Puluhan Hektare Tembakau Mati, Kades Wringentelu Jember Minta Perbaikan Tata Air dan Jembatan

oleh -392 Dilihat
oleh
Dua petani menunjukkan tiang jembatan dan sampah yang menumpuk

Jember, petisi.co – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan selatan Kabupaten Jember dalam sepekan terakhir, kembali memunculkan masalah bagi petani. Banjir menenggelamkan puluhan hektar lahan pertanian tembakau. Di Desa Wringintelu, Kecamatan Puger, sedikitnya 30 hektare tanaman tembakau jenis Naa Oogst mati terendam air, sebagian besar di antaranya sudah mendekati masa panen.

Dampaknya bukan sekadar gagal panen, bagi petani penyewa lahan, kerugian menjadi berlipat karena biaya tanam, sewa, dan perawatan yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang tak pernah tiba.

Petani menunjukkan tanaman tembakau yang layu akibat banjir

“Padahal tinggal menunggu. Sekitar 10 hari lagi sudah panen. Tapi semua layu dan mati,” ujar Prayitno, salah satu petani di Dusun Pakem, Senin (3/11/2025).

Musibah ini bukan pertama kali. Pada musim tanam tahun lalu, banjir juga merendam area yang sama. Upaya petani menanam ulang tidaklah mungkin karena modal sudah habis.

Mohammad Solihin, Kepala Desa Wringintelu membenarkan kondisi itu. Dari total areal persawahan di desanya, sekitar 40 persen terdampak banjir, terutama di wilayah Dusun Pakem.

“Sebagian besar petani yang menanam tembakau di sini berasal dari luar desa seperti Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Mereka menyewa lahan di sini, tapi banyak yang gagal panen. Warga sini juga ada, tapi tidak banyak,” ujarnya.

Solihin menilai, penyebab utama bukan semata curah hujan, melainkan buruknya sistem tata air. Dam Suplesi Bago, yang selama ini berfungsi mengatur aliran air dari hulu ke lahan pertanian, disebut sudah tidak bekerja optimal.

“Sama halnya di Bok 17 itu, yang mana ditengah jembatan ada tiang penyangga  justru itu sangat mengganggu kelancaran air, apalagi banyak sampah bambu yang menyangkut ditiang itu,”jelasnya.

Lanjut Kepala Desa Solihin, akibatnya air meluap tanpa kendali saat debit meningkat, sementara saat musim kemarau petani justru kekurangan pasokan.

“Kami sudah berkali-kali mengajukan perbaikan, tapi belum ada tindak lanjut,” katanya.

Ia membandingkan dengan Dam Sepedo yang dilengkapi sistem buka-tutup pintu air, sehingga mampu menyesuaikan debit dan mencegah genangan di lahan pertanian.

Solihin berharap, pemerintah daerah maupun provinsi hingga pusat, segeralah melakukan perbaikan infrastruktur jembatan bok 17 juga irigasi sebagai prioritas.

Sebab, tanpa sistem tata air yang adaptif terhadap perubahan iklim, bencana agraris seperti ini akan terus berulang.

Terlebih, Jember merupakan salah satu sentra utama penghasil tembakau cerutu di Indonesia, terutama jenis Naa Oogst yang menjadi komoditas unggulan ekspor. Kerusakan lahan di kawasan selatan bukan hanya menggerus pendapatan petani, tapi juga berpotensi menekan rantai pasok industri tersebut. (zai)