Lidahnya Pelo, Tudi: Sepoo…

oleh -167 Dilihat
oleh
Mas Geng no 1 dari kiri, Mas Yon no 3 dari kiri dan Tudi no 5. Yang no 4 dari kiri adalah Slamet Yuono pengacara yang banyak dikenal sebagai pembela orang yang terjebak pinjaman online . Sedang belajar bersama.

BAGIAN I

Cerita ringan ini mengisahkan 2  anak kakak beradik, Mas Geng dan Tudi, hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.

Generasi X, umumnya ditempa oleh keadaan dan lingkungan yang berat, namun menjadikannya lebih mandiri, disiplin, pekerja keras, logis, dipenuhi oleh mimpi mengenai masa depan.

Pada generasi X, TV sudah mulai ada, namun sangat terbatas dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbilang kaya.

Oleh karena itu, tidak heran pada masa itu anak-anak nonton TV bersama di rumah tetangganya. Dan kalau tetangganya mood-nya kurang baik, tahu-tahu di tengah- tengah serunya film yang ditonton, TV dimatikan si pemilik dan semua bubar.

Ha ha ha….semprul bener.

Untuk membantu perekonomian orang tua atau sekedar memperoleh uang jajan, Mas Geng dan Tudi berjualan kacang di bioskop Kelud Kota Malang Jawa Timur. Bioskop ini terletak di perempatan antara jalan Kawi dan Arjuno dan merupakan bioskop rakyat yang menjadi tontonan hiburan masyarakat kecil yang pas-pasan.

Sekitar 3,5 tahun  mereka berjualan kacang di Kelud dengan berjalan kaki menempuh jarak pulang pergi total 8 kilo meteran.

Terkadang, jika jualan laris mereka naik becak. Kakak beradik itu berjualan bersama teman-teman sebaya dari kampung Mbebekan.

Setelah Mas Yon kakak mereka berhasil mendirikan usaha agen susu yang diberi nama SAE, atau Sinau Andhandani Ekonomi yang artinya Belajar Memperbaiki Perekonomian, Mas Geng dan Tudi beralih menjadi peloper susu. Tudi loper susu mulai kelas 6 SD sampai kuliah semester 5.

Mas Yon penuh idealisme, membangunkan semangat dan cita-cita adik-adiknya. Dia banyak diilhami api semangat Bung Karno tentang nasionalisme dan pengabdian.

Sambil loper susu, dia aktif menjadi kader partai PDI. Sayangnya, situasi politik saat itu jauh dari baik- baik saja. Dia dan adik-adiknya banyak diteror. Sampai-sampai Mas Yon harus stres berat dan sakit-sakitan.

Usaha agen susu itu akhirnya jatuh. Apakah Tudi kuliahnya drop out? bagaimana dengan Mas Geng?

Lama tidak ada kabar, tahun 1993 Mas Geng muncul dan dia ternyata barusan tugas dari PBB sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian di Johannesburg setelah berakhirnya pemerintahan apartheid. Dia berhasil menjadi seorang diplomat (didikan masa lalu yang penuh luka kalau gagal dan lumat?….ha ha ha….bisa jadi demikian).

Tudi pun menjalani proses “diplomat” didikan masa lalu penuh luka dengan resiko gagal pasti lumat.

Untungnya, dia berhasil melewati masa-masa berat.

Main Layang-layang dan Ingin “Terbang”

Saat itu tahun 1974. Lamat-lamat terdengar teriakan dari kejauhan, teriakan Mas Geng yang berlarian berebutan mengejar layang-layang yang putus.

“Tud tangkap Tud, tangkap Tud.”

Teriakan itu semakin mendekat. Mas Geng sangat berharap Tudi dapat beraksi cepat untuk menangkap layang-layang itu. Tapi sayang, dia harus kecewa. Tudi yang berusia 6 tahun terlalu kecil belum tahu maksud pesan Mas Geng.

Tudi malah menjauhi tempat jatuhnya layang-layang yang sudah di dekatnya dan yang sebenarnya tinggal mengambil saja. Ada rasa ketakutan menyelimuti wajahnya, entah karena apa.

Tetangganya, Lek Tugi, yang ada di sekitar situ mengambil layang-layang itu dan memberikannya kepada Tudi.

Anak kecil itu sangat senang diberi layang-layang, suatu mainan yang saat itu sangat populer. Tinggi badan Tudi saat itu sekitar sepaha Lek Tugi.

Mas Geng no 2 dari kiri, Mas Yon no 3 pakai batik hitam, Tudi no 4 dari kiri pakai kaos biru telur

Tudi kurang berkembang baik dalam berbicara. Lidahnya agak tedal atau pelo, tidak bisa mengatakan dengan baik kata-kata yang mengandung konsonan R.

Tudi sering dijadikan bahan untuk senda gurau teman-teman sebayanya. “Sepur, coba Tud,” kata temannya. “Sepoo,”  ucap Tudi dan semua tertawa.

Masa Kecil Masa yang Ceria

Mas Yon, Mas Geng, Tudi, Riyadi, Sis, Riyanto, dan beberapa anak-anak di kampung itu sangat ceria menikmati masa-masa kecilnya dengan mainan-mainan anak yang sederhana, seperti layang-layang, umbul atau gambaran dan kelereng atau gundu. Masa permainan itu seperti ada musimnya.

Tudi sangat senang bermain layang-layang. Bahkan dalam hati dia ingin tetap bermain layang-layang walaupun nanti sudah jadi “orang”.

Dia sebenarnya mengagumi pesawat terbang dan ingin naik pesawat itu terbang jauh di atas awan. Namun tentu itu hanya mimpi. Yang realistis adalah menerbangkan layang-layang, mengadunya dan menang. Ini akan cukup memuaskan keinginannya untuk “terbang.” (bersambung)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.