Komisi IX DPR RI: Kuncinya Dimulai dari Isi Piringku
Sidoarjo, petisi.co – Ratusan kader dan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo menghadiri acara sosialisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dilaksanakan di aula SMK Ma’arif, Jalan Raya Ngaban Tanggulangin, Senin (12/5/2025).
Hadir tiga pemateri antara lain Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina Huzaimi Setiawan, Tenaga Ahli Direktorat Kerjasama dan Kemitraan Badan Gizi Nasional Imam Bachtiar Farianto dan Pakar Gizi Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, dokter Mega Yulia Kurniasari, MHKES.

Dalam kesempatan pertama memberikan pemaparan, Arzeti menjelaskan betapa penting menyiapkan generasi mendatang sejak dini. Atas dasar itu pula, ia meyakini Pemerintah sudah jauh hari memikirkan cara mencetak generasi masa depan yang cemerlang. Salah satunya melalui pemberian asupan gizi yang sehat dan berimbang.
“Program MBG yang dicanangkan oleh Presiden kita Bapak Prabowo Subianto merupakan buah pemikiran beliau. Bagaimana secara bersama-sama mempersiapkan generasi emas yang memiliki orientasi kecerdasan cemerlang. Melalui asupan nutrisi sehat, anak-anak Indonesia bisa tumbuh dengan baik dan cerdas,” ulasnya.

Menurut Arzeti, selain bantuan dari pemerintah melalui program MBG, makan gizi berkualitas juga bisa diadakan secara mandiri dilingkup terkecil yakni di lingkungan keluarga. Peran ibu diharapkan menjadi elemen penting dalam menyiapkan gizi bagi tumbuh kembang anak.
“Bicara hidup dan kehidupan tentu relevansinya adalah waktu. Maka peran ibu dalam mengisi waktu untuk masa depan anak, tentu tidak bisa lepas dari upaya menyiapkan gizi berkualitas di rumah sebagai kunci keberhasilan dalam membentuk generasi sehat Indonesia,” tegasnya.
Selain nutrisi sehat, lanjut politisi perempuan asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, makan yang diberikan pada anak juga harus berimbang. Pedomannya mengacu pada pemberian menu 4 sehat 5 sempurna.
“Tentunya ini semua dimulai dari isi piringku, yang terdiri dari Karbohidrat, protein, sayuran dan buah. Itu pemahaman 4 sehat, sedangkan komponen 5 sempurna adalah susu. Namun jika susu tidak ada bisa digantikan dengan kandungan lain, seperti sari kedelai atau yoghurt dan keju, ” rinci Mantan peragawati sekaligus model papan atas Indonesia ini.
Arzeti berpesan agar ibu menjadi leading sektor di rumah dalam menyiapkan asupan bergizi bagi anak-anak. Karena ibu sebagai sumbu utama keberhasilan membentuk fisik dan kecerdasan anak.
“Sentra anak cerdas adalah ibu. Sosok yang biasa menyiapkan makan setiap yg hari di rumah siapa? Ibu. Orang pertama yang memberi suapan makan pada anak balita juga ibu. Jadi ibu adalah harapan pemerintah untuk diajak bersama-sama menyediakan nutrisi yang baik untuk anak,” pesan wanita berhijab yang juga pernah menjadi bintang sinetron dan film serta presenter televisi ini.
Sementara itu, pakar gizi dokter Mega Yulia Kurniasari menyoroti pentingnya gizi sehat berkualitas bagi ibu hamil. Menurutnya saat ini masih banyak ibu hamil yang kurang memahami makanan sehat bernutrisi seimbang. Sehingga perlu gencar dilakukan sosialisasi terkait MBG.
“Edukasi bagi masyarakat khususnya ibu-ibunya Muslimat penting kita lakukan secara terus menerus, agar pesan ini bisa disampaikan secara berantai atau estafet kepada ibu hamil. Dengan begitu program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah bisa dipahami. Utamanya 4 sehat 5 sempurna,” tutur Mega.
Lebih jauh, ia menerangkan asupan gizi bagi anak, bisa dimulai dari sejak bayi dalam kandungan hingga usia menyusui. Karenanya ibu hamil maupun ibu menyusui wajib memperhatikan setiap asupan makanan yang masuk dalam tubuh.
“MBG tidak hanya ditujukan bagi kalangan anak usia sekolah saja. Namun sasaran ibu yang tengah mengandung maupun menyusui juga perlu untuk diperhatikan,” kata dia.
Mega menegaskan calon bayi sehat hingga anak bisa tumbuh kembang sempurna, cerdas dan mandiri. Bukan semata dari faktor banyak atau kurangnya makanan yang diterima tubuh. Namun lebih disebabkan pada pola keseimbangan gizi dan nutrisi sehat yang sering kali diabaikan.
“Dalam beberapa kasus anak stunting, tidak selamanya berasal dari keluarga kurang mampu. Namun banyak juga yang ditemukan di kalangan menengah ke atas,” ungkapnya.
Mega menggarisbawahi Inti persoalan anak stunting terletak pada pilihan merancang pola makan. Jika penyajian menu nutrisi tepat, maka anak bisa tumbuh sehat.
“Berkembang di tengah masyarakat, anak diberi makan seadanya. Itu yang salah dan banyak terjadi. Sehingga anak mengalami malnutrisi. Maka itu yang harus dicegah. Pola asuh yang salah arah harus disadarkan. Sehingga anak bisa mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang,” pungkasnya. (luk)





