PETISI.CO
Gubernur Khofifah mengunjungi stan gula usai melaunching Lumbung Pangan Jatim.
EKONOMI

Lumbung Pangan Langkah CETTAR Pemprov Jatim di Tengah Pandemi Covid-19

SURABAYA, PETISI.CO – Masa pandemi Virus Corona atau Covid-19, merupakan masa-masa sulit yang dialami seluruh Provinsi di Indonesia. Tak terkecuali dengan Provinsi Jawa Timur (Jatim). Sebagai provinsi kedua terbesar di Indonesia, Jatim merasakan dampak sosial yang luar biasa dahsyatnya.

Dibawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Pemprov Jatim telah melakukan berbagai upaya untuk menangani dampak sosial yang  menimpa masyarakat. Anggaran Rp 2,3 Triliun pun dikucurkan agar dampak sosial secepatnya teratasi.

Sesuai dengan pelayanan kerja CETTAR yang notabene adalah program Nawa Bhakti Satya yang diperas atau dirangkum untuk 99 hari pertama kerja, Khofifah-Emil ingin menangani setiap kejadian yang muncul dengan Cepat, Efektif, Tanggap, Transparan dan Responsif (CETTAR).

Pada masa pandemi virus Corona atau Covid-19, pelayanan kerja CETTAR terlihat nyata. Sudah banyak upaya yang dilakukan Pemprov Jatim untuk membantu warganya yang terkena musibah. Satu diantaranya adalah mendirikan Lumbung Pangan Jatim.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat Jatim, bahwa pemprov ingin memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Kami paham banyak masyarakat Jatim yang terdampak pandemi Covid-19 ini,” kata Khofifah.

Lumbung Pangan Jatim dilaunching oleh Gubernur Khofifah pada 21 April 2020 lalu di Gedung Serbaguna JX International, Surabaya. Sentra logistik pangan Jatim ini merupakan inisiasi dan format baru pasar modern yang dirancang saat pandemi Covid-19.

Di Lumbung Pangan Jatim yang dikelola oleh PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim, perusahaan milik BUMD Jatim, tersedia beragam bahan pokok bagi masyarakat. Mulai dari beras, gula, ayam, mie instan, air mineral, bawang, telur ayam, daging ayam, daging ikan, hingga bawang putih.

Lumbung Pangan Jatim didirikan  karena Jatim merupakan lumbung pangan nasional. Sebut saja komoditas beras terdapat surplus sebanyak 1,9 juta ton. Lalu, telur dan ayam potong juga mengalami surplus.

Bahkan khusus untuk telur, ada permintaan khusus dari Khofifah, agar disediakan di Lumbung Pangan Jatim. Alasannya, Khofifah tak mau hanya karena pandemi Covid-19, angka stunting di Jatim semakin tinggi.

Program tersebut bisa menjadi tempat masyarakat Jatim mengakses kebutuhan bahan pokok, dengan harga yang lebih murah daripada harga di pasar. Harga yang terjangkau, akan menarik minat masyarakat untuk membeli, sehingga tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan-bahan pokok selama pandemi ini.

Pada awalnya, banyak masyarakat yang tidak mengerti keberadaan sentra logistik pangan Jatim ini. Maklum, masih banyak masyarakat yang di era pandemi, sibuk memikirkan mata pencaharian. Di masa pandemi, banyak pekerja atau buruh yang “dirumahkan” oleh perusahaan yang gulung tikar.

Sebagian masyarakat juga berpikir Lumbung Pangan Jatim tak ubahnya dengan pasar tradisional. Barang-barang sembako yang dijual, harganya tetap sama. Bahkan, ada yang berpikir Lumbung Pangan Jatim ini, program pembagian sembako gratis dari Pemprov Jatim.

Namun, seiring dengan gencarnya pemberitaan keberadaan Lumbung Pangan lewat media masa, televisi, radio dan media sosial (medsos), lambat laun masyarakat dapat memahami. Mulai lah warga berbondong-bondong belanja di Lumbung Pangan Jatim.

“Ini hanya penyediaan sembako dengan harga yang lebih murah. Bukan program pembagian sembako gratis. Saya berharap, dengan adanya lumbung pangan Jatim ini, semua kebutuhan masyarakat akan terpenuhi,” ujar Khofifah.

Untuk menunjang program tersebut, penerapan SOP protokol kesehatan diterapkan sejak awal diresmikan. Pelaksanaannya dalam membeli pun tetap menerapkan physical distancing dan tidak akan terjadi kerumunan.

Selain SOP protokol kesehatan, lumbung pangan menyiapkan layanan preorder melalui drive thru untuk meminimalkan kerumunan dan kontak antarmanusia. Lumbung Pangan Jatim ini juga memberikan berbagai macam kemudahan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Selain harganya yang murah, juga karena dalam Lumbung Pangan Jatim ini bisa diakses dengan cara pembelian online. Pembeli hanya perlu membuat order ke pihak Lumbung Pangan dan Lumbung Pangan yang akan mengantar dan bebas ongkir (ongkos kirim, Red) dengan maksimal jarak 20 kilometer.

“Sangat terbantu sekali mas. Belanja di lumbung pangan, selain harganya murah, kami tidak repot-repot lagi membeli barang-barang disini, karena bisa beli lewat online atau Gojek,” kata Ny Yuni, ketika dijumpai petisi.co di Jatim Expo.

Seorang ibu belanja di Lumbung Pangan Jatim.

Ny Yuni, merupakan salah satu dari ribuan pelanggan tetap Lumbung Pangan Jatim. Dia memiliki usaha catering makanan di rumahnya kawasan Surabaya Barat. Dua hari sekali dia berbelanja di Lumbung Pangan Jatim.

Transaksi Terus Meningkat

Penanggungjawab Lumbung Pangan Jatim, Erlangga Satriagung mengakui, berdirinya Lumbung Pangan Jatim didadasari oleh bentuk keprihatinan Gubernur Khofifah pada masa pandemi Covid-19. Banyak masyarakat yang pendapatannya drop, sementara kebutuhan hidup harus tetap terjaga.

“Oleh Ibu Gubernur, diupayakan masyarakat diringankan beban biaya hidupnya. Dimudahkan akses untuk mendapatkan sembako dalam posisi harga sembako lebih murah dari pasar. Masa-masa pandemi itu kan aktivitas semua drop,” katanya.

Akses itu, menurutnya, bukan akses beli sembako dengan harga mahal, tapi murah. Respon masyarakat bagus, karena harga ditingkat petani atau Gapoktan dan pabrik, barangnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat.

Tidak heran setiap harinya jumlah pembeli baik secara online dan offline seluruh Jatim mencapai jutaan orang. Sebagai contoh jumlah pembeli lewat offline pada 1-16 September sekitar 450 ribu orang. Sedangkan pembelian melalui online sebanyak 1,2 juta.

Nilai transaksinya jauh lebih besar lagi. Pihak Lumbung Pangan Jatim mencatat sejak launching tanggal 21 April 2020 hingga 1 September 2020, nilai transaksi mencapai Rp 13.986.897.589.

Sedangkan transaksi pada 1-16 September 2020 sebesar Rp 1,5 miliar. Sehingga, total nilai transaksinya mencapai Rp 15.455.402.037. “Ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lumbung panas tinggi sekali,” tegas Erlangga.

Utamanya warga yang tinggal di perkampungan. Mereka memanfaatkan Lumbung Pangan untuk dagang kecil-kecilan atau meracang. Ibu-ibu yang membuka usaha meracang cukup memesan barang lewat WhatsApp (WA) ke Lumbung Pangan Jatim.

Penanggungjawab Lumbung Pangan Jatim, Erlangga Satriagung.

Barang yang dipesan langsung dikirim oleh pihak lumbung pangan lewat Grab atau Gojek. Tanpa dikenakan biaya pengiriman atau free ongkir (ongkos kirim). Namun, dengan catatan jaraknya dibawah 25 Km.

“Ini juga memberikan pendapatan luar biasa kepada Grab dan Gojek. Di masa pandemi, pendapatan mereka drop hingga 20 persen. Disinilah pemerintah hadir, menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada barang yang dikirim tanpa dikenai biaya ongkir,” jelasnya.

Jangkauan Lumbung Pangan Jatim mulai diperluas untuk membantu warga yang terdampak Covid-19 di daerah lain. Hingga Agustus, jangkauannya sudah mencapai 38 Kabupaten/Kota di Jatim.

Tak hanya itu, Lumbung Pangan Jatim terus berinovasi agar bisa menjangkau lebih luas masyarakat dalam memperoleh sembako yang murah dan di bawah harga pasar. Terbaru, Lumbung Pangan Jatim menggandeng BUMDes di sejumlah  kabupaten Jatim untuk lebih mendorong tumbuhnya ekonomi di pedesaan.

Dengan sistem menggandeng BUMDes, maka selain masyarakat mendapatkan akses sembako murah dan melimpah, BUMDes juga mendapatkan keuntungan dari setiap pembelanjaan sembako Lumbung Pangan yang dipasarkan melalui BUMDes.

Dalam pelaksanaannya BUMDes berperan sebagai dropshipper sekaligus agen PT Pos. Setiap masyarakat yang membeli paket sembako, Lumbung Pangan Jatim akan mengirimkan langsung ke BUMDes melalui PT Pos dengan gratis ongkir. BUMDes akan mendapatkan keuntungan Rp 5.000 per paket sembako yang dipasarkan.

Selain itu, juga ada tambahan bila akumulasi penjualan oleh BUMDes dalam sebulan diatas 1.000 pemesanan, maka Lumbung Pangan Jatim akan memberikan tambahan Rp 1,2 juta pada BUMDes. Dan jika pemesanan lebih dari 1.500 per bulan, akan mendapatkan tambahan Rp 3 juta dari Lumbung Pangan Jatim.

Hingga September 2020, sudah ada 62 BUMDes di Jatim yang memiliki usaha toko dan menjadi agenpos. Mereka menjadi sasaran yang siap untuk diajak integrasi perluasan layanan sembako murah Lumbung Pangan Jatim.

“Target kita adalah 523 BUMDes yang memiliki usaha toko di Jatim bisa kita integrasikan, sehingga akan mendekatkan layanan sembako murah gratis ongkir pada masyarakat di pedesaan. Tapi, ini minus kepulauan, karena mengirimnya tidak sampai ke sana,” papar Dirut PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim ini. (bm)

terkait

Tiga Direktur Baru Bank Jatim Teken Pakta Integritas

redaksi

Musyawarah Pelaksanaan PSR Anggota KUD Kurnia Timpeh

redaksi

Dewanti Rumpoko Suport Piala Walikota ‘E-Sport dan Batu Coffe Fiest’

redaksi
Open

Close