PETISI.CO
Koordinator MAKI Boyamin Saiman.
HUKUM

MAKI Awasi Sidang Kasus Penipuan dan Penggelapan Miliaran Rupiah

SURABAYA, PETISI.COSidang perkara dugaan penipuan dan penggelapan miliaran rupiah dengan terdakwa seorang residivis, di Pengadilan Negeri Surabaya, menjadi perhatian MAKI (Masyarakat Anti Korupsi Indonesia).

Keseriusan MAKI ditunjukkan Koordinatornya, Boyamin Saiman, dengan melayangkan surat kepada Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Dr Joni SH MH.

Intinya meminta Ketua PN Surabaya melakukan pengawasan, terhadap perkara dugaan penipuan dan penggelapan dana trading nikel. Terdakwanya Venansius Niek Widodo (46), yang saat ini sedang disidangkan.

“Ada dugaan broker perkara untuk menolak dakwaan jaksa penuntut umum dalam putusan sela yang dibacakan hari Senin depan,” kata Boyamin kepada awak media, Jumat (4/12/2020) sore.

Baca Juga :  PTPN X PG Djombang Baru dan PG Tjoekir MoU dengan Kejari Jombang

Boyamin menjelaskan, kasus penipuan ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh terdakwa Venansius.

Sebelumnya, terdakwa yang tinggal di Perumahan Darmahusada Permai Surabaya, pernah divonis lima bulan penjara oleh hakim PN Surabaya atas kasus serupa.

“Di kasus pertama juga ada kejanggalan, jaksa tidak melakukan kasasi atas putusan PN Surabaya, padahal jauh dari tuntutan mereka, ada apa? Ini juga akan kami laporkan ke Jaksa Agung,” kata Boyamin.

Dia berharap agar majelis hakim pemeriksa perkara, menolak eksepsi yang diajukan terdakwa melalui kuasa hukumnya.

Mengingat kerugian yang ditimbulkan dari perbuatan terdakwa sangat besar, sehingga dikhawatirkan akan merusak sistim investasi dan perekonomian masyarakat.

Baca Juga :  Penipuan Jual Beli Rumah, Notaris Eny Wahyuni Terpojok Pengunjung Bersorak

Untuk diketahui, terdakwa Venansius Niek Widodo didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya melanggar pasal 378 KUHP,  tentang penipuan dan pasal 372 KUHP, tentang penggelapan.

Dijelaskan dalam dakwaan JPU, terdakwa Venansius dilaporkan Tjen Dedi Winata Chandra dan Arief Soeharso.

Mereka melapor atas dugaan penipuan dan penggelapan dana trading nikel. Kemudian sepakat mengucurkan modal trading nikel. Karena tertarik dengan janji keuntungan yang dijanjikan terdakwa sebesar 50 persen dari modal.

Atas perjanjian tersebut, selanjutnya terdakwa memberikan jaminan belasan Bilyet Giro (BG) kepada saksi Tjen Dedi Winata Chandra dan selembar cek kepada saksi Arief Soeharso.

Baca Juga :  Pelatihan Teknis Perkara Tindak Pidana Kekerasan Seksual terhadap Anak

Masalah kemudian timbul setelah para korban kesulitan menghubungi terdakwa untuk menanyakan janji keuntungan yang belum diberikan.

Karena kesulitan dihubungi, selanjutya korban Tjen Dedi Winata Chandra mencairkan jaminan BG yang diberikan terdakwa.

Namun 12 BG yang dijaminkan terdakwa ternyata tidak ada dananya alias blong. Begitu juga dengan cek yang diberikan terdakwa ke saksi Arief Soeharso.

Dalam perkara ini, saksi Tjen Dedi Winata Chandra mengalami kerugian sebesar Rp 42,8 miliar lebih. Sementara saksi Arief Soeharso mengalami kerugian sebesar Rp 27 miliar lebih.

Kerugian tersebut merupakan modal yang diberikan kedua korban pada terdakwa. (pri)

terkait

Polres Magetan Ungkap Pelaku Pembuangan Bayi di Takeran

redaksi

Jual Gado-Gado Sepi, Pasutri Nekad Curi Uang

redaksi

Dua Pelaku Pencurian Barang Elektronik Ditangkap Satreskrim Polres Magetan

redaksi