PETISI.CO
OPINI

Membangun Paradigma Toleran di Tengah Keberagaman

Oleh: Najmah Rindu*

Indonesia dikenal negara yang kaya akan keberagaman agama, suku dan budaya. Ribuan pulau berjajar dari Sabang sampai Merauke, dari Kota Weh sampai Kota Merauke. Banyaknya pulau di Indonesia menjadi faktor utama munculnya keberagaman serta penyebab negara dikenal sebagai negara yang majemuk dan plural. Kemajemukan masyarakat menjadikan suatu keistimewaan atau ciri khas tersendiri bagi Bangsa Indonesia.

-->

Keanekaragaman memang sering dikaitkan dengan perbedaan dan sumbu permasalahan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika hadir sebagai acuan dalam mengatasi dan meminimalisir adanya polemik, serta kontroversi yang menguap dalam suatu keberagaman apapun.

Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua, satu kalimat yang cukup untuk mewakili keadaan bangsa Indonesia sekarang ini. Namun, tidak mungkin semua berjalan mulus-mulus saja. Munculnya persoalan serta pertikaian internal yang terjadi, menambah ketidakselarasan antar-masyarakat. Memang kita tidak bisa lari dari permasalahan yang sering terjadi seperti ini.

Dari sekian pertikaian horizontal di Indonesia, faktor keberagaman agama yang paling sering mencuat menghujani topik-topik berita akhir ini. Tampak terlihat dari sebuah kasus di Jakarta, tepatnya di sebuah SMA Negeri  di Jakarta yang sedang viral disorot berbagai media dan khalayak. Seorang guru diduga mengajak para siswanya untuk memilih Ketua OSIS yang seagama.

Tindakan guru tersebut sempat dikritik oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Melalui hasil tangkapan layar pesan singkat pada grup Whatsapp,  sang oknum guru meminta siswanya untuk memilih bakal calon Ketua OSIS yang  seagama dengan alasan guna mempertahankan mayoritas agama itu sendiri.

Berita dan penyebaran hasil tangkapan layar secara cepat beredar di media sosial akibat zaman yang sudah serba cepat dan instan. Guru tersebut banyak menuai kritikan tajam hingga kecaman dari para pemanja media sosial alias netizen. Tidak hanya itu, doxingan pun turut diterima sebagai konsekuensi dari perbuatannya.

Namun, menurut saya doxing sudah menjadi ranah yang cukup jauh, karena mengungkap data pribadi yang seharusnya menjadi privasi orang yang bersangkutan dan sudah diluar jalur etika.

Berkaca pada kasus guru tersebut, menjadi gambaran bahwa toleransi haruslah dijadikan kesadaran murni bagi tiap individu. Guru “digugu lan ditiru”, ungkapan yang sering masuk pada telinga murid-murid pada masa sekolah. Melalui ungkapan tersebut dapat disimpulkan jika guru bagaikan role model bagi siswa-siswanya. Memiliki sikap intoleran seperti yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan tadi haruslah dibuang jauh-jauh.

Pelajar merupakan cikal bakal perubahan dan kemajuan bangsa. Jika sedari dini ditanamkan doktrin-doktrin yang dianggap negatif, kemungkinan masa depan bangsa diyakini akan mengalami kemunduran dan inferioritas mutu.

Sebagai remaja milenial calon pemimpin masa depan, jika menyaksikan dan menemui adanya diskriminasi hingga terjadi keresahan di lingkungan sekolah ataupun di masyarakat, patutlah kita segera melaporkan tindakan tersebut. Jangan hanya menjadi penonton dengan mudah dicekoki hal-hal yang berbau negatif.

Dinas Pendidikan seharusnya segera menggiring jalan keluar dari polemik ini dengan mengadakan pelatihan bagi guru-guru pengajar dimanapun. Program ini bertujuan agar tidak ada lagi kasus-kasus diskriminasi yang melenceng dari prinsip kebhinekaan itu sendiri, serta guna memperkuat nilai-nilai toleransi dan persatuan Bangsa Indonesia di tengah-tengah keberagaman.(#)

*)penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga

terkait

Pilkada di Tengah Pandemi, Berebut Suara atau Bertaruh Nyawa?

redaksi

Komunitas Pers

redaksi

Sistem Pemilihan Umum Multi Partai Versi Indonesia

redaksi