Puluhan Nelayan Penerima Perumahan di Puger Protes

oleh
Nelayan yang melakukan aksi protes.

Ditelantarkan Pengembang, Bingung Ngadu ke Mana

JEMBER, PETISI.CO – Tak kunjungan ada penyelesaian permasalahan yang membelit para nelayan penerima perumahan LC di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, puluhan perwakilan nelayan Kamis (9/2/2017) siang mendatangi Kantor Kecamatan Puger untuk mengadukan nasibnya.

Mereka juga menanyakan, bagaimana seharusnya langkah yang mereka tempuh agar perumahan yang terbengkalai sekitar 8 tahun tersebut cepat diselesaikan oleh pengembang ataupun pihak pihak yang terkait.

Sunardi (37),  warga Puger Kulon, Kecamatan Puger yang juga sebagai penerima perumahan nelayan saat dikonfirmasi awak media mengaku sangat prihatin dengan ketidakberesan perumahan yang seharusnya sudah bisa ditempati ratusan orang di  pinggir pantai sebelah selatan, tepatnya di kawasan Pancer, yang hingga kini masih terkatung-katung dan rusak.

“Saya sangat prihatin, hingga kini sampai rumah rusak permasalahan tak kunjung selesai, seharusnya ratusan nelayan sudah bisa menempati. Bayangkan, 8 tahun sudah tak kelar-kelar, kemana lagi kami harus mengadu ” ungkapnya.

Sementara itu, Sukirman, Sekretaris Kecamatan Puger yang menemui para nelayan mengatakan, terkait dengan keluhan masyarakat menyarankan agar warga membuat surat dan bukti-bukti yang menguatkan yang nanti akan disampaikan ke bupati.

“Agar permasalahan yang membelit ini lekas terselesaikan, kami menyarankan kepada para nelayan untuk membuat surat yang dilengkapi dengan bukti-bukti,” pungkasnya.

Bukan hanya itu, dalam pertemuan tersebut para penerima manfaat juga (nelayan,red) menceritakan apa yang terjadi hingga kini terhadap dirinya, dan perihal permasalahan yang menyangkut sertifikat yang sudah jadi, namun yang hingga kini belum diberikan oleh pihak pengembang.

Bahkan para nelayan menemukan sekitar 2 sertifikat perumahan yang sudah diagunkan di salah satu bank di Jember. Lebih ironis yang mengagunkan bukan penerima sertifikat alias orang lain (bukan penerima manfaat) dengan nilai nominal Ro 20 juta.

“Rumah tidak jadi, sertifikat hilang, kami mau ke mana berkeluh kesah,” ujar salah satu warga pemilik perumahan bernama Ponijan (67), asal Puger Kulon.(yud)