah Kota Surabaya. Hal itu dibuktikan dengan adanya plakat yang sudah dipasang oleh pemerintah kota.

“Balai RW ini sudah berdiri puluhan tahun, namun kenapa kok baru kali ini dipermasalahkan,” ujar warga saat di lokasi.

Balai RW yang digembok

Sementara itu kuasa hukum warga Syahrul Alam SH, mengatakan, masih mendalami permasalahan tersebut, dirinya akan langkah awal dengan melaporkan perbuatan tersebut, dan menempuh jalur hukum untuk penyelesaiannya.

“Tindaklanjut yang diambil adalah melaporkan perbuatan seseorang, yang diduga dan atas pengakuannya yang menggembok balai RW tersebut. Sehingga fungsi dari balai RW sebagai tempat pelayanan warga maupun pemkot menjadi tidak berfungsi, hal ini merugikan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Syahrul Alam, kejadian tersebut bermula dari saudara R yang mengklaim bahwa tanah yang dipakai balai RW itu sebagian tanah keluarganya. Padahal tanah ini digunakan untuk balai RW, Paud dan kegiatan masyarakat sudah lama. Mengenai plakat tersebut dipasang, setelah pihak R mensomasi pak RW nya, disuruh untuk mengosongkan balai RW tersebut.

“Sedangkan pak RW nya kan hanya menjalankan tugas fungsinya dari pemkot, dan yang diketahui bahwa tanah itu adalah milik pemkot, kalau memang tanah itu merasa miliknya ya silahkan dibuktikan seperti ukurannya dan keluasannya,” ucap Syahrul.

Selanjutnya dari warga masyarakat lansia juga bunda dari anak – anak Paud meresa kecewa atas perbuatan tersebut, Kepala Paud Melati Istiqomah, mengatakan, bahwa pihaknya bukan rugi materi tapi rugi pada pembelajaran bagi anak – anak harus kita alihkan ke satu tempat.

“Jadi pengalihan tersebut harus sesuai dengan kurikulum kemarin yang sudah dibuat. Jadi kurikulum yang kita buat kemarin tidak bisa kita laksanakan seperti RKH nya. Jadi anak – anak sementara kita alihkan ke mushola, dengan pembelajaran sentra agama,” ujarnya.

Lanjutnya, karena semua peralatan, seperti buku – buku, dan yang lainnya ada di dalam semua. Jadi kita tidak bisa memberikan pembelajaran seperti semula. Kejadian ini sudah sejak hari Senin pada saat anak – anak datang kesini sudah dalam keadaan tertutup.

“Jadi pada hari Senin itu anak – anak berjajar – jajar di sini semua. Hari itu kita ndak bisa masuk dan akhirnya hari Selasa kami alihkan ke mushola, yang bikin kami miris adalah anak – anak tanya, bunda paudnya kok ditutup ada apa, lah ndak bisa sekolah bunda, itu yang membuat kita terenyuh,” kata Istiqomah

Menurut Istiqomah, saat ini lagi banyaknya kegiatan – kegiatan evaluasi kelulusan, harapan kami tempat ini segera dibuka anak – anak biar bisa kembali belajar dan beraktivitas seperti sedia kala.

“Kalau bisa ya secepatnya karena kasihan mereka, dan bundanya juga bingung besok mau dikasih apa, terus ngomong ke anak – anak bagaimana agar mereka tetap merasa senang dan tidak merasa dirugikan seperti ini. Sementara semua kebutuhan kita belikan dengan cara swadaya,” tambah Istiqomah. (bah)