Manfaatkan Waktu di Masa Pandemi, Dua Srikandi ESTIBA Jadi Juara

oleh
Dua Srikandi ESTIBA pose bersama Kepala ESTIBA Budi Prasetyo SPd

BATU, PETISI.CO –  Dua Srikandi SMP Negeri 03 Batu (ESTIBA), berhasil torehkan prestasinya menyandang juara I dan II dalam lomba Media Pembelajaran Inovatif Berbasis IT, kategori C tingkat SMP se Kota Batu.

Lomba ini dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 76 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), sepekan lalu.

Dewi Rosilia SPd dan Shinta Nurmalasari SPd, dua Srikandi ESTIBA itu patut dibanggakan. Tentunya prestasi ini menambah daftar panjang, juara ESTIBA ditahun 2021.

Dewi Rosilia SPd, yang kerap disapa Rosi ini saat ditemui Petisi.co di sekolahnya menuturkan, multi media pembelajaran tidak hanya satu media, namun ada beberapa media yang ia kirimkan.

“Satu diantaranya, media yang ditonjolkan adalah video pembelajaran. Sama media yang dibuat siswa untuk baca belajar madiri di Blog Spot saya, multi media pembelajaran IPS dengan materi konflik dalam kehidupan sosial,” tuturnya, Kamis (2/12/2021).

Wali kelas VII E ini menambahkan, medianya berupa video pembelajaran sebagai orientasinya. Kemudian siswa belajar mandiri mengunakan Blog Spot yang  diberi judul “Go Blog”.

“Sebenarnya itu media belum dipublikasikan. Saya buat pada tahun 2020 yang lalu, namun media tersebut yang saya kirimkan media yang sudah dipakai oleh siswa atau yang sudah diterapkan untuk siswa sedangkan waktu yang saya butuhkan tidak begitu lama,” ucapannya

Lebih lanjut, apakah ada kendala, dia menjelaskan, karena saat membuatnya diawal tahun 2020 pada saat pandemi, sehingga sedikit dipaksakan untuk bagaimana caranya siswa mereka dapat mendengarkan suara saya, dan melihat wajah saya. Akan tetapi di media saya itu kontekstual, siswa tetap bisa belajar di lingkungan sekitarnya.

“Sebenarnya salah satu kendalanya yaitu, harus mau belajar. Karena video pembelajaran ini baru, sehingga saya belajar autodidak secara mandiri. Banyak meluangkan waktu yang lebih, bagaimana caranya untuk mengedit video dan bagaimana cara mengambil gambar dan meluangkan waktu dan harus sering membuat Go Blog,” jelasnya sembari tersenyum ramah.

Guru muda berjilbab ini menambahkan, awalnya  dia sudah membuat Go Blog ditahun 2019, akan tetapi dikembangkan lagi ditahun 2020, ditambahi dengan bagaimana caranya ngedit templatenya. Ditahun 2020 bagai mana caranya membuat media pembelajaran yang bagus.

“Dengan saya sering mengikuti pelatihan dan webinar, sehingga siswa tidak sekedar diberikan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Diinovasikan dengan cara video orientasinya, siswa dapat belajar mandiri lewat blog pembelajaran saya. Biasanya siswa disuruh melihat video yang bukan gurunya tapi dari orang lain. Lalu bagaimana caranya siswa dapat melihat saya supaya dapat lebih singkron, dari pada melihat video orang lain. Saya paham istilahnya karakteristik siswa, makanya video itu blog pembelajaran juga, untuk kebutuhannya seperti apa materi materinya,” tandas guru muda ini.

Tujuan pembelajaran, siswa dapat paham materi yang disampaikan. Supaya tujuan pembelajaran itu biar tercapai meskipun siswa belajar di rumah, meraka tetap kontekstual.

“Medianya, multi media pembelajaran IPS kelas VIII, materi konflik dalam kehidupan sosial dengan menggunakan multi media pembelajaran. Jadi siswa yang gaya belajarnya suka membaca, gaya belajarnya audio visual, dan visual siswa lebih merespon daripada mengirimkan tugas lewat WA (Whatsapp) group degan tidak ada embel – embelnya jadi lebih tidak menarik,” ujarnya.

Dewi Rosilia SPd dan Shinta Nurmalasari SPd, Srikandi ESTIBA

Sementara, Kepala ESTIBA, Budi Prasetyo SPd menuturkan, dengan dua prestasi gemilang guru luar biasa ini merupakan sosok Srikandi ESTIBA, tentunya dapat memacu, memicu semangat teman – teman guru ESTIBA yang lain untuk terus berinovasi, sehingga dapat meningkatkan layanan kepada siswa.

“Sebenarnya tugas utama kita itu melayani siswa, apabila siswa kebutuhannya dapat terlayani sesuai kebutuhannya mereka akan bahagia, karena mereka dapat belajar dengan semangat. Sehingga kompetensi, karakternya akan tumbuh kembang secara maksimal, dengan semangat tercapailah student building,” tutur guru senior ini, penuh dengan semangat.

Tidak tanggung – tanggung mantan Kepala SMPN 06 ini memaparkan bahwa dari pihak manajemen sekolah, lanjut dia, memberi peluang seluas-luasnya kepada seluruh Bapak / Ibu guru dan tenaga kependidikan untuk berinovasi untuk mengembangkan diri mengikuti berbagai lomba, mengikuti berbagai pelatihan sehingga dari pihak manajemen sekolah siap memfasilitasi.

“Ketika masa PTM (Pendidikan Tatap Muka) terbatas ini, kita tidak bisa memaksakan siswa untuk masuk secara penuh. Namun ketika muncul masalah dari siswa, misalnya tidak masuk sesuai jadwal, tidak menyelesaikan tugas atau pekerjaannya maka kita langsung bekerjasama dengan BK (Bimbingan dan Konseling) dan wali kelas kita lakukan koordinasi dengan orang tua. Bahkan sempat sampai beberapa kali mengundang orang tua, untuk mengklarifikasi apa yang menjadi latar belakang masalahnya siswa itu,” paparnya.

Selain itu, dari pihak sekolah, juga melaksanakan kunjungan ke rumah siswa ketika muncul semacam dianoksisnya bahwa siswa menjadi korban dalam tanda kutip, menjadi korban mungkin dari kondisi di rumah yang tidak kondusif, dan perhatian yang kurang dari orang tua. “Maka kita harus bisa memberikan pelayanan yang manusiawi, cenderung agar siswa di sekolah tidak menjadi korban berikutnya,” ujarnya.

“Sebetulnya dapat dikatakan, banyak siswa kita yang mempunyai masalah kalau dia menjadi korban broken, atau siswa tidak bersama orang tuanya. Kalau seperti itu kita terapkan tata tertib yang kaku, itu namanya mengorbankan siswa lagi. Sehingga mereka harus kita openi dan kita ajak ngomong dengan baik, dan kita berikan arahan – arahan dan itu cenderung lebih baik bahkan hasilnya sangat maksimal dari pada penerapan tatip yang kaku,” tukasnya. (eka)

No More Posts Available.

No more pages to load.