Petisi
Butet (tengah) bersama Arif dan Nugroho saat memberikan keterangan pers.
SENI

Ngopibareng Gandeng Teater Gandrik Gelar Teater “Para Pensiunan”  

SURABAYA, PETISI.CO – Ngopibareng bekerja sama dengan Teater Gandrik menggelar teater “Para Pensiunan” di Ciputra Hall Surabaya, 6-7 Desember 2019. Pementasan teater Gandrik ini untuk mengobati rasa kangen komunitas teater di Surabaya dan daerah sekitarnya.

Perwakilan Ngopibareng, Arif Affandi mengatakan Surabaya dari dulu dikenal sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan. Karena itu, pihaknya ingin menghidupkan kembali ruh Surabaya sebagai kota seni dan budaya, sehingga nantinya muncul tokoh dan karya-karya seni yang berkualitas dari Surabaya.

“Pementasan teater Gandrik di Surabaya ini, sekaligus ntuk mengobati rasa kangen komunitas teater di Surabaya dan daerah sekitarnya untuk melihat langsung performing arts dari Butet Kartarejasa dan kawan-kawan,” ujarnya kepada wartawan di Suranaya, Kamis (5/12/2019).

Arif mengakui jika pementasan teater di Kota Pahlawan masih sering terkendala oleh lokasi atau tempat. Ini karena Surabaya belum memiliki gedung yang reprsentatif untuk pementaasan kesenian maupun teater.

Lokasi yang selama ini menjadi rujukan pementasan teater di Surabaya hanya ada dua yakni Gedung Cak Durasim yang berkapasitas 400 orang dan Balai Pemuda Surabaya yang kerap akustik jika ada hujan maupun suara kendaraan yang lalu-lalang.

“Sudah saatnya Tri Rismaharini setelah sukses menata kota juga memikirkan budaya dan kesenian, paling tidak ada tempat yang standart untuk penampilan kesenian dan kebudayaan,” tutur panitia pelaksana Teater Gandrik Sambang Suroboyo ini.

Panita menargetkan 1000-1500 penonton dalam pementasan selama dua hari. Mengingat, kapasitas Ciputra Hall hanya 710 seat atau tempat duduk. Sedangkan untuk harga tiket, bervariasi yakni platinum senilai Rp 1 juta, gold Rp 750 ribu, silver Rp 500 ribu dan brown 250 ribu.

“Kami memang nekad menggelar pementasan ini karena semangat ingin menghidupkan lagi kesenian dan kebudayaan di Surabaya. Alhamdulillah dengan sistem keroyokan dan gotong-royong bisa terwujud,” jelasnya.

Butet Kartarejasa menambahkan punggawa teater Gandrik saat ini, tinggal 5 orang dari yang semula berumlah 9 orang. Namun, pihaknya sudah melakukan regenerasi sehingga dalam pementasan besok melibatkan sekitar 20 orang.

“Pasti ada suasana ganjil karena kami baru saja ditinggal Mas Jaduk. Tapi kami yakin ada berkah terselubung sehingga harus main sebaik-baiknya dengan durasi kisaran 2,5 jam,” jelas monolog kondang asal Jogyakarta.

Di tempat yang sama, sutradara Susilo Nugroho menambahkan bahwa tema yang akan dibawakan dalam pementasan nanti adalah Para Pensiunan. Alur cerita berasarkan naskah jadi yang ditulis oleh Agus Noor yakni seputar masalah korupsi dan pemimpin Indonesia paska tahun 2024.

“Kami ini kumpulan orang goblok yang sok pinter menganalisis sesuatu tanpa data hingga hanya angan-angan saja. Ide itu kami bayangan bahwa korupsi di negeri ini tak akan hilang walaupun pemimpin Indonesia kedepan itu baik-baik sehingga mereka akan mengambil langkah ekstrem untuk mengatasi masalah korupsi,” jelasnya. (bm)

terkait

Wabup Jombang Buka Lomba Kirab dan Marching Band 2018

redaksi

Gelar Lomba Menyanyi Mars Sijunjung

redaksi

Festival Anak Soleh 2018 Desa Pesanggrahan Berlangsung Meriah

redaksi